Pada gugusan yang terhampar di Harmoni
...
Sejak aku menduakan mata pada yang terlihat, sejak itulah aku tumbuh dewasa mengerat dunia dan klasik kisahnya yang membumi. Aku coba merangkai air mata yang diteteskan Tuhan, hingga pada ketajaman hati yang diasah oleh Tuhan di diriku. Aku rangkai terus hingga membentuk ragawi yang kian terlihat kuyu.
Kini kehidupanku bukan lagi yang tertanam, tapi harus aku tanam mulai dari bibit yang menjijikkan hingga tumbuh subur menjadi pohon yang mengakar tegar.
Dari sanalah aku berangkat, dan di sanalah aku harus pulang.
***
Mengingat kebersamaan di Andara Resort bersama kawan-kawan baruku, rasanya seperti memberi pupuk sembarang yang menyuburkan. Aku mengenal Melani Budianta (Guru Besar Sastra UI) yang akrab sekali dengan kami waktu itu. Aku bertemu dengan penyair Kuda Ranjang (Binhad Nurrohmat), si necis yang selalu nyentrik ke mana pun dia pergi menjajakan sajak-sajaknya. Aku berhadapan dengan Kang Abbas Jauhari, M.Si yang juga ternyata lama hidup di kota Cilegon-Banten, dan masih banyak lagi pembicara-pembicara hebat yang peduli pada perkembangan Indonesia yang mulai banyak bagiannya dilupakan oleh regenerasinya sendiri.
Selain pembicara-pembicara hebat itu, aku juga mengenal kawan-kawan baruku dari berbagai kampus. Aku mengenal Wa Ode Nuriyanti, gadis cantik keturunan bangsawan yang lahir di Malaysia dan besar di Kendari-Sulawesi Tenggara. Ada juga Munasir, si pencair suasana yang aku panggil kaka'Nasir. Kawannya juga dari Kendari Laode M. Syamsul yang pendiam tapi sangat hangat obrolannya. Mereka bertiga delegasi JDAK-PSIK Indonesia dari Kendari.
Dari bumi bagian lain yang juga nantinya akan tetap menguatkan aku menjadi pohon yang tak tumbang, aku mengenal mbak Nury Nur'aini, mbak Nurma yang nyenyes (kata maya.hhaa), dan mas Jampit Pamungkas, aktifis STAIN Surakarta yang banyak menyita perhatianku. mereka delegasi dari kota Solo.
Dari sanalah aku berangkat, dan di sana pula lah aku harus pulang. seperti yang sudah-sudah, aku ingin terus memupuki diriku dengan semua pupuk yang berkualitas dan terjaga kearifan menegarkan akarnya yang hampir kering dan lapuk.
***
Aku melintasi pemikiran-pemikiran yang belum aku jamah di awal-awal aku 'hidup'. Dan sekarang, aku harus bisa menuntaskan apa yang sudah aku mulai, yang sudah aku pupuk.
Di acara Jaringan Demokrasi Antar Kampus itu, aku bertemu dengan kawan satu daerah. Namanya Euis Puspitasari, ia kuliah di La Tansa Mashiro- Rangkas Bitung, Banten. Ada juga kang Asep Sholahuddin, lelaki keturunan Betawi tulen yang kuliah di UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat-Tangerang Selatan. aku senang bisa bertemu dan sedikit berbincang bersama kawan-kawan baruku yang sangat cerdas itu.
Tidak hanya itu, Kalimantan Timur juga mengirimkan 3 delegasinya. Ada ka'Romi Ziatul Fadlan dari Universitas Mulawarman. Ia juga sempat menarik perhatianku, dari cara dia berbicara, tingkah lakunya yang calm, dia juga terlihat sangat kritis, aktifis dia itu. haa
Yang paling menonjol dari delegasi Kaltim ini juga ada ka'Albert si kepala suku Dayak (hhee). Keras sih terlihat dari mukanya, tapi dia super duper baik dan suka menyanyi ternyata, beda dengan Ivan Munif Fajriawan, dia cool man yang memang pendiam, tapi suka humor juga kakak satu itu.
Bagai terhempas di pasiran dunia yang tak mungkin, aku mengenal mereka dengan jarak yang sepertinya membuat akarku semakin mengurat keras.
***
Beralih ke delegasi dari Jakarta. Aku bertemu dengan Febriyanti Ayudya dari Universitas Paramadina. Dia perempuan aktif yang juga tergabung di PSIK-Paramadina, Jakarta. Ada juga Annisa Sathila Kusumaningtyas, mahasiswa semester 3 dari Universitas Nasional. Dari Universitas Indonesia, ada Ibnu Budiman, lelaki keturunan darah Minang yang sangat bersahabat. Mereka semua aktif di acara tersebut.
Dari kota mpek-mpek, Palembang, ada Maya Novita Sari yang sangat suple dan suka juga berpuisi. Ada ka'Wawan Triyanto yang suka ngeceng dan ramai sekali kakak satu itu, beda dengan ka'Alip Dian Pratama, dia lelaki dewasa dengan pembawaan dirinya yang mengayomi dan rupanya dia juga suka menyanyi.
Kami semua suka berdendang, melepas biji-biji yang membuat penat.
***
Universitas Lampung mengirimkan 1 delegasinya, Doddy Dwi Wijaya, mahasiswa yang aktif mengurusi lahan konflik di Lampung, aku memanggilnya abang Idood. Ada juga Stefanie Celiana dan Siti Mutmainah yang akrab aku panggil bunda Aster (nama kamar villa yang aku dan beberapa kawan tempati selama di Andara Resort).
dari kesemuanya, mampu memberikan kesan mendalam dan mampu memupuki aku dengan cara-cara yang luar biasa yang sudah digariskan Tuhan pada setiap sisi cabangku yang akan terus melangit hingga akan tembus ke lapisan yang terakhir.
Dari Bandung, ada ka' Kurniawan dari Universitas Pendidikan Indonesia. Dia juga sama seperti aku, mahasiswa sastra yang berkecimpung juga di dunia literasi yang juga membahas tentang seni tulis dan sebagainya. Ada juga si eneng mojang Bandung dari Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) yang aktif bergerak di dunia sosial yang memang sangat membutuhkan pemuda-pemuda semangat macam neng Intan ini. Delegasi terakhir dari Bandung yaitu ka'Rangga, lelaki berkaca mata yang calm man, pendiam sekali aku lihat. Tapi mereka semua adalah tunas yang harus dijaga kesuburannya, semangat diskusinya, kecerdasan dan kematangan pikirannya, serta pola mengasihi dan keakrabannya yang juga harus tetap dijaga. Sama seperti kehampiran di setiap tubuhku. Ketumbangan nalarku, harus diperkuat dengan wawasan baru yang ternyata mampu membuka paradigma menjadi mahasiswa aktif.
dari sana lah aku berangkat, dan di sana lah aku harus pulang.
***
Mengenal mereka yang mengajarkan keakraban dan makna persahabatan. thank's to
: Ka'Hiton, mas Henry, Ka'Guswin (si maniak jengkol.hmm), Ka'Rozi, Evi, mega, Ka'Fei, dan semua yang terlibat di PSIK Indonesia.
Aku sempat mengumpat begini setelah aku turun di Terminal Rambutan tempo hari,"PSIK jahat! Sudah mempertemukan kami, tapi membuat kami jauh kembali"
tapi ada hal lain yang menguatkan itu,"Dari sana lah aku berangkat, dan di sana pula lah aku harus pulang!"
beruntung aku sempat mengikuti acara itu, walau awalnya agak menjenuhkan, tapi aku selalu senang memiliki teman-teman cerdas yang semangat, yang sudah menjatuhkan air mataku di Rambutan.hhahaa
Kenang-mengenang di 18-21 Juli 2011..
merindukan kalian saat ini, di kostn yang sepi di tepi kali, di pinggiran Harmoni, Jakarta Pusat.