Burung Kematian
Cerpen Maulidiyah Hastuti
Selesai
makan malam, aku keluar dari kamar dan duduk di teras rumah di bawah pohon
mangga yang lebat daunnya. Memandang langit malam yang cerah dengan
bintang-bintang. Mendengarkan suara radio tetangga yang sedang memutarkan lagu
melayu. Lembut suara penyanyi itu. Aku memainkan mata memerhatikan sekeliling.
Sepi. Senyap. Tak ada satu pun orang yang lalu lalang di depan rumah. Gang
sempit di samping rumah pun terasa sunyi, tidak ada anak-anak kecil yang
bermain di situ. Tampak berbeda malam ini.
Tapi,
dari arah lain aku mendengar sedikit keributan. Sepertinya agak jauh. Entah
dari arah mana. Aku tegakkan telingaku. Semakin lama, semakin samar suara itu.
Tapi aku sempat mendengarnya.
“Hei, sudah
cukup kau permainkan aku! Aku ingin lepas dari keadaan seperti ini. Aku bukan
budakmu. Dasar sinting!”
Aku
terkejut mendengar kata-kata itu. Tidak lama, terdengar suara tamparan dan
kata-kata yang lebih kasar.
“Dasar jalang!
Tak tahu diuntung kau. Apa maumu? Pelacur bodoh!”
Aku
semakin terkejut dan sepertinya aku mengenali suara lelaki itu. Tapi aku
sedikit lupa, suara siapa itu. Kemudian hening kembali. Sayup-sayup masih
terdengar lagu melayu yang mengalun merdu. Sambil mengikuti liriknya yang aku
hafal, aku mencoba mengingat suara tadi. Tapi aku tidak berhasil. Suara itu
lantas hilang entah kemana. Aku sedikit kesal karena tidak mampu mengingatnya.
Tapi aku tidak pedulikan lagi. Aku mulai menikmati kesendirianku malam ini.
Bulan
semakin tinggi di atas sana. Lagu melayu tidak lagi aku dengar. Semakin sepi.
Jam dinding menunjukkan pukul sembilan, cericit burung kematian terdengar
olehku. Terbayang kembali kisah kematian datuk Abdul dan Anissa tempo hari.
Burung itulah yang menyebabkan aku jatuh sakit sampai berminggu-minggu.
Malam
itu, aku dan beberapa kawan mainku duduk di bawah pohon mangga, tepat di tempat
aku saat ini menyendiri. Dari teras rumahnya, datuk Abdul memanggil kami.
“Cu, sini!”
katanya sambil membenarkan lintingan sarungnya yang agak kendor.
“Ada apa ‘Tuk?”
Riyan menyahuti panggilan datuk Abdul.
“Sini! Datuk
ingin bercerita. Kalian pasti senang mendengarkannya. Cepat kemari, cu!”
bujuknya, kemudian melambaikan tangannya kembali ke arah kami dan ia duduk di
kursi kayu kesenangannya. Kami pun menghampiri datuk Abdul dan duduk di
sampingnya.
Datuk
Abdul tinggal bersama istinya, Nek Liah. Seorang nenek yang baik hati dan
senyumnya amat manis. Mereka dikarunia dua orang anak. Kedua anaknya pindah ke
luar kota dan hanya setahun sekali menjenguk kedua orang tuanya, itu pun jika
diminta oleh Nek Liah atau datuk Abdul. Sehari-hari, Nek Liah bekerja di kebun
cengkeh milik bapak Dharma. Dulu, kebun itu milik datuk Abdul, namun karena
datuk Abdul jatuh sakit dan harus dirawat di Rumah Sakit, maka Nek Liah dan
datuk Abdul sepakat untuk menjual kebun cengkeh tersebut. Ingin mengandalkan
kedua anaknya, nek Liah dan datuk Abdul tidak akan bisa, karena kedua
anaknya sulit untuk dihubungi. Kini, nek
Liah harus bekerja di sana, mencari nafkah untuk dirinya dan suaminya tercinta.
Aku kagum terhadap mereka. Meski banyak tetangganya yang berbicara negatif
tentang anak-anak mereka, tapi mereka tetap sabar dan berusaha menutup-nutupi
hal itu.
“Nek, si Ita
sudah jarang ke sini. Kemana dia? Anak durhaka. Tidak ingatkah dia kalau kedua
orang tuanya masih hidup?”
“Ita dan
abangnya sibuk Ri. Mungkin belum sempat untuk datang kemari.”
Yah,
seperti itulah nek Liah. Ketika suatu sore, kak’Ria yang juga kawan main
kak’Ita dulu, menanyai tentang kawan kecilnya itu kepada nek Liah. Nek Liah tidak
ingin terhasut oleh cibiran orang lain mengenai anaknya. Aku, yang ketika itu
sedang bersama kak’Ria melihat raut muka nek Liah yang tampak biasa saja,
padahal perkataan kak’Ria terdengar begitu kasar.
Seakan-akan
kehidupan orang tua itu penuh kebahagiaan meski tanpa anak-anaknya. Tapi kami
semua tahu, mereka resah dengan keadaan yang seperti itu, hanya saja kami tidak
ingin ikut campur terlalu dalam, karena ini urusan keluarga datuk Abdul dan nek
Liah.
Aku
duduk di samping kiri datuk Abdul malam itu. Kami duduk melingkar, dan semua
memusatkan perhatiannya ke arah datuk Abdul. Kami menunggu agak lama sebelum
akhirnya datuk Abdul mulai bercerita tentang Malin Kundang. Rosita terlihat
agak malas mendengarkan cerita itu.
“Ah, bosan
datuk. Malin Kundang sudah sering aku dengar. Cerita yang lain saja.”
Kami pun turut
menganggukkan kepala, tanda setuju. Datuk Abdul merhatikan kami satu persatu.
“Hmm..baiklah,
datuk akan bercerita tentang…”
Belum saja datuk
Abdul melanjutkan perkataannya, terdengar suara burung yang sangat mengerikan.
Aarrk..ark..aaaarrkk…
“Kalian semua
dengar, adakah yang tahu suara burung apa itu?”, kata datuk Abdul, sebelum
melanjutkan kata-katanya yang pertama.
Kami saling
pandang. Dengan saksama kami mendengarkan suara burung itu.
Aaarrk..aarkkk..aaaarkk..
“Burung apa itu,
‘Tuk?” tanyaku.
“Itu burung
kematian. Burung dari surga yang mencari teman untuk dibawa ke taman Firdaus.”
Jawabnya, membuat bulu kudukku berdiri.
Sementara itu,
Anissa meringis ketakutan memeluk Rosita. Datuk Abdul mencoba menenangkan
Anissa.
“Haa, tidak
apa-apa cu, itu hanya dongeng saja. Walau pun ada yang diajak oleh burung itu,
pasti bukan kalian. Kecuali kalian memang mau diajak ke taman Firdaus. Ada yang
mau ikut?”
Canda datuk
Abdul sama sekali tidak membuat kami tertawa, untuk senyum saja kami tak
sanggup.
Suara
burung itu begitu menggelegar. Ganas. Seakan-akan ia sedang buas mencatat
“teman” yang akan diajaknya ke taman Firdaus. Kami serempak ingin pulang dan
meninggalkan datuk Abdul. Namun, datuk Abdul buru-buru mencegah kami.
“Hendak ke mana?
Di sini saja dulu, temani datuk. Mungkin saja besok-besok datuk sendirian di
tempat sepi dan gelap, dan kalian tidak bisa lagi melihat datuk. Kalian tidak
ingin seperti itu kan?”, rayunya.
“Tapi Ani takut,
datuk. Ani takut mendengar suara burung itu.”
“Ya sudah,
abaikan saja.”
“Aku pernah
mendengar kisah burung kematian itu ’Tuk.”
Perkataan Agus
membuat Anissa semakin merapat pada aku dan Rosita, sementara Riyan
tenang-tenang saja memerhatikan Agus yang tampak serius.
“Ceritakan
Gus!”, pinta Riyan pada Agus.
Agus
semakin semangat ingin menceritakan tentang burung kematian itu.
“Konon, dulu
kabarnya ada seorang pengkisah yang menceritakan mengapa burung itu ada di
bumi. Menurut dia, burung kematian itu sengaja dilepas oleh Tuhan untuk memberi
tanda, bahwa setelah kemunculan burung tersebut, akan ada orang yang meninggal
dunia. Hal itu karena diajak oleh burung kematian.”
“Kalau begitu,
sebentar lagi akan ada yang meninggal. Mungkinkah di antara kita yang menjadi
korban ajakan burung itu?”, tanya Riyan, penuh keluguan.
Anissa mengeluarkan airmata. Ia
menangis. Telapak tangannya ia pautkan pada siku Rosita, kepalanya tunduk menyandar
di bahu Rosita. Rosita mencoba menenangkan Anissa. Sedang aku mencari kepastian
cerita Agus pada kedalaman mata datuk Abdul. Datuk Abdul tampak diam. Seakan
ada sesuatu yang ia takutkan, namun ia berusaha untuk tenang di hadapan kami.
Aku perhatikan lebih dalam matanya. Terpaku. Tak bergerak. Matanya tak
bergerak. Senyumnya tipis. Kedua tangannya ia lipat, disimpannya di atas
lintingan sarung berwarna cokelat tua itu. Menghela napas dan menyandarkan
kepalanya pada bahu kursi kayu. Datuk Abdul terlihat sangat lelah. Ia memejamkan
matanya perlahan. Aku lihat, teman-temanku tidak ada yang merhatikan kejadian
aneh itu. Semuanya tampak serius mendengarkan cerita Agus. Semakin aneh tingkah
datuk Abdul. Ia benar-benar tidak bergerak, lantas aku berteriak histeris
melihat tingkah datuk Abdul itu.
“Datuk…! Datuk…!”
Yang lain mengikuti arah telunjukku
yang tertuju pada datuk Abdul. Riyan berdiri dan menarik lengan Agus.
“Bantu aku,
Gus!”
Riyan
dan Agus mencoba menggoyang-goyangkan tubuh datuk Abdul. Posisi tubuh datuk
Abdul sedikit miring ke kanan. Masih memejamkan matanya. Anissa menangis
semakin kencang. Tangisan Anissa membangunkan nek Liah dari tidurnya. Tampak
panik, kemudian nek Liah ikut menggoyang-goyangkan tubuh datuk Abdul. Sementara
itu, suara burung kematian terus berkoar kencang.
“Apakah ini
tanda dari kedatangan burung itu, Gus?”, tanya Riyan semakin panik.
“Aku tidak
tahu.” bisik Agus.
Aku dan Rosita bingung harus berbuat
apa. Tapi aku yakin, datuk Abdul masih dalam keadaan hidup. Napasnya masih ada.
Kami semakin kencang menggoyang tubuh datuk Abdul. Kemudian datuk Abdul
terbangun dan perlahan membuka matanya.
“Ada apa, cu?”,
tanyanya pada kami yang sedang panik. Sementara ia kebingungan dengan tingkah
kami dan nek Liah.
“Datuk
mengantuk?”, tanyaku.
“Iya. Lelah
sekali, habis bermimpi tadi.”
“Huft, syukurlah.
Ya sudah, Datuk istirahat saja. Kami juga ingin pulang, ingin istirahat.”
“Ya sudah. Datuk
ke dalam ya, cu.”
Nek Liah menuntun datuk Abdul ke
dalam rumah mereka. Datuk Abdul masih bertanya-tanya tentang kejadian tadi pada
nek Liah. Dia masih tidak menyadarinya. Kami pun meninggalkan rumah datuk
Abdul. Riyan masih penasaran dengan cerita Agus, dan menanyakannya terus.
Sedangkan Anissa tampak tenang, karena tidak lagi mendengarkan cerita yang menurutnya seram
itu, dan memang membuat bulu kudukku terus berdiri.
***
Esoknya,
aku dan Rosita menjenguk Anissa yang dikabarkan sakit dan tidak masuk sekolah.
Ibunya menyambut hangat kedatangan kami.
“Mak’ci, Anissa
ada?”, tanya Rosita.
“Ada di dalam,
sakit dia sejak semalam. Badannya menggigil, tapi suhu tubuhnya panas.”
“Kalau begitu,
kami boleh menjenguknya Mak?”
“Masuk saja nak.
Di kamar dia, sedang berbaring.”
Aku
dan Rosita menaiki tangga kayu untuk sampai memasuki pintu rumah Anissa. Kami
masuk ke kamarnya. Tampak pucat dia. Terdapat handuk kecil berlipat di atas
jidatnya. Matanya kosong menatap kami. Senyumnya tidak lagi ceria. Dia terlihat
lemas sekali.
“Nis, kau
kenapa? Semalam masih baik-baik saja.” Tanyaku.
“Aku tidak tahu.
Badanku terasa sakit. Mungkin aku masih takut dengan cerita tadi malam.” jawabnya.
Kami
mencoba menghibur Anissa dengan cerita-cerita lucu, agar ia bisa melupakan
kisah burung kematian itu. Anissa tersenyum mendengarnya. Setelah dirasa agak
lama kami bercengkrama, aku dan Rosita berpamitan pulang.
***
Pagi
harinya, selepas adzan subuh, aku mendengar kabar kematian datuk Abdul dari pelantang
suara di masjid desa. Aku terkejut, dan berlari menghampiri ibu yang sedang
menyiapkan beras untuk melayat.
“Bu, benarkah
itu berita kematian datuk Abdul?” tanyaku.
“Iya nak.
Kira-kira jam empat subuh tadi, nek Liah melihat datuk Abdul sudah tidak
bernyawa.”
Aku
kembali ke kamar dan menghubungi Agus lewat telepon genggamku.
“Halo..Agus,
sudahkah kau dengar kabar kematian datuk Abdul?”
“Sudah, Ris. Aku
masih lemas sekarang. Ternyata mitos burung itu benar. Atau memang hanya
kebetulan saja?”
“Aku tidak tahu.
Yang pasti, berita ini benar-benar membuat aku takut mendengar suara burung itu
lagi. Kapan kita melayat datuk Abdul?”
“Sebelum
berangkat ke sekolah. Aku sedang siap-siap. Riyan dan Rosita sudah aku
hubungi.”
“Anissa
bagaimana? Dia sedang sakit, apa boleh melayat?”
“Aku tidak tahu.
Kau saja yang menghubungi dia, Ris.”
“Ya sudah, nanti
aku yang menghubungi dia. Sampai bertemu di tempat datuk Abdul.”
Setelah
aku menutup teleponku dengan Agus, aku menghubungi Anissa, dan dia bersikeras
ingin ikut melayat. Walaupun ibunya sempat melarang dia untuk ikut bersama
kami. Tapi dia tetap memaksa ijin ibunya untuk pergi, dan akhirnya, kami semua
melayat ke tempat datuk Abdul. Anissa masih terlihat pucat. Hanya dia yang
tidak berseragam sekolah di antara kami, karena dia masih lemas dan tidak masuk
sekolah lagi.
***
Kami berbincang lagi mengenai burung
kematian. Mitos itu membuat kami penasaran, dan kami bertanya kebenaran itu
pada datuk Halim, penjaga sekolah kami yang banyak tahu tentang mitos-mitos di
desa kami. Menurut datuk Halim, mitos burung itu memang sering terjadi.
Apalagi, kematian datuk Abdul di hari sabtu. Mitosnya, akan ada yang
melanjutkan kematian itu. Akan beruntun. Aku tidak ingin mendengar cerita datuk
Halim, tapi aku penasaran dan tak kuasa untuk beranjak dari tempat dudukku.
Kemudian Riyan dan Agus saling pandang, mata mereka tertuju padaku yang sedang
resah. Aku bingung. Apa maksud tatapan mereka padaku.
“Benarkah itu?”
tanya Rosita pada datuk Halim.
“Ya, yang sudah
terjadi memang begitu, Ta. Orang yang meninggal pada hari sabtu atau selasa,
akan mengajak teman, dan terjadilah kematian beruntun. Seperti kisah kematian
bapak Wira tempo dulu, dan mengenai burung kematian itu, sudah tentu menjadi
tanda untuk orang selanjutnya yang akan menyusul datuk Abdul.”
“Aku tidak
percaya. Ini semua sudah takdir. Jangan lagi kalian mengait-kaitkan tentang
ini!” aku menepis ketakutanku.
Aku meninggalkan
mereka. Pulang ke rumah. Menyelesaikan pekerjaan rumah dengan pikiran yang
bercabang.
‘apa benar
tentang mitos-mitos itu?’
***
Malamnya,
aku duduk di bawah pohon mangga bersama Agus dan Rosita. Kami mencoba untuk
melupakan cerita mitos itu. Kami mengingat masa-masa SMP kami. Tapi sayang,
untuk malam ini Anissa dan Riyan tidak bisa berkumpul dan mengenang masa-masa
terindah kami dulu. Kami tertawa
mengingat tingkah Riyan yang polos waktu itu, yang tidak pernah mau mengalah
walaupun lawannya seorang wanita lugu seperti Anissa. Namun, tiba-tiba aku
melihat Riyan berlari ke arah kami. Napasnya tersengal, keringatnya bercucuran,
mengalir melewati pelipis dan jatuh mengenai kulit tangannya.
“Nis..Nissa…Nissa”,
kata-katanya terpenggal.
“Nissa
kenapa, Yan?” tanyaku.
Rosita
mengerti. Dia berdiri, lalu berlari sekencang-kencangnya meninggalkan aku dan
Agus yang belum mengerti maksud Riyan. Kemudian Agus mengikuti Rosita. Berlari,
meninggalkan aku dan Riyan. Kami saling pandang. Dalam sekejap, Riyan menarik
lenganku. Kami pun berlari menuju rumah Anissa— yang tidak terlalu jauh
jaraknya dengan rumahku, hanya melewati dua gang. Di sana sudah banyak orang
yang berlalu lalang. Bendera kuning sedang dikaitkan pada gentong-gentong besi
di pinggir jalan, yang searah dengan rumah Anissa. Seketika itu aku menangis.
Suara Rosita terdengar lebih dulu. Ia menangis kencang di pangkuan ibu Anissa.
Anissa
menyusul kematian datuk Abdul. Kematian beruntun. Aku tidak habis pikir, mitos
itu membuat aku kehilangan sahabatku. Aku dan Rosita menangisi jenazah Anissa,
sedang Agus dan Riyan mengaji di samping kami. Kemudian aku pulang ke rumah untuk
mengambil jilbab. Niatku, malam ini akan mengaji untuk jenazah Anissa. Dengan
terisak, aku berjalan lemas sambil sesekali memerhatikan sekelilingku. Dengan
tidak sengaja aku mendengar suara burung kematian itu dan aku mengarahkan
tatapanku ke atas genting rumahku, dan kulihat burung kematian santai
bertengger di sana. Aku terkejut dan jatuh pingsan, tidak sadarkan diri. Tidak
tahu lagi apa yang terjadi di malam itu. Esoknya, aku merasa sangat lemas dan
mengalami hal yang sama dengan Anissa, jatuh sakit selama berminggu-minggu. Baru malam ini aku bisa
berjalan dan dapat menghirup udara di luar rumah, mengingat masa-masa kemarin
bersama kawan-kawanku, terutama Anissa. Ternyata, cerita kematian datuk Abdul
dan Anissa membuat beberapa anak takut untuk keluar malam. Pantas saja, malam
ini begitu sepi dan mencekam. Suara burung itu pun mulai terdengar lagi. Ibu
memanggil, menyuruh aku masuk ke dalam rumah.
‘Apakah burung
itu mencatat namaku sebagai kawannya untuk malam ini?’
Serang,
2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar