oleh Mauliediyaa Yassin pada 22 Oktober 2011 jam 22:01
SATU MALAM, KETIKA KEMBALI DI TITIK GELISAH
...
Backsound malam ini 'Rindu' y Agnes Monica, dengan suasana kamar temaram tanpa mencekam. Samping kananku novel Lolita karangan Vladimir Nabokov yg belum habis aku lahap. Samping kiriku novel GSDJ, yg pengarangnya sedang booming di kalangan mahasiswa diksatrasia untirta semester 3, Dia seniorku di Kubah Budaya. Di atas novel itu ada buku 'Menjawab Injil Yudas' yg sering sekali mengingatkan aku, bahwa Isa tidak pernah mati di kayu salib> Yesus tidaklah mengalami penderitaan di kayu salib.
Aku berada di antara bantal bantal yg sudah sekian kali menyaksikan impian dan mimpi mimpiku yg terlanjur hilang.
Aku ada di antara artikel artikel lama yg sengaja aku pajang di dinding kamar. Aku ada di antara piagam penghargaan 'pembacaan puisi Hana Fransisca' dan kartu peserta PSIK-Indonesia yang entah kesemuanya enggan aku rapikan di rak buku atau di lemari koran yg acak kadut bercampur dengan koleksi tas ku yg tidak begitu banyak.
Aku mencintai suasana kamar, meski kadang sepi menggelayuti dan membuat aku begah, tapi kamar buat aku adalah ruang dari segala ruang yang memberikan aku sesuatu. Di kamar, aku mulai memahami jari dan fungsinya. Di sinilah aku mengerti bahwa sudah banyak yang aku sia siakan tanpa "jariku". Aku mengingat banyak hal di ruangan ini. Aku merasa memiliki dua kepribadian ganda ketika lama membenturkan pikiranku di ruangan yang bercat ungu, merah muda, biru dan kuning ini. Seakan akan aku mampu berenang di hamparan samudra yang menyimpan banyak khayalan tentang putri duyung yang aduhai. Seakan akan aku mampu menjangkau dunia dengan kornea yang hampir tenggelam bersama pemandangan masa lalu yang menderitkan segala tanya. Aku yakin, bahwa hidup ada di antara harapan dan kenyataan. Lantas inilah yang aku lahirkan, kegelisahan sepanjang masa yang membekamku dengan berbagai suasana.
Sebab kegagalan adalah hantu hidup yang sering kali dibicarakan sebagai bahan menakut-nakuti seseorang, maka kegagalan akan abadi dipikiran yang begitu. Seluruh hasil yang memang belum tampak pun akhirnya dikatakan gagal dan tak akan memiliki keberhasilan yang luar biasa. Sebab mereka sudah terdoktrin 'gagal', maka aku pun harus menuai keterdoktrinan yang sama. Aku hampir dibuatnya tanpa hati, tanpa perasaan, aku diatur, aku diguncang. Aku hilang penimbang, aku larut ditambang. Putus leher asaku yang selama ini aku rajut, aku benahi dengan sekuat tenaga, aku yakini dengan segala keyakinan yang aku punya. Tapi malam ini, ketika hujan tidak jadi mengguyur hati, semuanya terberai dengan cepat. Tanpa aku nikmati keterberaiannya itu. Tanpa aku rasakan dengan khusyu' semua aturan itu.
Aturan dibuat, untuk dilanggar. Yaa, aku menyepakati itu. Tapi ini berbeda. Ketika aku melanggar semuanya, akan banyak lagi yang terberai. Akan banyak yang dipertaruhkan. Akan banyak hati yang kemudian hancur menjadi kepingan kepingan sia yang memang percuma. Aku terlanjur lahir, aku terlanjur menapaki dunia yang sungguh tak pernah aku kenal dengan baik.
Malam ini, aku seperti kembali di kegelisahan yang hampir aku lupa. Kegelisahan yang selalu ingin memainkan jari jariku pada kertas buram atau keypad hp yang menyeka gelisah dengan kenyataan hidup yang ternyata belum tuntas dengan harapan yang banyak. Aku kembali malam ini, menyusuri adegan demi adegan. Mencari khayalan dan kenyataan yang sama bejatnya. Mengecup dan mendekap sekian rasa yang tertumpah bersama air mata, menikmati setiap butirnya yang menelan kepahitan di ujung batang hidung yang lantas menuruni pinggir bibir, meretas asin mengalir di daguku, menyentuh haus lelah leherku dengan keajaiban yang lama akau damba.
Malam ini aku kembali meyakini bahwa aku sama dengan Yesus, tidaklah mengalami penderitaan di kayu salib, aku tidak akan menderita di atas aturan aturan orang banyak. Aku mampu menyelesaikan hidupku, menuntaskan harapan dan kenyataan yang sudah Tuhan saji untukku di malam malam berikutnya.
: luruh bersama tangis oktober.
...
Backsound malam ini 'Rindu' y Agnes Monica, dengan suasana kamar temaram tanpa mencekam. Samping kananku novel Lolita karangan Vladimir Nabokov yg belum habis aku lahap. Samping kiriku novel GSDJ, yg pengarangnya sedang booming di kalangan mahasiswa diksatrasia untirta semester 3, Dia seniorku di Kubah Budaya. Di atas novel itu ada buku 'Menjawab Injil Yudas' yg sering sekali mengingatkan aku, bahwa Isa tidak pernah mati di kayu salib> Yesus tidaklah mengalami penderitaan di kayu salib.
Aku berada di antara bantal bantal yg sudah sekian kali menyaksikan impian dan mimpi mimpiku yg terlanjur hilang.
Aku ada di antara artikel artikel lama yg sengaja aku pajang di dinding kamar. Aku ada di antara piagam penghargaan 'pembacaan puisi Hana Fransisca' dan kartu peserta PSIK-Indonesia yang entah kesemuanya enggan aku rapikan di rak buku atau di lemari koran yg acak kadut bercampur dengan koleksi tas ku yg tidak begitu banyak.
Aku mencintai suasana kamar, meski kadang sepi menggelayuti dan membuat aku begah, tapi kamar buat aku adalah ruang dari segala ruang yang memberikan aku sesuatu. Di kamar, aku mulai memahami jari dan fungsinya. Di sinilah aku mengerti bahwa sudah banyak yang aku sia siakan tanpa "jariku". Aku mengingat banyak hal di ruangan ini. Aku merasa memiliki dua kepribadian ganda ketika lama membenturkan pikiranku di ruangan yang bercat ungu, merah muda, biru dan kuning ini. Seakan akan aku mampu berenang di hamparan samudra yang menyimpan banyak khayalan tentang putri duyung yang aduhai. Seakan akan aku mampu menjangkau dunia dengan kornea yang hampir tenggelam bersama pemandangan masa lalu yang menderitkan segala tanya. Aku yakin, bahwa hidup ada di antara harapan dan kenyataan. Lantas inilah yang aku lahirkan, kegelisahan sepanjang masa yang membekamku dengan berbagai suasana.
Sebab kegagalan adalah hantu hidup yang sering kali dibicarakan sebagai bahan menakut-nakuti seseorang, maka kegagalan akan abadi dipikiran yang begitu. Seluruh hasil yang memang belum tampak pun akhirnya dikatakan gagal dan tak akan memiliki keberhasilan yang luar biasa. Sebab mereka sudah terdoktrin 'gagal', maka aku pun harus menuai keterdoktrinan yang sama. Aku hampir dibuatnya tanpa hati, tanpa perasaan, aku diatur, aku diguncang. Aku hilang penimbang, aku larut ditambang. Putus leher asaku yang selama ini aku rajut, aku benahi dengan sekuat tenaga, aku yakini dengan segala keyakinan yang aku punya. Tapi malam ini, ketika hujan tidak jadi mengguyur hati, semuanya terberai dengan cepat. Tanpa aku nikmati keterberaiannya itu. Tanpa aku rasakan dengan khusyu' semua aturan itu.
Aturan dibuat, untuk dilanggar. Yaa, aku menyepakati itu. Tapi ini berbeda. Ketika aku melanggar semuanya, akan banyak lagi yang terberai. Akan banyak yang dipertaruhkan. Akan banyak hati yang kemudian hancur menjadi kepingan kepingan sia yang memang percuma. Aku terlanjur lahir, aku terlanjur menapaki dunia yang sungguh tak pernah aku kenal dengan baik.
Malam ini, aku seperti kembali di kegelisahan yang hampir aku lupa. Kegelisahan yang selalu ingin memainkan jari jariku pada kertas buram atau keypad hp yang menyeka gelisah dengan kenyataan hidup yang ternyata belum tuntas dengan harapan yang banyak. Aku kembali malam ini, menyusuri adegan demi adegan. Mencari khayalan dan kenyataan yang sama bejatnya. Mengecup dan mendekap sekian rasa yang tertumpah bersama air mata, menikmati setiap butirnya yang menelan kepahitan di ujung batang hidung yang lantas menuruni pinggir bibir, meretas asin mengalir di daguku, menyentuh haus lelah leherku dengan keajaiban yang lama akau damba.
Malam ini aku kembali meyakini bahwa aku sama dengan Yesus, tidaklah mengalami penderitaan di kayu salib, aku tidak akan menderita di atas aturan aturan orang banyak. Aku mampu menyelesaikan hidupku, menuntaskan harapan dan kenyataan yang sudah Tuhan saji untukku di malam malam berikutnya.
: luruh bersama tangis oktober.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar