Jumat, 02 Desember 2011

APRESIASI PROSA FIKSI- 2010

Perbandingan Novel dan Film LASKAR PELANGI

Tulisan Maulidiyah Hastuti


Novel Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata berhasil menghipnotis pembacanya hingga pada titik penjualan yang memuaskan bagi pengarangnya sendiri. Novel ini memberikan banyak pembelajaran bagi pembacanya, termasuk saya. Novel yang berlatar belakang di Pulau Belitong ini, menceritakan keharuan yang mendetail disetiap ceritanya.
Novel ini menceritakan tentang dunia pendidikan dan kegigihan anggota Laskar Pelangi untuk terus belajar meskipun mereka menghadapi situasi yang agaknya kurang bersahabat. Dengan karakter tokoh-tokohnya yang jujur, apa adanya, bersemangat, sabar dan gigih Andrea Hirata bisa membangun cerita pada novel ini dengan nilai estetika dan edukasi yang tinggi.

Sinopsis

Cerita pada novel ini berawal dari penantian seorang kepala sekolah bernama Bapak K.A. Harfan Efendy Noor dan guru satu-satunya di sekolah SD Muhammadiyah, yaitu Ibu N.A. Muslimah Hafsari atau yang biasa disebut Bu Mus pada penerimaan murid baru di sekolah yang paling miskin di Belitong. Sekolah tersebut akan ditutup jika muridnya untuk tahun ajaran itu tidak berjumlah sepuluh orang. Dengan kekhawatiran yang teramat, mereka menunggu satu orang lagi yang bersedia untuk menuntut ilmu di sekolah yang keadaannya sudah sangat miris tersebut. Kemudian, setelah menunggu dengan cukup lama, akhirnya sepuluh murid sudah terdaftar. Harunlah yang menjadi pahlawan pada saat itu.
Di dalam novel Laskar Pelangi, diceritakan satu tokoh yang amat sederhana dan akhirnya tokoh tersebutlah yang mampu memberi inspirasi bagi pembacanya. Tokoh tersebut ialah Lintang. Seorang anak dari pedalaman pulau Belitong yang gigih mengayuh sepedanya dengan jarak 80 kilometer menuju ke sekolah SD Muhammadiyah. Lintang memiliki kecerdasan yang luar biasa. Hingga ia bisa menjadi pahlawan di acara cerdas cermat. Berkat kejeniusannya itulah Lintang dan sekolah Muhammadiyah mampu memenangkan cerdas cermat tersebut, meski pun dengan perjuangan yang tidak mudah.
Selain Lintang, di novel ini diceritakan anggota Laskar Pelangi lainnya, seperti Mahar, seorang anak yang ceria dan tampan. Ia adalah pesuruh tukang parut kelapa dan di antara teman-temannya yang lain, Mahar memiliki karakter yang unik, ia suka menyanyi dan ia mengidolakan raja dangdut, yaitu Rhoma Irama. Dalam karnaval 17 Agustus, Mahar jugalah yang memberikan ide-ide kreatif sehingga ia mampu mengembalikan nama sekolahnya dan tidak dipandang remeh lagi oleh sekolah-sekolah lain yang bonafit.
Kemudian ada tokoh Sahara yang merupakan anggota Laskar Pelangi satu-satu yang berkelamin wanita. Ia memiliki karakter yang keras kepala. Dan masih ada lagi anggota Laskar Pelangi lainnya yang dengan kegigihan yang sama, mereka mampu menunjukan bahwa pendidikan adalah suatu kebutuhan, bukan lagi suatu keharusan. Di akhir cerita, diceritakan bahwa pada tahun 1991 perguruan Muhammadiyah ditutup setelah meninggalnya Bapak kepala sekolah.

Apresiasi terhadap novel
           
Akhirnya, setelah saya membaca novel Laskar Pelangi ini, saya mendapatkan pembelajaran yang luar biasa, bahwa pendidikan teramat penting bagi semua orang, bukan lagi orang per orang. Dan, dengan kegigihan yang besar, pastilah seseorang tersebut akan mencapai apa yang diinginkannya. Novel ini memberikan asupan pengetahuan yang sangat penting bagi kita semua.
Dengan penceritaan yang ringan, penokohan yang detail dan adanya campuran cerita dari pengalaman dan imajinasi sang pengarangnya, Laskar Pelangi mampu menyabet gelar “Indonesia’s most powerful book” dan novel ini pun karena kesuksesannya, difilmkan oleh sutradara ternama, yaitu Riri Riza.
Dalam novelnya kali ini, Andrea Hirata dengan kecerdasannya mampu membuat pendeskripsian-pendeskripsian yang matang. Ia membuat tokoh-tokoh dalam novelnya dengan sangat teliti. Ada semacam pemberitahuan yang mutlak dan akhirnya dapat menjadi simbol tersendiri. Misalnya, pada tokoh A Kiong, Andrea Hirata menyebutnya dengan “anak hokian”, hal tersebut menunjukkan bahwa A Kiong ialah keturunan Tionghoa. Dan masih banyak lagi pendeskripsian yang matang yang ditulis oleh Andrea Hirata dalam novel tetraloginya tersebut.
 Dari segi bahasa, terlihat novel ini begitu luwes dan ringan. Meski pun terdapat istilah-istilah yang cukup membingungkan dan adanya kata-kata baru menurut saya, tetapi novel ini berhasil menyampaikan pesan atau amanat yang dikandungkan. Andrea Hirata, yang bisa dikatakan sebagai sastrawan baru dalam dunia kepenulisan, dengan karya populernya ini mampu mengurangi kejenuhan pembaca yang sudah banyak disuguhkan dengan cerita-cerita yang kurang memberikan inspirasi atau nilai edukasi yang begitu kental semacam ini.

Apresiasi terhadap film Laskar Pelangi

Film garapan Riri Riza itu begitu menarik khalayak ramai, termasuk saya sebagai penggemar film. Kesuksesan filmnya pun tercapai, mengikuti kesuksesan yang telah diraih novelnya terdahulu. Secara keseluruhan atau dilihat dari segi amanat yang ingin disampaikan oleh pengarang novelnya, dalam filmnya pun sudah tersampaikan dengan baik.
Riri Riza mampu mengemas inti dari ceritanya tersebut sesuai dengan harapan pengarang novel Laskar Pelangi, Andrea Hirata. Namun, pada bagian-bagian tertentu terlihat adanya penambahan dan pengurangan cerita. Misalnya, pada novel diceritakan ketika penerimaan murid baru, Lintang datang bersama ayahnya yang dideskripsikan secara mendetail oleh Andrea Hirata, sedangkan dalam film, Lintang datang seorang diri dengan mengayuh sepedanya selama 80 kilometer.

Dan tentang soal cerdas cermat, dalam filmnya Riri Riza melalui soal hitung-hitungan membuat emosial penontonnya menegang dengan pembantahan-pembantahan yang menarik, sedangkan dalam novelnya soal itu bukan hitung-hitungan melainkan soal teori warna ( ilmu fisika ), dan masih banyak perbedaan yang sangat terlihat antara pendeskripsian di novel dan film.
Unsur emosial yang saya dapatkan adalah ketika Lintang memilih berhenti sekolah karena ia ingin menjaga adik-adiknya dan membantu ayahnya melaut. Sebagai anak lelaki tertua, ia merasa harus membantu ayahnya. Dengan berat hati dan perenungan yang mengharukan, Lintang pun berhenti dengan ditangisi oleh teman-teman seperjuangannya di sekolah Muhammadiyah.
Bu Mus pun dengan derai air mata yang teramat, mau tidak mau harus melepaskan kepergian Lintang dan menerima keputusan murid terhebatnya itu. Menurut saya, bagian cerita itulah yang sangat-sangat menguras emosi kesedihan.
Kemudian ketika Bapak kepala sekolah meninggal dunia, itu pun salah satu cerita yang membuat saya merasa ada di dalam cerita, baik di novel maupun di film. Menurut saya, kedua media itu sudah dengan baik memberikan amanat yang luar biasa.
Keduanya dapat dinikmati, memberikan pembelajaran yang inspiratif dan memberikan wawasan baru tentang perjuangan segelintir orang yang masih peduli dengan keadaan pendidikan di daerah yang terpencil. Dengan kesederhanaan dan kegigihan yang amat besar, maka cita-cita setinggi apa pun akan dapat diraih dengan kesempurnaan yang indah, mungkin itulah amanat yang saya dapatkan setelah saya membaca novel dan menonton film Laskar Pelangi.


Tidak ada komentar: