KISAH GUNUNG ANAK-ANAKAN
Keberangkatan kami, tim observasi foklor ke daerah
Padarincang pada hari sabtu, tanggal 23 April 2011 bertujuan untuk menggali
kisah Gunung Anak-anakan yang berada di Kampung Pasir Eurih, Desa Hunyur,
Kecamatan Padarincang. Kami mendatangi bapak Atun Lesmana S.pd yang dikenal
sebagai Pemandu Wisata Umum Kab. Serang. Sudah banyak orang yang mendatangi
beliau untuk menanyakan kisah-kisah yang berada di wilayah tersebut. Bahkan,
turis mancanegara pun ada yang mendatangi beliau dalam rangka penelitian
tertentu atau hanya sekadar ingin mengetahui kisah-kisah yang berada di Banten.
Kemudian, kami juga mendatangi bapak Lesmana Indra Prayoga S.Pd sebagai nara sumber
kedua kami. Beliau adalah seorang guru honor di SMP 1 Padarincang. Dari kedua
nara sumber itulah kami dapat menelusuri kisah Gunung Anak-anakan yang selama
ini banyak menyimpan misteri dan belum terlalu luas dikenal banyak orang.
Sebelum menggali tentang Gunung Anak-anakan, kami sempat mengunjungi Banten
Lama dan meminta referensi foklor yang akan kami angkat ke dalam tulisan kami.
Selain itu, kami juga sudah mengunjungi Gunung Pinang yang terletak di Kampung
Giripada, Kecamatan Kramat Watu. Namun, di sana justru kami mendapatkan
kekesalan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, yang seenaknya dia
membohongi kami. Memberikan alamat palsu tentang kuncen Gunung Pinang tersebut.
Maka dari itu, kami memutuskan untuk ke Padarincang dan menggali tentang kisah
Gunung Anak-anakan.
***
Kisah Gunung Anak-anakan ini berawal ketika Syekh
Mahidin dan 40 muridnya mengembara dan singgah di suatu hutan. Ditengah
perjalanan, Syekh Mahidin dan santri-santrinya mendirikan sebuah masjid. Mereka
memiliki suatu kebiasaan yang lain dari kebanyakan orang, yaitu buang air kecil
di atas tempurung kelapa. Setelah selesai, barulah mereka membuang air seni
dari tempurung kelapa ke tanah. Mereka melakukan hal tersebut karena aturanlah
yang tidak membolehkan mereka membuang air kecil secara langsung ke tanah.
Namun pada suatu hari, Syekh yang ketika itu baru selesai buang air kecil, lupa
membuang air seninya dari tempurung kelapa. Beliau tidak sengaja membiarkan air
seninya tetap berada di tempurung kelapa. Kemudian, air seni Syekh tersebut
diminum oleh seekor babi hutan.
***
Suatu hari, Syekh Mahidin mendengar suara tangisan
bayi. Setelah beliau menyusuri hutan, beliau menemukan bayi yang sedang
ditunggui oleh seekor babi hutan. Ternyata, air seni Syekh yang diminum oleh
babi hutan tersebut sudah menjadi benih yang kemudian tumbuh menjadi janin di
dalam perut babi hutan itu, dan kemudian lahirlah menjadi sosok anak manusia.
Tak pelak, Syekh dan rombongan yang masih mengembara di hutan itu pun
tercengang. Syekh dan para santrinya bertanya-tanya mengapa seekor babi dapat
melahirkan anak manusia. Kemudian, untuk meyakinkan siapakah ayah dari bayi
itu, Syekh dan rombongan membuat semacam ritual, yaitu Syekh dan para santrinya
masing-masing membuat makanan yang terbuat dari beras ketan dan menandainya
sebagai simbol agar tidak tertukar, kemudian makanan tersebut disimpan berjajar
di tanah. Barang siapa yang makanannya dimakan oleh bayi tersebut, maka dialah
ayah dari bayi yang dilahirkan oleh babi hutan itu. Tanpa diduga, bayi itu
mengambil makanan yang dibuat oleh Syekh Mahidin. Maka terungkaplah siapa yang
menjadi ayah dari bayi tersebut. Syekh Mahidin pun lalu merawat bayi itu hingga
ia tumbuh besar.
Karena Syekh Mahidin merasa malu, karena ternyata bayi
itu adalah hasil dari air seninya, maka akhirnya Syekh Mahidin bersama bayinya
meninggalkan hutan dan ke-40 santrinya. Kemudian, beliau menuju ke suatu gunung
yang letaknya di Kampung Pasir Eurih, Desa Hunyur, Kecamatan Padarincang.
***
Bayi itu pun
tumbuh menjadi anak yang cantik dan diberi nama Hartati. Hartati mendapatkan
kasih sayang yang luar biasa dari Syekh Mahidin. Setelah anaknya tumbuh semakin
dewasa, Syekh mengajak Hartati ke hutan dan kembali ke tempat para santrinya.
Namun, sekembalinya Syekh, ternyata di sana sedang ada berita yang mengejutnya,
yaitu di dalam masjid yang mereka dirikan,
tepatnya di tempat pengimaman, tumbuh tanaman semacam jamur raksasa.
Semua santri yang berada di situ termasuk Syekh Mahidin sendiri tidak dapat
mencabut jamur yang sudah hampir menjungkir balikan bangunan masjid itu—karena
akarnya terus menjalar. Semuanya panik dan tidak tahu lagi apa yang harus
dilakukan. Kemudian, dengan keberanian yang besar, Hartati pun ikut mencoba
untuk mencabut tanaman itu, karena sebelumnya ia mendapatkan mimpi bahwa dialah
yang bisa mencabut tanaman tersebut dan dalam mimpi itu dia memdapatkan
petunjuk untuk membuat sampan. Setelah adanya mimpi tersebut, maka Hartati pun
membuat sampan. Tanpa diduga, ia bisa mencabutnya. Namun yang terjadi,
muncullah mata air yang amat deras. Seluruh santri dan Syekh Mahidin tenggelam
ke dalam kubangan air bah tersebut. Sementara Hartati masih selamat, karena ia
menaiki sampan yang telah ia buat sebelumnya. Menurut cerita, Syekh Mahidin
berubah menjadi buaya putih dan ke-40 santrinya berubah menjadi buaya di rawa
danau yang terletak di Cagar Alam di Kampung Suka maju, Desa Citasung,
Kecamatan Padarincang.
***
Karena Hartati kemudian hidup sendiri, maka ia pun
memutuskan untuk kembali ke gunung, tempat ia dibesarkan. Hartati pun senang menyulam,
untuk mengisi hari-harinya. Pada saat dia menyulam, tiba-tiba benang sulamannya
terjatuh. Benang sulamanannya itu jatuh terlalu jauh dari tempat Hartati, maka
dari itu ia pun berujar demikian,“Barang siapa yang mengembalikan benang itu,
bila ia seorang wanita maka akan kujadikan saudara perempuanku, namun jika dia
seorang laki-laki maka ia akan kujadikan suami”.
Tanpa ia duga, benang itu ditemukan oleh seekor anjing
jantan. Maka akhirnya, mau tak mau Hartati pun menikahi anjing tersebut.
Menurut cerita, anjing itu adalah jelmaan dari pangeran yang tengah dikutuk
untuk beberapa waktu lamanya. Setelah beberapa bulan, Hartati pun melahirkan
anak manusia dan memberinya nama Sangkuriang, yang memiliki arti “tempat harta”
(Sangku berarti wadah, dan Riang berarti harta).
Setiap hari, Hartati merawat anaknya dengan penuh
kasih sayang—seperti yang dilakukan ayahnya dahulu. Hartati selalu menitah
(mengajari anaknya menapak dan berjalan) dengan kesenangan hati yang luar
biasa. Anehnya lagi, yang kemudian menjadi misteri hingga saat ini adalah
adanya telapak kaki bayi dan kaki orang dewasa yang terpatri di sebuah jajaran
batu yang amat besar, yang tidak mungkin ada seorang manusia pun yang dapat
memindahkan batu tersebut. Jejak-jejak kaki itu begitu jelas terukir di batu
itu. Jejak-jejak kaki itu diduga sebagai jejak kaki Hartati dan Sangkuriang.
Batu itu terletak di dekat patung dengan wujud perempuan yang diduga pada zaman
dahulu dipakai sebagai sesembahan manusia kepada roh-roh halus. Karena keanehan
tersebut, maka oleh warga setempat gunung itu dinamai Gunung Anak-anakan.
Namun, untuk saat ini patung dengan wujud perempuan tersebut sudah tidak bisa
dijumpai lagi. Diduga patung tersebut sudah dipindahkan oleh pihak-pihak
tertentu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar