“SEKALI
PERISTIWA DI BANTEN SELATAN”
Tulisan Maulidiyah Hastuti
Pramoedya
Ananta Toer dalam tulisannya kali ini menceritakan suatu peristiwa yang terjadi
di Banten Selatan, kira-kira pada tahun 1957. Sebuah karya sastra pasti
memiliki amanat atau pesan yang ingin disampaikan oleh penulisnya, begitu pun
pada tulisan Pram kali ini. Saya sangat tertarik untuk mengapresiasi Sekali
Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer ini menggunakan pendekatan
didaktis, terlepas novel ini merupakan cerita nyata atau fiktif belaka yang
sengaja Pram tulis di masa itu.
Novel
ini menggambarkan betapa sikap kerja sama atau solidaritas itu sangat besar
pengaruhnya terhadap keberhasilan sesuatu yang akan dicapai. Bentuk perjuangan
dan kerja sama para tokohnya di novel ini sebanding dengan apa yang akan
didapatkan. Semuanya itu terletak pada solidaritas yang dibentuk dengan
keringat keras oleh Ranta. Ranta, “maling” yang akhirnya dapat melepaskan
dirinya dari jeratan sang juragan yang selalu berkhianat. Juragan yang ternyata
anggota Darul Islam, yang senang melakukan penindasan dan kesewenang-wenangan,
dan kemiskinanlah yang menjadi salah satu faktor mengapa kekerasan itu bisa
terjadi.
Darul
Islam disebut-sebut sebagai kelompok pemberontak yang kejam, yang siap kapan
saja untuk menghancurkan orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka. Pada
tulisannya kali ini, Pramoedya Ananta Toer melakukan kunjungannya di beberapa
daerah, bukan hanya di Banten tetapi juga di luar Banten. Yang menarik dalam Sekali
Peristiwa di Banten Selatan ini adalah jalan cerita yang cukup menegangkan
dan pesan mendalam yang ingin disampaikan oleh Pram.
Di
dalam novel ini, Pram menyinggung tentang kerja sama yang saat ini lebih
dikenal dengan gotong-royong. Pram menggambarkan bahwa manusia adalah makhluk
sosial yang membutuhkan manusia satu dengan manusia yang lainnya, dan dengan
bergotong-royonglah suatu perjuangan akan membuahkan hasil. Pesan ini terlihat
sangat mudah diucapkan, tetapi saya yakin pada realitanya sikap kerja sama
semacam ini cukup sulit dilakukan. Terbukti, untuk saat ini masih banyak
manusia yang tidak acuh dengan manusia yang lainnya. Masih banyak kekerasan
yang terjadi.
Dalam
novel ini, Pram membentuk tokohnya, Ranta, menjadi manusia yang berani dan
tangguh. Berawal dari ketakutannya pada ancaman seorang juragan yang bersikap
semena-mena pada dirinya. Juragan tersebut bernama jurangan Musa. Sosoknya
sangat disegani oleh orang-orang kampung sekitar, khususnya rakyat kecil seperti
Ranta dan istrinya, Ireng yang selalu diancam jika tidak memenuhi apa yang
diinginkan oleh juragan Musa, maka kehidupan mereka akan lebih sengsara.
Kearogansian dan sikap semena-mena juragan Musa terlihat ketika ia menyuruh
Ranta untuk menjadi maling dengan mengambil bibit karet yang bukan haknya, dan
juragan licik itu tidak ingin namanya menjadi jelek.
Musa
merogoh kantungnya dan menyerahkan uang seringgit pada Ranta. Sebelum berangkat
ia berpesan:
Kalau
ada apa-apa, jangan sebut-sebut namaku. Mengerti?
Dengan
tajam ia menentang mata Ranta, kemudian berangkat sambil mengayun-ayunkan
tongkatnya. (hal. 18)
Dalam
novel ini, banyak sekali pesan yang ingin disampaikan oleh Pram. Selain sikap
gotong-royong yang harus tetap dilestarikan, terdapat pula sebuah pesan optimis
terhadap hidup jika ingin mendapatkan kebahagiaan. Sebagaimana Ranta yang
meyakinkan istrinya untuk selalu optimis menghadapi hidup dengan keberanian dan
kebosanan mereka terhadap keputusasaan yang justru terus-menerus mengasah sikap
berani diri Ranta.
Ada
waktunya, Reng, kita akan hidup baik dan senang. Nanti. (hal. 19)
Kita sudah bosan putusasa. Kita
takkan putusasa lagi. Kita akan perbaiki keadaan kita. Bukan, Ireng? (hal. 31)
Dalam cerita ini pun, terkandung
pesan bahwa seorang istri turut andil dalam mencapai keberhasilan dan
keoptimisan yang sedang dilakukan oleh sang suami. Seorang istri harusnya mampu
menyemangati apa pun yang dilakukan suaminya, selama itu masih wajar dan hal
yang positif.
Pram,
mampu menyihir kata-katanya menjadi alur cerita yang cukup menegangkan.
Kekerasan yang menimpa rakyat kecil di daerah tersebut, nyatanya bisa
menumbuhkan semangat baru. Melalui tokoh Ranta, mereka secara perlahan
menumbuhkan keberaniannya itu untuk melawan juragan Musa dan anggota Darul Islam
lainnya yang sudah mengganggu ketentraman daerah mereka. Ranta dan warga
lainnya, perlahan membongkar kelakuan juragan Musa yang licik itu. Dengan
suasana penangkapan yang tegang, Ranta dan pihak berwajib bisa memboyong
juragan Musa dan pak lurah, yang juga termasuk anggota DI ke dalam penjara.
Kemudian Ranta diangkat menjadi lurah sementara, selama pemilihan lurah belum
dilaksanakan. Ranta menempati rumah juragan Musa. Inilah hasil akhir dari sikap
optimis yang digambarkan oleh Pram melalui tokoh Ranta. Dari penceritaan yang
ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer ini pun, kita sebagai generasi bangsa,
harusnya mampu lebih bersemangat lagi untuk mengembalikan tradisi kerja sama
yang kuat itu, yakni kesatuan atau sikap gotong royong yang hampir pudar untuk
dewasa ini. Amanat yang terkandung di dalam novel ini semoga dapat
mengembalikan citra bangsa yang memang sudah ada sejak jaman dahulu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar