Jumat, 02 Desember 2011

APRESIASI PROSA FIKSI KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER


“SEKALI PERISTIWA DI BANTEN SELATAN”
Tulisan Maulidiyah Hastuti

Pramoedya Ananta Toer dalam tulisannya kali ini menceritakan suatu peristiwa yang terjadi di Banten Selatan, kira-kira pada tahun 1957. Sebuah karya sastra pasti memiliki amanat atau pesan yang ingin disampaikan oleh penulisnya, begitu pun pada tulisan Pram kali ini. Saya sangat tertarik untuk mengapresiasi Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer ini menggunakan pendekatan didaktis, terlepas novel ini merupakan cerita nyata atau fiktif belaka yang sengaja Pram tulis di masa itu.
Novel ini menggambarkan betapa sikap kerja sama atau solidaritas itu sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan sesuatu yang akan dicapai. Bentuk perjuangan dan kerja sama para tokohnya di novel ini sebanding dengan apa yang akan didapatkan. Semuanya itu terletak pada solidaritas yang dibentuk dengan keringat keras oleh Ranta. Ranta, “maling” yang akhirnya dapat melepaskan dirinya dari jeratan sang juragan yang selalu berkhianat. Juragan yang ternyata anggota Darul Islam, yang senang melakukan penindasan dan kesewenang-wenangan, dan kemiskinanlah yang menjadi salah satu faktor mengapa kekerasan itu bisa terjadi.
Darul Islam disebut-sebut sebagai kelompok pemberontak yang kejam, yang siap kapan saja untuk menghancurkan orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka. Pada tulisannya kali ini, Pramoedya Ananta Toer melakukan kunjungannya di beberapa daerah, bukan hanya di Banten tetapi juga di luar Banten. Yang menarik dalam Sekali Peristiwa di Banten Selatan ini adalah jalan cerita yang cukup menegangkan dan pesan mendalam yang ingin disampaikan oleh Pram.
Di dalam novel ini, Pram menyinggung tentang kerja sama yang saat ini lebih dikenal dengan gotong-royong. Pram menggambarkan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan manusia satu dengan manusia yang lainnya, dan dengan bergotong-royonglah suatu perjuangan akan membuahkan hasil. Pesan ini terlihat sangat mudah diucapkan, tetapi saya yakin pada realitanya sikap kerja sama semacam ini cukup sulit dilakukan. Terbukti, untuk saat ini masih banyak manusia yang tidak acuh dengan manusia yang lainnya. Masih banyak kekerasan yang terjadi.
Dalam novel ini, Pram membentuk tokohnya, Ranta, menjadi manusia yang berani dan tangguh. Berawal dari ketakutannya pada ancaman seorang juragan yang bersikap semena-mena pada dirinya. Juragan tersebut bernama jurangan Musa. Sosoknya sangat disegani oleh orang-orang kampung sekitar, khususnya rakyat kecil seperti Ranta dan istrinya, Ireng yang selalu diancam jika tidak memenuhi apa yang diinginkan oleh juragan Musa, maka kehidupan mereka akan lebih sengsara. Kearogansian dan sikap semena-mena juragan Musa terlihat ketika ia menyuruh Ranta untuk menjadi maling dengan mengambil bibit karet yang bukan haknya, dan juragan licik itu tidak ingin namanya menjadi jelek.
Musa merogoh kantungnya dan menyerahkan uang seringgit pada Ranta. Sebelum berangkat ia berpesan:
Kalau ada apa-apa, jangan sebut-sebut namaku. Mengerti?
Dengan tajam ia menentang mata Ranta, kemudian berangkat sambil mengayun-ayunkan tongkatnya. (hal. 18)
Dalam novel ini, banyak sekali pesan yang ingin disampaikan oleh Pram. Selain sikap gotong-royong yang harus tetap dilestarikan, terdapat pula sebuah pesan optimis terhadap hidup jika ingin mendapatkan kebahagiaan. Sebagaimana Ranta yang meyakinkan istrinya untuk selalu optimis menghadapi hidup dengan keberanian dan kebosanan mereka terhadap keputusasaan yang justru terus-menerus mengasah sikap berani diri Ranta.
Ada waktunya, Reng, kita akan hidup baik dan senang. Nanti. (hal. 19)
            Kita sudah bosan putusasa. Kita takkan putusasa lagi. Kita akan perbaiki keadaan kita. Bukan, Ireng? (hal. 31)
            Dalam cerita ini pun, terkandung pesan bahwa seorang istri turut andil dalam mencapai keberhasilan dan keoptimisan yang sedang dilakukan oleh sang suami. Seorang istri harusnya mampu menyemangati apa pun yang dilakukan suaminya, selama itu masih wajar dan hal yang positif.
Pram, mampu menyihir kata-katanya menjadi alur cerita yang cukup menegangkan. Kekerasan yang menimpa rakyat kecil di daerah tersebut, nyatanya bisa menumbuhkan semangat baru. Melalui tokoh Ranta, mereka secara perlahan menumbuhkan keberaniannya itu untuk melawan juragan Musa dan anggota Darul Islam lainnya yang sudah mengganggu ketentraman daerah mereka. Ranta dan warga lainnya, perlahan membongkar kelakuan juragan Musa yang licik itu. Dengan suasana penangkapan yang tegang, Ranta dan pihak berwajib bisa memboyong juragan Musa dan pak lurah, yang juga termasuk anggota DI ke dalam penjara. Kemudian Ranta diangkat menjadi lurah sementara, selama pemilihan lurah belum dilaksanakan. Ranta menempati rumah juragan Musa. Inilah hasil akhir dari sikap optimis yang digambarkan oleh Pram melalui tokoh Ranta. Dari penceritaan yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer ini pun, kita sebagai generasi bangsa, harusnya mampu lebih bersemangat lagi untuk mengembalikan tradisi kerja sama yang kuat itu, yakni kesatuan atau sikap gotong royong yang hampir pudar untuk dewasa ini. Amanat yang terkandung di dalam novel ini semoga dapat mengembalikan citra bangsa yang memang sudah ada sejak jaman dahulu.
  
 


 

Tidak ada komentar: