Rabu, 08 Februari 2012

Puisi Seleksi untuk Antologi "Puisi Perempuan" Kubah Budaya- 2012


Perjalanan Menuju Peron

Carut. Tudungku carut marut. Diacak angin ditampar tanpa henti
Merahlah segala wajahku
Ah, pagi yang sial !

Memang nyata biru pagi ini,
Tanpa rintik atau sekadar mega mendung
Tapi aku digelitik, dibuat sendu semendung rindu
Ah, rindu yang terlalu beku !

Ini kali perjalananku menuju peron
Lambai bertemu berharap mengatup mata,
Mata yang kukenal
Alis yang selalu mengundang tanya
“Adakah sendu yang sama dari pemiliknya?”

Oh angin angin yang menculik gadis di pagi buta
Hari ini aku jumpa
Pada yang lama aku simpan
dalam peron yang tak berangan

Desember 2011

Tepi Stasiun Gambir

Stasiun Gambir, Kamis, Desember.
Bising. Legam. Jakarta hampir menumpahkan semua air matanya
Berjalan meneduh gigil. Mencari mata yang sama di hilir lalu lalang banyak mata
Menangis. Merangkai beku.
Meneriakkan kerinduan di tengah hujan badai yang menyeka
Mereka-reka, menanduk kepucatan yang sama luka

Stasiun Gambir, Kamis, Desember.
Bertemu. Pergi. Meninggalkan air mata serata peron.
Bising. Jakarta hampir menenggelamkan isakku.

Desember 2011

Aku dan Temaram April Lalu

ada semacam ikatan saling menyilang
antara aku dan temaram april lalu
suaranya mengingatkan aku
pada mendung yang tak kunjung hujan
aku,
merasai gelisah yang cemas mencemaskan
kekhawatiran awan pada petir yang menyambar bougenville
lantas, menyusun kembali apa-apa yang kusebut sakit
aku masih terpenjara, kasih
masih menjadi pesakitan yang abadi
yang hanya berdiri jika pecut itu menyetubuhi punggungku

Serang, 14 Desember 2010

Di Garis yang Sama

lain setahun, lain pula satu windu
adakah yang lain,
yang menggariskan tinta itu di sini
di tempat kita yang semakin mengisahkan rindu

bukankah suaka tidak lagi mengenal waktu?
baginya, hanya cahaya dan redup mentari yang membuatnya bertahan
lalu apa yang menjelma resah di hari-hari kita?
Ingatlah, bumi mengajarkan kita tetap tegak di garis yang sama

An,
lihatlah jelas kelenjar merah di dadaku
kerinduan yang tak sempat mengeja waktu
bahkan hanya untuk satu tahun
An,
dengarlah jelas parau suaraku
yang telah menipis meneriakkan namamu di setiap waktu
di setiap langit-langit yang mulai berkaca
membenturkan air mata yang kian mencemaskan

bayangkanlah mata tuhan
di setiap malam yang memucatkan sanubari
aku ada, dan kita tegak di garis yang sama

Januari 2012

Kehilangan yang Teramat

seperti kehilangan bola mata saat ini
tak mampu lagi melihat
rasanya gelap apa-apa yang aku genggam
adakah kesialan lain yang akan menimpaku?
mungkin hari ini, atau bahkan detik ini aku akan merasakannya

bukankah Tuhan tahu apa yang seharusnya aku telan?
bersama mendung mega, atau bahkan hujan deras yang membunuh khayalanku
aku benar-benar kehilangan bola mata
tidak lagi sanggup memerhatikan duniamu
tidak lagi sanggup menyusuri matamu yang sesak
yang kerap menjebakku, memaksa aku untuk mengguratkan rindu di mata yang sama

Januari 2012 

Hanya Aku !

seperti tertelan masa lalu, aku berada di pusaran yang semakin kencang
menghempaskan tubuhku, menggetarkan potongan-potongan tragedi
yang sudah aku tanam lebih dalam dari tiang-tiang lalu lintas di perbatasan selat sunda
aku memusatkan ingatanku

nyatanya,
tak ada yang menguatkan
ketika hampir sebagian tubuhku tenggelam di pelataran asa yang sempat kami rajut
lempang rasanya,
tak ada yang menggelayuti hati
tak ada yang berujar,”Sayang, sampai maut itu tiba, aku akan tetap menjadi sang untukmu. Percayalah, aku mampu mencintaimu, sampai akar rinduku habis membelit waktu kita!”

hanya aku satu-satunya wanita yang mampu menghentikan air matanya
ketika menuruni setiap jengkal rasa cemas yang dia punya
hanya aku yang mampu menimang gelisahnya,
menidurkannya dengan sehelai senyum yang mampu menghangatkan raganya yang gigil
hanya aku
ya,
hanya aku yang mampu percaya, ketika dia bercerita ingin menjadi sang
dari segala sang yang pernah dia temui
hanya aku yang mampu, yang sanggup, yang kuasa untuk membuat dia merindukan
nyaman di setiap pijakannya
hanya aku, tempat dia kembali !

Agustus 2011

Bangkai!

aku luluh kali ini, di hadapan pasang mata yang menghakimiku
tak pernah meminta bahkan mengharapkan ini ada
namun tuhan,
meneriakkannya tepat di gendang telingaku yang hancur sudah
ya,
hancur bersama bom waktu yang diledakkan dewa semayam
aku tetap kaku, meluluhkan diri di sekian pasang mata yang merantai
aku akan menjadi bangkai!
membusuk, tak tahu apa-apa.
tapi bangkai tetap saja bangkai
meski tak salah, tetap saja menjadi pidana
ya,
pidana dalam hidupnya sendiri
berteriak, menjadi yang gila dari apapun yang pernah menjadi gila
aku tetap bangkai, bangkai !

Januari 2012

Sajak untuk Ibu

ketika keringat bukan lagi apak dan asam
ketika tenaga bukan lagi lelah dan keluh
kau tetap mengayuh nasib ke ujung lapak
ke singgasana yang termanis
menyenandungkan kidung di setiap tidurku
menelan duri hidup di belakangku
tanpa aku tahu, kau meringis perih, Ibu
kau menumpahkan segenap kepedihan di liang bola matamu
kau habiskan seluruh budimu untuk kami
untuk kami, yang kau anggap mutiaramu

Serang, 05 Mei 2011

Sajak Mei

bahasa Mei adalah bahasa ibu menyanyi
menyunting kata dengan alunan irama suci
berdendang,
mengeja syair dengan cinta

bahasa Mei adalah bahasa darah
bahasa nadi yang terukir di tubuhku
sajak ini sajakmu, surgaku
yang tiada henti bernyanyi untukku
yang memberikan segenap surya untukku
aku sanggup bertaruh dengan apapun
untuk menjaga bahasamu agar tetap penuh cinta
aku mencintai bahasamu, Ibu

Serang, 05 Mei 2011





Mencintaimu seperti…

aku mencintaimu,
seperti kau mencintai batang rokok yang kau sulut,
lalu kau hisap dalam-dalam
di antara bibirmu yang hitam legam

lama sudah tak terhitung
aku bersua dalam cengkram api yang menyulut
lalu asapmu ku hentikan
bersama awan mendung di ujung bolamataku,
di ujung lengkung bibirmu yang mencari rindu kehilangan

tatap ratap tentang sungaiku
yang terus mengalir di pelipisku
bersama awan yang menghitam
tiada bergumpal, namun terus mengalir deras

14 Februari 2010


Minggu, 05 Februari 2012

Cerpen dalam "Antologi Cerpen Bulan Kebabian"


Burung Kematian
Cerpen Maulidiyah Hastuti
 

Selesai makan malam, aku keluar dari kamar dan duduk di teras rumah di bawah pohon mangga yang lebat daunnya. Memandang langit malam yang cerah dengan bintang-bintang. Mendengarkan suara radio tetangga yang sedang memutarkan lagu melayu. Lembut suara penyanyi itu. Aku memainkan mata memerhatikan sekeliling. Sepi. Senyap. Tak ada satu pun orang yang lalu lalang di depan rumah. Gang sempit di samping rumah pun terasa sunyi, tidak ada anak-anak kecil yang bermain di situ. Tampak berbeda malam ini.
Tapi, dari arah lain aku mendengar sedikit keributan. Sepertinya agak jauh. Entah dari arah mana. Aku tegakkan telingaku. Semakin lama, semakin samar suara itu. Tapi aku sempat mendengarnya.
“Hei, sudah cukup kau permainkan aku! Aku ingin lepas dari keadaan seperti ini. Aku bukan budakmu. Dasar sinting!”
Aku terkejut mendengar kata-kata itu. Tidak lama, terdengar suara tamparan dan kata-kata yang lebih kasar.
“Dasar jalang! Tak tahu diuntung kau. Apa maumu? Pelacur bodoh!”
Aku semakin terkejut dan sepertinya aku mengenali suara lelaki itu. Tapi aku sedikit lupa, suara siapa itu. Kemudian hening kembali. Sayup-sayup masih terdengar lagu melayu yang mengalun merdu. Sambil mengikuti liriknya yang aku hafal, aku mencoba mengingat suara tadi. Tapi aku tidak berhasil. Suara itu lantas hilang entah kemana. Aku sedikit kesal karena tidak mampu mengingatnya. Tapi aku tidak pedulikan lagi. Aku mulai menikmati kesendirianku malam ini.
Bulan semakin tinggi di atas sana. Lagu melayu tidak lagi aku dengar. Semakin sepi. Jam dinding menunjukkan pukul sembilan, cericit burung kematian terdengar olehku. Terbayang kembali kisah kematian datuk Abdul dan Anissa tempo hari. Burung itulah yang menyebabkan aku jatuh sakit sampai berminggu-minggu.
Malam itu, aku dan beberapa kawan mainku duduk di bawah pohon mangga, tepat di tempat aku saat ini menyendiri. Dari teras rumahnya, datuk Abdul memanggil kami.
“Cu, sini!” katanya sambil membenarkan lintingan sarungnya yang agak kendor.
“Ada apa ‘Tuk?” Riyan  menyahuti panggilan datuk Abdul.
“Sini! Datuk ingin bercerita. Kalian pasti senang mendengarkannya. Cepat kemari, cu!” bujuknya, kemudian melambaikan tangannya kembali ke arah kami dan ia duduk di kursi kayu kesenangannya. Kami pun menghampiri datuk Abdul dan duduk di sampingnya.
Datuk Abdul tinggal bersama istinya, Nek Liah. Seorang nenek yang baik hati dan senyumnya amat manis. Mereka dikarunia dua orang anak. Kedua anaknya pindah ke luar kota dan hanya setahun sekali menjenguk kedua orang tuanya, itu pun jika diminta oleh Nek Liah atau datuk Abdul. Sehari-hari, Nek Liah bekerja di kebun cengkeh milik bapak Dharma. Dulu, kebun itu milik datuk Abdul, namun karena datuk Abdul jatuh sakit dan harus dirawat di Rumah Sakit, maka Nek Liah dan datuk Abdul sepakat untuk menjual kebun cengkeh tersebut. Ingin mengandalkan kedua anaknya, nek Liah dan datuk Abdul tidak akan bisa, karena kedua anaknya  sulit untuk dihubungi. Kini, nek Liah harus bekerja di sana, mencari nafkah untuk dirinya dan suaminya tercinta. Aku kagum terhadap mereka. Meski banyak tetangganya yang berbicara negatif tentang anak-anak mereka, tapi mereka tetap sabar dan berusaha menutup-nutupi hal itu.
“Nek, si Ita sudah jarang ke sini. Kemana dia? Anak durhaka. Tidak ingatkah dia kalau kedua orang tuanya masih hidup?”
“Ita dan abangnya sibuk Ri. Mungkin belum sempat untuk datang kemari.”
Yah, seperti itulah nek Liah. Ketika suatu sore, kak’Ria yang juga kawan main kak’Ita dulu, menanyai tentang kawan kecilnya itu kepada nek Liah. Nek Liah tidak ingin terhasut oleh cibiran orang lain mengenai anaknya. Aku, yang ketika itu sedang bersama kak’Ria melihat raut muka nek Liah yang tampak biasa saja, padahal perkataan kak’Ria terdengar begitu kasar.
Seakan-akan kehidupan orang tua itu penuh kebahagiaan meski tanpa anak-anaknya. Tapi kami semua tahu, mereka resah dengan keadaan yang seperti itu, hanya saja kami tidak ingin ikut campur terlalu dalam, karena ini urusan keluarga datuk Abdul dan nek Liah.
Aku duduk di samping kiri datuk Abdul malam itu. Kami duduk melingkar, dan semua memusatkan perhatiannya ke arah datuk Abdul. Kami menunggu agak lama sebelum akhirnya datuk Abdul mulai bercerita tentang Malin Kundang. Rosita terlihat agak malas mendengarkan cerita itu.
“Ah, bosan datuk. Malin Kundang sudah sering aku dengar. Cerita yang lain saja.”
Kami pun turut menganggukkan kepala, tanda setuju. Datuk Abdul merhatikan kami satu persatu.
“Hmm..baiklah, datuk akan bercerita tentang…”
Belum saja datuk Abdul melanjutkan perkataannya, terdengar suara burung yang sangat mengerikan.
Aarrk..ark..aaaarrkk…
“Kalian semua dengar, adakah yang tahu suara burung apa itu?”, kata datuk Abdul, sebelum melanjutkan kata-katanya yang pertama.
Kami saling pandang. Dengan saksama kami mendengarkan suara burung itu.
Aaarrk..aarkkk..aaaarkk..
“Burung apa itu, ‘Tuk?” tanyaku.
“Itu burung kematian. Burung dari surga yang mencari teman untuk dibawa ke taman Firdaus.” Jawabnya, membuat bulu kudukku berdiri.
Sementara itu, Anissa meringis ketakutan memeluk Rosita. Datuk Abdul mencoba menenangkan Anissa.
“Haa, tidak apa-apa cu, itu hanya dongeng saja. Walau pun ada yang diajak oleh burung itu, pasti bukan kalian. Kecuali kalian memang mau diajak ke taman Firdaus. Ada yang mau ikut?”
Canda datuk Abdul sama sekali tidak membuat kami tertawa, untuk senyum saja kami tak sanggup.
Suara burung itu begitu menggelegar. Ganas. Seakan-akan ia sedang buas mencatat “teman” yang akan diajaknya ke taman Firdaus. Kami serempak ingin pulang dan meninggalkan datuk Abdul. Namun, datuk Abdul buru-buru mencegah kami.
“Hendak ke mana? Di sini saja dulu, temani datuk. Mungkin saja besok-besok datuk sendirian di tempat sepi dan gelap, dan kalian tidak bisa lagi melihat datuk. Kalian tidak ingin seperti itu kan?”, rayunya.
“Tapi Ani takut, datuk. Ani takut mendengar suara burung itu.”
“Ya sudah, abaikan saja.”
“Aku pernah mendengar kisah burung kematian itu ’Tuk.”
Perkataan Agus membuat Anissa semakin merapat pada aku dan Rosita, sementara Riyan tenang-tenang saja memerhatikan Agus yang tampak serius.
“Ceritakan Gus!”, pinta Riyan pada Agus.
            Agus semakin semangat ingin menceritakan tentang burung kematian itu.
“Konon, dulu kabarnya ada seorang pengkisah yang menceritakan mengapa burung itu ada di bumi. Menurut dia, burung kematian itu sengaja dilepas oleh Tuhan untuk memberi tanda, bahwa setelah kemunculan burung tersebut, akan ada orang yang meninggal dunia. Hal itu karena diajak oleh burung kematian.”
“Kalau begitu, sebentar lagi akan ada yang meninggal. Mungkinkah di antara kita yang menjadi korban ajakan burung itu?”, tanya Riyan, penuh keluguan.
            Anissa mengeluarkan airmata. Ia menangis. Telapak tangannya ia pautkan pada siku Rosita, kepalanya tunduk menyandar di bahu Rosita. Rosita mencoba menenangkan Anissa. Sedang aku mencari kepastian cerita Agus pada kedalaman mata datuk Abdul. Datuk Abdul tampak diam. Seakan ada sesuatu yang ia takutkan, namun ia berusaha untuk tenang di hadapan kami. Aku perhatikan lebih dalam matanya. Terpaku. Tak bergerak. Matanya tak bergerak. Senyumnya tipis. Kedua tangannya ia lipat, disimpannya di atas lintingan sarung berwarna cokelat tua itu. Menghela napas dan menyandarkan kepalanya pada bahu kursi kayu. Datuk Abdul terlihat sangat lelah. Ia memejamkan matanya perlahan. Aku lihat, teman-temanku tidak ada yang merhatikan kejadian aneh itu. Semuanya tampak serius mendengarkan cerita Agus. Semakin aneh tingkah datuk Abdul. Ia benar-benar tidak bergerak, lantas aku berteriak histeris melihat tingkah datuk Abdul itu.
“Datuk…! Datuk…!”
            Yang lain mengikuti arah telunjukku yang tertuju pada datuk Abdul. Riyan berdiri dan menarik lengan Agus.
“Bantu aku, Gus!”
            Riyan dan Agus mencoba menggoyang-goyangkan tubuh datuk Abdul. Posisi tubuh datuk Abdul sedikit miring ke kanan. Masih memejamkan matanya. Anissa menangis semakin kencang. Tangisan Anissa membangunkan nek Liah dari tidurnya. Tampak panik, kemudian nek Liah ikut menggoyang-goyangkan tubuh datuk Abdul. Sementara itu, suara burung kematian terus berkoar kencang.
“Apakah ini tanda dari kedatangan burung itu, Gus?”, tanya Riyan semakin panik.
“Aku tidak tahu.” bisik Agus.
            Aku dan Rosita bingung harus berbuat apa. Tapi aku yakin, datuk Abdul masih dalam keadaan hidup. Napasnya masih ada. Kami semakin kencang menggoyang tubuh datuk Abdul. Kemudian datuk Abdul terbangun dan perlahan membuka matanya.
“Ada apa, cu?”, tanyanya pada kami yang sedang panik. Sementara ia kebingungan dengan tingkah kami dan nek Liah.
“Datuk mengantuk?”, tanyaku.
“Iya. Lelah sekali, habis bermimpi tadi.”
Huft, syukurlah. Ya sudah, Datuk istirahat saja. Kami juga ingin pulang, ingin istirahat.”
“Ya sudah. Datuk ke dalam ya, cu.”
            Nek Liah menuntun datuk Abdul ke dalam rumah mereka. Datuk Abdul masih bertanya-tanya tentang kejadian tadi pada nek Liah. Dia masih tidak menyadarinya. Kami pun meninggalkan rumah datuk Abdul. Riyan masih penasaran dengan cerita Agus, dan menanyakannya terus. Sedangkan Anissa tampak tenang, karena tidak lagi  mendengarkan cerita yang menurutnya seram itu, dan memang membuat bulu kudukku terus berdiri.
***
            Esoknya, aku dan Rosita menjenguk Anissa yang dikabarkan sakit dan tidak masuk sekolah. Ibunya menyambut hangat kedatangan kami.
“Mak’ci, Anissa ada?”, tanya Rosita.
“Ada di dalam, sakit dia sejak semalam. Badannya menggigil, tapi suhu tubuhnya panas.”
“Kalau begitu, kami boleh menjenguknya Mak?”
“Masuk saja nak. Di kamar dia, sedang berbaring.”
Aku dan Rosita menaiki tangga kayu untuk sampai memasuki pintu rumah Anissa. Kami masuk ke kamarnya. Tampak pucat dia. Terdapat handuk kecil berlipat di atas jidatnya. Matanya kosong menatap kami. Senyumnya tidak lagi ceria. Dia terlihat lemas sekali.
“Nis, kau kenapa? Semalam masih baik-baik saja.” Tanyaku.
“Aku tidak tahu. Badanku terasa sakit. Mungkin aku masih takut dengan cerita tadi malam.” jawabnya.
            Kami mencoba menghibur Anissa dengan cerita-cerita lucu, agar ia bisa melupakan kisah burung kematian itu. Anissa tersenyum mendengarnya. Setelah dirasa agak lama kami bercengkrama, aku dan Rosita berpamitan pulang.
***
Pagi harinya, selepas adzan subuh, aku mendengar kabar kematian datuk Abdul dari pelantang suara di masjid desa. Aku terkejut, dan berlari menghampiri ibu yang sedang menyiapkan beras untuk melayat.
“Bu, benarkah itu berita kematian datuk Abdul?” tanyaku.
“Iya nak. Kira-kira jam empat subuh tadi, nek Liah melihat datuk Abdul sudah tidak bernyawa.”
Aku kembali ke kamar dan menghubungi Agus lewat telepon genggamku.
“Halo..Agus, sudahkah kau dengar kabar kematian datuk Abdul?”
“Sudah, Ris. Aku masih lemas sekarang. Ternyata mitos burung itu benar. Atau memang hanya kebetulan saja?”
“Aku tidak tahu. Yang pasti, berita ini benar-benar membuat aku takut mendengar suara burung itu lagi. Kapan kita melayat datuk Abdul?”
“Sebelum berangkat ke sekolah. Aku sedang siap-siap. Riyan dan Rosita sudah aku hubungi.”
“Anissa bagaimana? Dia sedang sakit, apa boleh melayat?”
“Aku tidak tahu. Kau saja yang menghubungi dia, Ris.”
“Ya sudah, nanti aku yang menghubungi dia. Sampai bertemu di tempat datuk Abdul.”
Setelah aku menutup teleponku dengan Agus, aku menghubungi Anissa, dan dia bersikeras ingin ikut melayat. Walaupun ibunya sempat melarang dia untuk ikut bersama kami. Tapi dia tetap memaksa ijin ibunya untuk pergi, dan akhirnya, kami semua melayat ke tempat datuk Abdul. Anissa masih terlihat pucat. Hanya dia yang tidak berseragam sekolah di antara kami, karena dia masih lemas dan tidak masuk sekolah lagi.
***
            Kami berbincang lagi mengenai burung kematian. Mitos itu membuat kami penasaran, dan kami bertanya kebenaran itu pada datuk Halim, penjaga sekolah kami yang banyak tahu tentang mitos-mitos di desa kami. Menurut datuk Halim, mitos burung itu memang sering terjadi. Apalagi, kematian datuk Abdul di hari sabtu. Mitosnya, akan ada yang melanjutkan kematian itu. Akan beruntun. Aku tidak ingin mendengar cerita datuk Halim, tapi aku penasaran dan tak kuasa untuk beranjak dari tempat dudukku. Kemudian Riyan dan Agus saling pandang, mata mereka tertuju padaku yang sedang resah. Aku bingung. Apa maksud tatapan mereka padaku.
“Benarkah itu?” tanya Rosita pada datuk Halim.
“Ya, yang sudah terjadi memang begitu, Ta. Orang yang meninggal pada hari sabtu atau selasa, akan mengajak teman, dan terjadilah kematian beruntun. Seperti kisah kematian bapak Wira tempo dulu, dan mengenai burung kematian itu, sudah tentu menjadi tanda untuk orang selanjutnya yang akan menyusul datuk Abdul.”
“Aku tidak percaya. Ini semua sudah takdir. Jangan lagi kalian mengait-kaitkan tentang ini!” aku menepis ketakutanku.
Aku meninggalkan mereka. Pulang ke rumah. Menyelesaikan pekerjaan rumah dengan pikiran yang bercabang.
‘apa benar tentang mitos-mitos itu?’
***
Malamnya, aku duduk di bawah pohon mangga bersama Agus dan Rosita. Kami mencoba untuk melupakan cerita mitos itu. Kami mengingat masa-masa SMP kami. Tapi sayang, untuk malam ini Anissa dan Riyan tidak bisa berkumpul dan mengenang masa-masa terindah kami dulu. Kami  tertawa mengingat tingkah Riyan yang polos waktu itu, yang tidak pernah mau mengalah walaupun lawannya seorang wanita lugu seperti Anissa. Namun, tiba-tiba aku melihat Riyan berlari ke arah kami. Napasnya tersengal, keringatnya bercucuran, mengalir melewati pelipis dan jatuh mengenai kulit tangannya.
“Nis..Nissa…Nissa”, kata-katanya terpenggal.
“Nissa kenapa, Yan?” tanyaku.
Rosita mengerti. Dia berdiri, lalu berlari sekencang-kencangnya meninggalkan aku dan Agus yang belum mengerti maksud Riyan. Kemudian Agus mengikuti Rosita. Berlari, meninggalkan aku dan Riyan. Kami saling pandang. Dalam sekejap, Riyan menarik lenganku. Kami pun berlari menuju rumah Anissa— yang tidak terlalu jauh jaraknya dengan rumahku, hanya melewati dua gang. Di sana sudah banyak orang yang berlalu lalang. Bendera kuning sedang dikaitkan pada gentong-gentong besi di pinggir jalan, yang searah dengan rumah Anissa. Seketika itu aku menangis. Suara Rosita terdengar lebih dulu. Ia menangis kencang di pangkuan ibu Anissa.
Anissa menyusul kematian datuk Abdul. Kematian beruntun. Aku tidak habis pikir, mitos itu membuat aku kehilangan sahabatku. Aku dan Rosita menangisi jenazah Anissa, sedang Agus dan Riyan mengaji di samping kami. Kemudian aku pulang ke rumah untuk mengambil jilbab. Niatku, malam ini akan mengaji untuk jenazah Anissa. Dengan terisak, aku berjalan lemas sambil sesekali memerhatikan sekelilingku. Dengan tidak sengaja aku mendengar suara burung kematian itu dan aku mengarahkan tatapanku ke atas genting rumahku, dan kulihat burung kematian santai bertengger di sana. Aku terkejut dan jatuh pingsan, tidak sadarkan diri. Tidak tahu lagi apa yang terjadi di malam itu. Esoknya, aku merasa sangat lemas dan mengalami hal yang sama dengan Anissa, jatuh sakit selama  berminggu-minggu. Baru malam ini aku bisa berjalan dan dapat menghirup udara di luar rumah, mengingat masa-masa kemarin bersama kawan-kawanku, terutama Anissa. Ternyata, cerita kematian datuk Abdul dan Anissa membuat beberapa anak takut untuk keluar malam. Pantas saja, malam ini begitu sepi dan mencekam. Suara burung itu pun mulai terdengar lagi. Ibu memanggil, menyuruh aku masuk ke dalam rumah.
‘Apakah burung itu mencatat namaku sebagai kawannya untuk malam ini?’
           

                                                                                                                        Serang, 2010






: Nominasi Sayembara Menulis Cerpen Tingkat Mahasiswa se-Indonesia UKM Belistra FKIP Untirta 2011


Sabtu, 04 Februari 2012

LIMA VARIASI UNTUK MAULIDYA HASTUTI DARI ROZI KEMBARA



MUNGKIN KAMU SEDANG (TIDAK)  DUDUK DI SAMPINGKU

mungkin kamu sedang tidak duduk di sampingku,
ketika jemari musim menyalakan kenangan

ada sepasang bayangbayang berbincang
di temaram lampu tepian sebuah ruang
barangkali membicarakan ihwal kejenuhan
yang terus dipertahankan

:hidup

atau mungkin sebenarnya kamu sedang duduk di sampingku,
di bangku yang separuh nyata dan aku tidak menyadarinya
setelah ingatan disulap menjadi kabut
yang menyamarkan pandangan & pikiran

sepasang bayangbayang lamatlamat, lantas menghilang
namun sepasang perbincangan kekal sebagai perbincangan
yang terus dikumandangkan ketiadaan

2011



INTERUPSI

“kita perlu sekelumit interupsi”

itulah yang mesti kamu katakan pada kesedihan
ketika di luar kamar hanya angin fana
dan napas yang berhembus tak bisa kembali lagi

“hanya sekelumit interupsi ?”

sebab yang berlebihan lebih sering tidak menyenangkan, bukan?
cukup sekelumit, lalu hari bersalin melahirkan varian kesedihan lain.
dan kamu kembali mengatupkan jendela kamar
dengan pikiran menyerupai adegan dalam sirkus
yang menakjubkan sekaligus menjemukan

“bagaimana dengan pertanyaan semacam ini
: kapan usai, kapan selesai ”

tentu saja segalanya akan usai (mungkin) juga selesai
tatkala nyawa berbatasan dengan muara cahaya, ketika
napas mencapai akhir kuota

lantaran tuhan, dan konon hanya tuhan yang tak mengenal
kata usai & selesai

2011
 

SESUATU TENGAH MERANGKUL MATAMU

sesuatu tengah merangkul matamu yang sejernih gerimis
ia barangkali hanya duka selintas, atau dosa yang ditemukan eva
ketika khuldi melewati rongga tenggorokannya

entah duka selintas entah dosa yang melewati tenggorokan eva
namun sesuatu itu telah melemparkanmu dalam deretan fiksi
tentang cinta dan perasaanperasaan yang menciptakan riwayatnya sendiri

dinding kamar melulu putih dan kosong
begitupun plafon yang menahan deras angan
sedangkan tingkap seperti depresi yang enggan dibuka

“cepat jabarkan apa sesuatu itu, agar aku tentram dalam kepurapuraan!”

sesuatu itu (barangkali) duka, mungkin saja dosa, atau bisa jadi
perpaduan keduanya, dosa+duka

:ihwal omong kosong belaka

ia adalah kemungkinan yang terus menerus dilahirkan
utuk menjadi siasia

ranjang tidak lagi dingin
udara mengertap dari balik ventilasi
dan lantai memantulkan parasmu yang kembali purba

“hey, tetapi aku belum tentram dan masih …”

memang demikian adanya, ketentraman hanya fatamorgana
yang dijatuhkan dari langit entah oleh siapa

2011

CERITA BUAT MAULIDYA

segalanya mengingatkanku pada setiap hal yang tidak lagi ada
ketika kamu berkata: “ini hari aku menangis tiga kali”

mulanya biasa saja, udara masih lentur dan gembur,
kemudian kamu pun berkata lagi :
 “esok mungkin aku akan menangis, tapi tidak tiga kali”

mengapa mesti, kekasih, mengapa mesti wanita
menyelesaikan segalanya dengan sepasang mata
yang seakan sangat memahami tabiat hujan

“seseorang dari radius yang asing lunas mengucapkan sayang,
seseorang lagi dari jarak yang tidak begitu jauh sedang menyalakan
pitam, dan seseorang yang lain…”

jadi memang segalanya membutuhkan dalih yang terkadang lirih
terkadang setengah pedih. udara lekas redup menghisap percakapan.
ruangan ini akan sampai pada tahap di mana tidak ada lagi gerak dan suara
(begitupun kita)

pada pukul 22:00 percakapan kita mencapai kata “selesai”
lantaran kepulangan telah ditetapkan
dan waktu yang menyerupai kelewang itu seakan terus mengintai

seluruhnya : kalimatkalimat letih, tatapan yang sekilas namun membekas,
senyum yang pucat dan percakapan yang sarat isyarat

begitu lekas melambai pada batas, pada usia, pada waktu, dan pada
apapun yang menyebabkan kita seolaholah nyata

“waktunya tiba, aku pulang menyongsong kekosongan lain, melankoli lain”

menyongsong apa saja yang mengandung kenangan?

“mengandung kehilangan”

maka malam tergelincir ke dalam lubuk gaib jaman, kota menjadi lelap
dan tak ada sedikitpun ucapan selamat tinggal yang dramatis kecuali gelap

2011

KE ARAH SELATAN

ke arah selatan kamu akan berpulang
menujum kemungkinankemungkinan lain, mencecap variasi
atas tragedi yang menjelma sirkel api

dan malam semakin memancarkan warna merah karat
tatkla terngiang kembali percakapan yang hanya sesaat

(pada sebuah ruang gaduh yang tentu saja jauh dari utuh) :

 “di rumah hanya ada jenuh yang berat, sangat berat”

tapi kamu memiliki fantasi, dan bukubuku yang membangun ilusi

“akankah kita terus beriman pada ilusi, terhadap fantasi”

terkadang kita harus percaya pada sesuatu yang diaggap tidak pasti,
seperti pahala & dosa misalnya, dan surga, dan neraka, dan cinta

“ah..”

ke arah selatan kamu akan menghilang
menyambut pergantian musim dengan mata senantiasa berair
seperti karanghantu yang dahulu merekam riuh suara pasasir

“di selatan hanya ada jejak riuh..”

juga manik matamu yang seakan runtuh


2011