Jumat, 02 Desember 2011

Foklor Tim Diksatrasia Region Kota Serang- April 2011

KISAH GUNUNG ANAK-ANAKAN


Keberangkatan kami, tim observasi foklor ke daerah Padarincang pada hari sabtu, tanggal 23 April 2011 bertujuan untuk menggali kisah Gunung Anak-anakan yang berada di Kampung Pasir Eurih, Desa Hunyur, Kecamatan Padarincang. Kami mendatangi bapak Atun Lesmana S.pd yang dikenal sebagai Pemandu Wisata Umum Kab. Serang. Sudah banyak orang yang mendatangi beliau untuk menanyakan kisah-kisah yang berada di wilayah tersebut. Bahkan, turis mancanegara pun ada yang mendatangi beliau dalam rangka penelitian tertentu atau hanya sekadar ingin mengetahui kisah-kisah yang berada di Banten. Kemudian, kami juga mendatangi bapak Lesmana Indra Prayoga S.Pd sebagai nara sumber kedua kami. Beliau adalah seorang guru honor di SMP 1 Padarincang. Dari kedua nara sumber itulah kami dapat menelusuri kisah Gunung Anak-anakan yang selama ini banyak menyimpan misteri dan belum terlalu luas dikenal banyak orang. Sebelum menggali tentang Gunung Anak-anakan, kami sempat mengunjungi Banten Lama dan meminta referensi foklor yang akan kami angkat ke dalam tulisan kami. Selain itu, kami juga sudah mengunjungi Gunung Pinang yang terletak di Kampung Giripada, Kecamatan Kramat Watu. Namun, di sana justru kami mendapatkan kekesalan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, yang seenaknya dia membohongi kami. Memberikan alamat palsu tentang kuncen Gunung Pinang tersebut. Maka dari itu, kami memutuskan untuk ke Padarincang dan menggali tentang kisah Gunung Anak-anakan.
***
Kisah Gunung Anak-anakan ini berawal ketika Syekh Mahidin dan 40 muridnya mengembara dan singgah di suatu hutan. Ditengah perjalanan, Syekh Mahidin dan santri-santrinya mendirikan sebuah masjid. Mereka memiliki suatu kebiasaan yang lain dari kebanyakan orang, yaitu buang air kecil di atas tempurung kelapa. Setelah selesai, barulah mereka membuang air seni dari tempurung kelapa ke tanah. Mereka melakukan hal tersebut karena aturanlah yang tidak membolehkan mereka membuang air kecil secara langsung ke tanah. Namun pada suatu hari, Syekh yang ketika itu baru selesai buang air kecil, lupa membuang air seninya dari tempurung kelapa. Beliau tidak sengaja membiarkan air seninya tetap berada di tempurung kelapa. Kemudian, air seni Syekh tersebut diminum oleh seekor babi hutan.
***
Suatu hari, Syekh Mahidin mendengar suara tangisan bayi. Setelah beliau menyusuri hutan, beliau menemukan bayi yang sedang ditunggui oleh seekor babi hutan. Ternyata, air seni Syekh yang diminum oleh babi hutan tersebut sudah menjadi benih yang kemudian tumbuh menjadi janin di dalam perut babi hutan itu, dan kemudian lahirlah menjadi sosok anak manusia. Tak pelak, Syekh dan rombongan yang masih mengembara di hutan itu pun tercengang. Syekh dan para santrinya bertanya-tanya mengapa seekor babi dapat melahirkan anak manusia. Kemudian, untuk meyakinkan siapakah ayah dari bayi itu, Syekh dan rombongan membuat semacam ritual, yaitu Syekh dan para santrinya masing-masing membuat makanan yang terbuat dari beras ketan dan menandainya sebagai simbol agar tidak tertukar, kemudian makanan tersebut disimpan berjajar di tanah. Barang siapa yang makanannya dimakan oleh bayi tersebut, maka dialah ayah dari bayi yang dilahirkan oleh babi hutan itu. Tanpa diduga, bayi itu mengambil makanan yang dibuat oleh Syekh Mahidin. Maka terungkaplah siapa yang menjadi ayah dari bayi tersebut. Syekh Mahidin pun lalu merawat bayi itu hingga ia tumbuh besar.
Karena Syekh Mahidin merasa malu, karena ternyata bayi itu adalah hasil dari air seninya, maka akhirnya Syekh Mahidin bersama bayinya meninggalkan hutan dan ke-40 santrinya. Kemudian, beliau menuju ke suatu gunung yang letaknya di Kampung Pasir Eurih, Desa Hunyur, Kecamatan Padarincang.


***
Bayi  itu pun tumbuh menjadi anak yang cantik dan diberi nama Hartati. Hartati mendapatkan kasih sayang yang luar biasa dari Syekh Mahidin. Setelah anaknya tumbuh semakin dewasa, Syekh mengajak Hartati ke hutan dan kembali ke tempat para santrinya. Namun, sekembalinya Syekh, ternyata di sana sedang ada berita yang mengejutnya, yaitu di dalam masjid yang mereka dirikan,  tepatnya di tempat pengimaman, tumbuh tanaman semacam jamur raksasa. Semua santri yang berada di situ termasuk Syekh Mahidin sendiri tidak dapat mencabut jamur yang sudah hampir menjungkir balikan bangunan masjid itu—karena akarnya terus menjalar. Semuanya panik dan tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Kemudian, dengan keberanian yang besar, Hartati pun ikut mencoba untuk mencabut tanaman itu, karena sebelumnya ia mendapatkan mimpi bahwa dialah yang bisa mencabut tanaman tersebut dan dalam mimpi itu dia memdapatkan petunjuk untuk membuat sampan. Setelah adanya mimpi tersebut, maka Hartati pun membuat sampan. Tanpa diduga, ia bisa mencabutnya. Namun yang terjadi, muncullah mata air yang amat deras. Seluruh santri dan Syekh Mahidin tenggelam ke dalam kubangan air bah tersebut. Sementara Hartati masih selamat, karena ia menaiki sampan yang telah ia buat sebelumnya. Menurut cerita, Syekh Mahidin berubah menjadi buaya putih dan ke-40 santrinya berubah menjadi buaya di rawa danau yang terletak di Cagar Alam di Kampung Suka maju, Desa Citasung, Kecamatan Padarincang.
***
Karena Hartati kemudian hidup sendiri, maka ia pun memutuskan untuk kembali ke gunung, tempat ia dibesarkan. Hartati pun senang menyulam, untuk mengisi hari-harinya. Pada saat dia menyulam, tiba-tiba benang sulamannya terjatuh. Benang sulamanannya itu jatuh terlalu jauh dari tempat Hartati, maka dari itu ia pun berujar demikian,“Barang siapa yang mengembalikan benang itu, bila ia seorang wanita maka akan kujadikan saudara perempuanku, namun jika dia seorang laki-laki maka ia akan kujadikan suami”.
Tanpa ia duga, benang itu ditemukan oleh seekor anjing jantan. Maka akhirnya, mau tak mau Hartati pun menikahi anjing tersebut. Menurut cerita, anjing itu adalah jelmaan dari pangeran yang tengah dikutuk untuk beberapa waktu lamanya. Setelah beberapa bulan, Hartati pun melahirkan anak manusia dan memberinya nama Sangkuriang, yang memiliki arti “tempat harta” (Sangku berarti wadah, dan Riang berarti harta).
Setiap hari, Hartati merawat anaknya dengan penuh kasih sayang—seperti yang dilakukan ayahnya dahulu. Hartati selalu menitah (mengajari anaknya menapak dan berjalan) dengan kesenangan hati yang luar biasa. Anehnya lagi, yang kemudian menjadi misteri hingga saat ini adalah adanya telapak kaki bayi dan kaki orang dewasa yang terpatri di sebuah jajaran batu yang amat besar, yang tidak mungkin ada seorang manusia pun yang dapat memindahkan batu tersebut. Jejak-jejak kaki itu begitu jelas terukir di batu itu. Jejak-jejak kaki itu diduga sebagai jejak kaki Hartati dan Sangkuriang. Batu itu terletak di dekat patung dengan wujud perempuan yang diduga pada zaman dahulu dipakai sebagai sesembahan manusia kepada roh-roh halus. Karena keanehan tersebut, maka oleh warga setempat gunung itu dinamai Gunung Anak-anakan. Namun, untuk saat ini patung dengan wujud perempuan tersebut sudah tidak bisa dijumpai lagi. Diduga patung tersebut sudah dipindahkan oleh pihak-pihak tertentu.

Tidak ada komentar: