Rabu, 30 November 2011

JENJANG SEDIH


pada akarakar yang membayang ketika senja usai
kau hadirkan luka yang dulu pernah aku simpan
di batasbatas yang selalu aku tepis bersama air mata yang mengalir

pada yang kusebut adalah cermin
memandang luka bagai luka yang tak hilang
Erite, 
lelahku tak sejenjang kesedihanku tempo hari
tak sebesar kecewaku pada angan yang selalu menakuti
seolah ingin pergi namun sulit tak kembali

pada usiausia yang semakin memudar
kau tampak legam memandikan semua tubuh yang kupunya
mencari sisa luka di batasbatas yang sama
mencairkan segala air serupa bahagia yang tak setara


2011

Sabtu, 26 November 2011

SEMUA PURA-PURA !

tak seperti hujan yang biasa
aku ada di antara hitam cakra dan mega yang angkuh
kau pun lari membawa segala isak dan amarahku
ketika hujan menuangkan segala peri di hidupku
ah,
yang kupercaya sekarang hanyalah Tuhan
karena kawan pun ternyata serigala

aku tau, jarak dan kepercayaan haruslah imbang
jika tidak, maka kehancuran akan membayang
seperti juga aku pada segala yang menipuku
yang menertawakanku, bahkan yang sengaja menikamku
aku benci semua yang mengelilingiku dengan pura
dengan wajah yang tak baik
penuh rupa dusta yang menjijikkan

ah,
yang aku tunggu sekarang hanyalah waktu
karena semua akan menimangku dengan kepura-puraan !




Serang, 26 November 2011





Kamis, 24 November 2011

Luruh di Bulan Oktober

oleh Mauliediyaa Yassin pada 22 Oktober 2011 jam 22:01

SATU MALAM, KETIKA KEMBALI DI TITIK GELISAH

...
Backsound malam ini 'Rindu' y Agnes Monica, dengan suasana kamar temaram tanpa mencekam. Samping kananku novel Lolita karangan Vladimir Nabokov yg belum habis aku lahap. Samping kiriku novel GSDJ, yg pengarangnya sedang booming di kalangan mahasiswa diksatrasia untirta semester 3, Dia seniorku di Kubah Budaya. Di atas novel itu ada buku 'Menjawab Injil Yudas' yg sering sekali mengingatkan aku, bahwa Isa tidak pernah mati di kayu salib> Yesus tidaklah mengalami penderitaan di kayu salib.

Aku berada di antara bantal bantal yg sudah sekian kali menyaksikan impian dan mimpi mimpiku yg terlanjur hilang.
Aku ada di antara artikel artikel lama yg sengaja aku pajang di dinding kamar. Aku ada di antara piagam penghargaan 'pembacaan puisi Hana Fransisca' dan kartu peserta PSIK-Indonesia yang entah kesemuanya enggan aku rapikan di rak buku atau di lemari koran yg acak kadut bercampur dengan koleksi tas ku yg tidak begitu banyak.
Aku mencintai suasana kamar, meski kadang sepi menggelayuti dan membuat aku begah, tapi kamar buat aku adalah ruang dari segala ruang yang memberikan aku sesuatu. Di kamar, aku mulai memahami jari dan fungsinya. Di sinilah aku mengerti bahwa sudah banyak yang aku sia siakan tanpa "jariku". Aku mengingat banyak hal di ruangan ini. Aku merasa memiliki dua kepribadian ganda ketika lama membenturkan pikiranku di ruangan yang bercat ungu, merah muda, biru dan kuning ini. Seakan akan aku mampu berenang di hamparan samudra yang menyimpan banyak khayalan tentang putri duyung yang aduhai. Seakan akan aku mampu menjangkau dunia dengan kornea yang hampir tenggelam bersama pemandangan masa lalu yang menderitkan segala tanya. Aku yakin, bahwa hidup ada di antara harapan dan kenyataan. Lantas inilah yang aku lahirkan, kegelisahan sepanjang masa yang membekamku dengan berbagai suasana.

Sebab kegagalan adalah hantu hidup yang sering kali dibicarakan sebagai bahan menakut-nakuti seseorang, maka kegagalan akan abadi dipikiran yang begitu. Seluruh hasil yang memang belum tampak pun akhirnya dikatakan gagal dan tak akan memiliki keberhasilan yang luar biasa. Sebab mereka sudah terdoktrin 'gagal', maka aku pun harus menuai keterdoktrinan yang sama. Aku hampir dibuatnya tanpa hati, tanpa perasaan, aku diatur, aku diguncang. Aku hilang penimbang, aku larut ditambang. Putus leher asaku yang selama ini aku rajut, aku benahi dengan sekuat tenaga, aku yakini dengan segala keyakinan yang aku punya. Tapi malam ini, ketika hujan tidak jadi mengguyur hati, semuanya terberai dengan cepat. Tanpa aku nikmati keterberaiannya itu. Tanpa aku rasakan dengan khusyu' semua aturan itu.

Aturan dibuat, untuk dilanggar. Yaa, aku menyepakati itu. Tapi ini berbeda. Ketika aku melanggar semuanya, akan banyak lagi yang terberai. Akan banyak yang dipertaruhkan. Akan banyak hati yang kemudian hancur menjadi kepingan kepingan sia yang memang percuma. Aku terlanjur lahir, aku terlanjur menapaki dunia yang sungguh tak pernah aku kenal dengan baik.
Malam ini, aku seperti kembali di kegelisahan yang hampir aku lupa. Kegelisahan yang selalu ingin memainkan jari jariku pada kertas buram atau keypad hp yang menyeka gelisah dengan kenyataan hidup yang ternyata belum tuntas dengan harapan yang banyak. Aku kembali malam ini, menyusuri adegan demi adegan. Mencari khayalan dan kenyataan yang sama bejatnya. Mengecup dan mendekap sekian rasa yang tertumpah bersama air mata, menikmati setiap butirnya yang menelan kepahitan di ujung batang hidung yang lantas menuruni pinggir bibir, meretas asin mengalir di daguku, menyentuh haus lelah leherku dengan keajaiban yang lama akau damba.
Malam ini aku kembali meyakini bahwa aku sama dengan Yesus, tidaklah mengalami penderitaan di kayu salib, aku tidak akan menderita di atas aturan aturan orang banyak. Aku mampu menyelesaikan hidupku, menuntaskan harapan dan kenyataan yang sudah Tuhan saji untukku di malam malam berikutnya.


: luruh bersama tangis oktober.

DI HARMONI AKU MENGENANG KALIAN

oleh Mauliediyaa Yassin pada 27 Juli 2011 jam 10:40

Pada gugusan yang terhampar di Harmoni
...

Sejak aku menduakan mata pada yang terlihat, sejak itulah aku tumbuh dewasa mengerat dunia dan klasik kisahnya yang membumi. Aku coba merangkai air mata yang diteteskan Tuhan, hingga pada ketajaman hati yang diasah oleh Tuhan di diriku. Aku rangkai terus hingga membentuk ragawi yang kian terlihat kuyu.
Kini kehidupanku bukan lagi yang tertanam, tapi harus aku tanam mulai dari bibit yang menjijikkan hingga tumbuh subur menjadi pohon yang mengakar tegar.
Dari sanalah aku berangkat, dan di sanalah aku harus pulang.
***

Mengingat kebersamaan di Andara Resort bersama kawan-kawan baruku, rasanya seperti memberi pupuk sembarang yang menyuburkan. Aku mengenal Melani Budianta (Guru Besar Sastra UI) yang akrab sekali dengan kami waktu itu. Aku bertemu dengan penyair Kuda Ranjang (Binhad Nurrohmat), si necis yang selalu nyentrik ke mana pun dia pergi menjajakan sajak-sajaknya. Aku berhadapan dengan Kang Abbas Jauhari, M.Si yang juga ternyata lama hidup di kota Cilegon-Banten, dan masih banyak lagi pembicara-pembicara hebat yang peduli pada perkembangan Indonesia yang mulai banyak bagiannya dilupakan oleh regenerasinya sendiri.
Selain pembicara-pembicara hebat itu, aku juga mengenal kawan-kawan baruku dari berbagai kampus. Aku mengenal Wa Ode Nuriyanti, gadis cantik keturunan bangsawan yang lahir di Malaysia dan besar di Kendari-Sulawesi Tenggara. Ada juga Munasir, si pencair suasana yang aku panggil kaka'Nasir. Kawannya juga dari Kendari Laode M. Syamsul yang pendiam tapi sangat hangat obrolannya. Mereka bertiga delegasi JDAK-PSIK Indonesia dari Kendari.
Dari bumi bagian lain yang juga nantinya akan tetap menguatkan aku menjadi pohon yang tak tumbang, aku mengenal mbak Nury Nur'aini, mbak Nurma yang nyenyes (kata maya.hhaa), dan mas Jampit Pamungkas, aktifis STAIN Surakarta yang banyak menyita perhatianku. mereka delegasi dari kota Solo.
Dari sanalah aku berangkat, dan di sana pula lah aku harus pulang. seperti yang sudah-sudah, aku ingin terus memupuki diriku dengan semua pupuk yang berkualitas dan terjaga kearifan menegarkan akarnya yang hampir kering dan lapuk.
***

Aku melintasi pemikiran-pemikiran yang belum aku jamah di awal-awal aku 'hidup'. Dan sekarang, aku harus bisa menuntaskan apa yang sudah aku mulai, yang sudah aku pupuk.
Di acara Jaringan Demokrasi Antar Kampus itu, aku bertemu dengan kawan satu daerah. Namanya Euis Puspitasari, ia kuliah di La Tansa Mashiro- Rangkas Bitung, Banten. Ada juga kang Asep Sholahuddin, lelaki keturunan Betawi tulen yang kuliah di UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat-Tangerang Selatan. aku senang bisa bertemu dan sedikit berbincang bersama kawan-kawan baruku yang sangat cerdas itu.
Tidak hanya itu, Kalimantan Timur juga mengirimkan 3 delegasinya. Ada ka'Romi Ziatul Fadlan dari Universitas Mulawarman. Ia juga sempat menarik perhatianku, dari cara dia berbicara, tingkah lakunya yang calm, dia juga terlihat sangat kritis, aktifis dia itu. haa
Yang paling menonjol dari delegasi Kaltim ini juga ada ka'Albert si kepala suku Dayak (hhee). Keras sih terlihat dari mukanya, tapi dia super duper baik dan suka menyanyi ternyata, beda dengan Ivan Munif Fajriawan, dia cool man yang memang pendiam, tapi suka humor juga kakak satu itu.
Bagai terhempas di pasiran dunia yang tak mungkin, aku mengenal mereka dengan jarak yang sepertinya membuat akarku semakin mengurat keras.

***
Beralih ke delegasi dari Jakarta. Aku bertemu dengan Febriyanti Ayudya dari Universitas Paramadina. Dia perempuan aktif yang juga tergabung di PSIK-Paramadina, Jakarta. Ada juga Annisa Sathila Kusumaningtyas, mahasiswa semester 3 dari Universitas Nasional. Dari Universitas Indonesia, ada Ibnu Budiman, lelaki keturunan darah Minang yang sangat bersahabat. Mereka semua aktif di acara tersebut.
Dari kota mpek-mpek, Palembang, ada Maya Novita Sari yang sangat suple dan suka juga berpuisi. Ada ka'Wawan Triyanto yang suka ngeceng dan ramai sekali kakak satu itu, beda dengan ka'Alip Dian Pratama, dia lelaki dewasa dengan pembawaan dirinya yang mengayomi dan rupanya dia juga suka menyanyi.
Kami semua suka berdendang, melepas biji-biji yang membuat penat.
***

Universitas Lampung mengirimkan 1 delegasinya, Doddy Dwi Wijaya, mahasiswa yang aktif mengurusi lahan konflik di Lampung, aku memanggilnya abang Idood. Ada juga Stefanie Celiana dan Siti Mutmainah yang akrab aku panggil bunda Aster (nama kamar villa yang aku dan beberapa kawan tempati selama di Andara Resort).
dari kesemuanya, mampu memberikan kesan mendalam dan mampu memupuki aku dengan cara-cara yang luar biasa yang sudah digariskan Tuhan pada setiap sisi cabangku yang akan terus melangit hingga akan tembus ke lapisan yang terakhir.
Dari Bandung, ada ka' Kurniawan dari Universitas Pendidikan Indonesia. Dia juga sama seperti aku, mahasiswa sastra yang berkecimpung juga di dunia literasi yang juga membahas tentang seni tulis dan sebagainya. Ada juga si eneng mojang Bandung dari Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) yang aktif bergerak di dunia sosial yang memang sangat membutuhkan pemuda-pemuda semangat macam neng Intan ini. Delegasi terakhir dari Bandung yaitu ka'Rangga, lelaki berkaca mata yang calm man, pendiam sekali aku lihat. Tapi mereka semua adalah tunas yang harus dijaga kesuburannya, semangat diskusinya, kecerdasan dan kematangan pikirannya, serta pola mengasihi dan keakrabannya yang juga harus tetap dijaga. Sama seperti kehampiran di setiap tubuhku. Ketumbangan nalarku, harus diperkuat dengan wawasan baru yang ternyata mampu membuka paradigma menjadi mahasiswa aktif.
dari sana lah aku berangkat, dan di sana lah aku harus pulang.

***
Mengenal mereka yang mengajarkan keakraban dan makna persahabatan. thank's to
: Ka'Hiton, mas Henry, Ka'Guswin (si maniak jengkol.hmm), Ka'Rozi, Evi, mega, Ka'Fei, dan semua yang terlibat di PSIK Indonesia.
Aku sempat mengumpat begini setelah aku turun di Terminal Rambutan tempo hari,"PSIK jahat! Sudah mempertemukan kami, tapi membuat kami jauh kembali"
tapi ada hal lain yang menguatkan itu,"Dari sana lah aku berangkat, dan di sana pula lah aku harus pulang!"
beruntung aku sempat mengikuti acara itu, walau awalnya agak menjenuhkan, tapi aku selalu senang memiliki teman-teman cerdas yang semangat, yang sudah menjatuhkan air mataku di Rambutan.hhahaa

Kenang-mengenang di 18-21 Juli 2011..
merindukan kalian saat ini, di kostn yang sepi di tepi kali, di pinggiran Harmoni, Jakarta Pusat.