Perbandingan Novel dan Film LASKAR PELANGI
Tulisan Maulidiyah Hastuti
Novel
Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata berhasil menghipnotis pembacanya
hingga pada titik penjualan yang memuaskan bagi pengarangnya sendiri. Novel ini
memberikan banyak pembelajaran bagi pembacanya, termasuk saya. Novel yang
berlatar belakang di Pulau Belitong ini, menceritakan keharuan yang mendetail
disetiap ceritanya.
Novel
ini menceritakan tentang dunia pendidikan dan kegigihan anggota Laskar Pelangi
untuk terus belajar meskipun mereka menghadapi situasi yang agaknya kurang
bersahabat. Dengan karakter tokoh-tokohnya yang jujur, apa adanya, bersemangat,
sabar dan gigih Andrea Hirata bisa membangun cerita pada novel ini dengan nilai
estetika dan edukasi yang tinggi.
Sinopsis
Cerita
pada novel ini berawal dari penantian seorang kepala sekolah bernama Bapak K.A.
Harfan Efendy Noor dan guru satu-satunya di sekolah SD Muhammadiyah, yaitu Ibu
N.A. Muslimah Hafsari atau yang biasa disebut Bu Mus pada penerimaan murid baru
di sekolah yang paling miskin di Belitong. Sekolah tersebut akan ditutup jika
muridnya untuk tahun ajaran itu tidak berjumlah sepuluh orang. Dengan
kekhawatiran yang teramat, mereka menunggu satu orang lagi yang bersedia untuk
menuntut ilmu di sekolah yang keadaannya sudah sangat miris tersebut. Kemudian,
setelah menunggu dengan cukup lama, akhirnya sepuluh murid sudah terdaftar.
Harunlah yang menjadi pahlawan pada saat itu.
Di
dalam novel Laskar Pelangi, diceritakan satu tokoh yang amat sederhana
dan akhirnya tokoh tersebutlah yang mampu memberi inspirasi bagi pembacanya.
Tokoh tersebut ialah Lintang. Seorang anak dari pedalaman pulau Belitong yang
gigih mengayuh sepedanya dengan jarak 80 kilometer menuju ke sekolah SD
Muhammadiyah. Lintang memiliki kecerdasan yang luar biasa. Hingga ia bisa
menjadi pahlawan di acara cerdas cermat. Berkat kejeniusannya itulah Lintang
dan sekolah Muhammadiyah mampu memenangkan cerdas cermat tersebut, meski pun
dengan perjuangan yang tidak mudah.
Selain
Lintang, di novel ini diceritakan anggota Laskar Pelangi lainnya, seperti
Mahar, seorang anak yang ceria dan tampan. Ia adalah pesuruh tukang parut
kelapa dan di antara teman-temannya yang lain, Mahar memiliki karakter yang
unik, ia suka menyanyi dan ia mengidolakan raja dangdut, yaitu Rhoma Irama.
Dalam karnaval 17 Agustus, Mahar jugalah yang memberikan ide-ide kreatif
sehingga ia mampu mengembalikan nama sekolahnya dan tidak dipandang remeh lagi
oleh sekolah-sekolah lain yang bonafit.
Kemudian
ada tokoh Sahara yang merupakan anggota Laskar Pelangi satu-satu yang
berkelamin wanita. Ia memiliki karakter yang keras kepala. Dan masih ada lagi
anggota Laskar Pelangi lainnya yang dengan kegigihan yang sama, mereka mampu
menunjukan bahwa pendidikan adalah suatu kebutuhan, bukan lagi suatu keharusan.
Di akhir cerita, diceritakan bahwa pada tahun 1991 perguruan Muhammadiyah
ditutup setelah meninggalnya Bapak kepala sekolah.
Apresiasi
terhadap novel
Akhirnya,
setelah saya membaca novel Laskar Pelangi ini, saya mendapatkan pembelajaran
yang luar biasa, bahwa pendidikan teramat penting bagi semua orang, bukan lagi
orang per orang. Dan, dengan kegigihan yang besar, pastilah seseorang tersebut
akan mencapai apa yang diinginkannya. Novel ini memberikan asupan pengetahuan
yang sangat penting bagi kita semua.
Dengan
penceritaan yang ringan, penokohan yang detail dan adanya campuran cerita dari
pengalaman dan imajinasi sang pengarangnya, Laskar Pelangi mampu
menyabet gelar “Indonesia’s most powerful book” dan novel ini pun karena
kesuksesannya, difilmkan oleh sutradara ternama, yaitu Riri Riza.
Dalam
novelnya kali ini, Andrea Hirata dengan kecerdasannya mampu membuat
pendeskripsian-pendeskripsian yang matang. Ia membuat tokoh-tokoh dalam
novelnya dengan sangat teliti. Ada semacam pemberitahuan yang mutlak dan
akhirnya dapat menjadi simbol tersendiri. Misalnya, pada tokoh A Kiong, Andrea
Hirata menyebutnya dengan “anak hokian”, hal tersebut menunjukkan bahwa A Kiong
ialah keturunan Tionghoa. Dan masih banyak lagi pendeskripsian yang matang yang
ditulis oleh Andrea Hirata dalam novel tetraloginya tersebut.
Dari segi bahasa, terlihat novel ini begitu
luwes dan ringan. Meski pun terdapat istilah-istilah yang cukup membingungkan
dan adanya kata-kata baru menurut saya, tetapi novel ini berhasil menyampaikan
pesan atau amanat yang dikandungkan. Andrea Hirata, yang bisa dikatakan sebagai
sastrawan baru dalam dunia kepenulisan, dengan karya populernya ini mampu
mengurangi kejenuhan pembaca yang sudah banyak disuguhkan dengan cerita-cerita
yang kurang memberikan inspirasi atau nilai edukasi yang begitu kental semacam
ini.
Apresiasi
terhadap film Laskar Pelangi
Film
garapan Riri Riza itu begitu menarik khalayak ramai, termasuk saya sebagai
penggemar film. Kesuksesan filmnya pun tercapai, mengikuti kesuksesan yang
telah diraih novelnya terdahulu. Secara keseluruhan atau dilihat dari segi
amanat yang ingin disampaikan oleh pengarang novelnya, dalam filmnya pun sudah
tersampaikan dengan baik.
Riri
Riza mampu mengemas inti dari ceritanya tersebut sesuai dengan harapan
pengarang novel Laskar Pelangi, Andrea Hirata. Namun, pada bagian-bagian
tertentu terlihat adanya penambahan dan pengurangan cerita. Misalnya, pada
novel diceritakan ketika penerimaan murid baru, Lintang datang bersama ayahnya
yang dideskripsikan secara mendetail oleh Andrea Hirata, sedangkan dalam film,
Lintang datang seorang diri dengan mengayuh sepedanya selama 80 kilometer.
Dan
tentang soal cerdas cermat, dalam filmnya Riri Riza melalui soal
hitung-hitungan membuat emosial penontonnya menegang dengan
pembantahan-pembantahan yang menarik, sedangkan dalam novelnya soal itu bukan
hitung-hitungan melainkan soal teori warna ( ilmu fisika ), dan masih banyak
perbedaan yang sangat terlihat antara pendeskripsian di novel dan film.
Unsur
emosial yang saya dapatkan adalah ketika Lintang memilih berhenti sekolah
karena ia ingin menjaga adik-adiknya dan membantu ayahnya melaut. Sebagai anak
lelaki tertua, ia merasa harus membantu ayahnya. Dengan berat hati dan
perenungan yang mengharukan, Lintang pun berhenti dengan ditangisi oleh
teman-teman seperjuangannya di sekolah Muhammadiyah.
Bu
Mus pun dengan derai air mata yang teramat, mau tidak mau harus melepaskan
kepergian Lintang dan menerima keputusan murid terhebatnya itu. Menurut saya,
bagian cerita itulah yang sangat-sangat menguras emosi kesedihan.
Kemudian
ketika Bapak kepala sekolah meninggal dunia, itu pun salah satu cerita yang
membuat saya merasa ada di dalam cerita, baik di novel maupun di film. Menurut
saya, kedua media itu sudah dengan baik memberikan amanat yang luar biasa.
Keduanya
dapat dinikmati, memberikan pembelajaran yang inspiratif dan memberikan wawasan
baru tentang perjuangan segelintir orang yang masih peduli dengan keadaan
pendidikan di daerah yang terpencil. Dengan kesederhanaan dan kegigihan yang
amat besar, maka cita-cita setinggi apa pun akan dapat diraih dengan
kesempurnaan yang indah, mungkin itulah amanat yang saya dapatkan setelah saya
membaca novel dan menonton film Laskar Pelangi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar