Sabtu, 04 Februari 2012

LIMA VARIASI UNTUK MAULIDYA HASTUTI DARI ROZI KEMBARA



MUNGKIN KAMU SEDANG (TIDAK)  DUDUK DI SAMPINGKU

mungkin kamu sedang tidak duduk di sampingku,
ketika jemari musim menyalakan kenangan

ada sepasang bayangbayang berbincang
di temaram lampu tepian sebuah ruang
barangkali membicarakan ihwal kejenuhan
yang terus dipertahankan

:hidup

atau mungkin sebenarnya kamu sedang duduk di sampingku,
di bangku yang separuh nyata dan aku tidak menyadarinya
setelah ingatan disulap menjadi kabut
yang menyamarkan pandangan & pikiran

sepasang bayangbayang lamatlamat, lantas menghilang
namun sepasang perbincangan kekal sebagai perbincangan
yang terus dikumandangkan ketiadaan

2011



INTERUPSI

“kita perlu sekelumit interupsi”

itulah yang mesti kamu katakan pada kesedihan
ketika di luar kamar hanya angin fana
dan napas yang berhembus tak bisa kembali lagi

“hanya sekelumit interupsi ?”

sebab yang berlebihan lebih sering tidak menyenangkan, bukan?
cukup sekelumit, lalu hari bersalin melahirkan varian kesedihan lain.
dan kamu kembali mengatupkan jendela kamar
dengan pikiran menyerupai adegan dalam sirkus
yang menakjubkan sekaligus menjemukan

“bagaimana dengan pertanyaan semacam ini
: kapan usai, kapan selesai ”

tentu saja segalanya akan usai (mungkin) juga selesai
tatkala nyawa berbatasan dengan muara cahaya, ketika
napas mencapai akhir kuota

lantaran tuhan, dan konon hanya tuhan yang tak mengenal
kata usai & selesai

2011
 

SESUATU TENGAH MERANGKUL MATAMU

sesuatu tengah merangkul matamu yang sejernih gerimis
ia barangkali hanya duka selintas, atau dosa yang ditemukan eva
ketika khuldi melewati rongga tenggorokannya

entah duka selintas entah dosa yang melewati tenggorokan eva
namun sesuatu itu telah melemparkanmu dalam deretan fiksi
tentang cinta dan perasaanperasaan yang menciptakan riwayatnya sendiri

dinding kamar melulu putih dan kosong
begitupun plafon yang menahan deras angan
sedangkan tingkap seperti depresi yang enggan dibuka

“cepat jabarkan apa sesuatu itu, agar aku tentram dalam kepurapuraan!”

sesuatu itu (barangkali) duka, mungkin saja dosa, atau bisa jadi
perpaduan keduanya, dosa+duka

:ihwal omong kosong belaka

ia adalah kemungkinan yang terus menerus dilahirkan
utuk menjadi siasia

ranjang tidak lagi dingin
udara mengertap dari balik ventilasi
dan lantai memantulkan parasmu yang kembali purba

“hey, tetapi aku belum tentram dan masih …”

memang demikian adanya, ketentraman hanya fatamorgana
yang dijatuhkan dari langit entah oleh siapa

2011

CERITA BUAT MAULIDYA

segalanya mengingatkanku pada setiap hal yang tidak lagi ada
ketika kamu berkata: “ini hari aku menangis tiga kali”

mulanya biasa saja, udara masih lentur dan gembur,
kemudian kamu pun berkata lagi :
 “esok mungkin aku akan menangis, tapi tidak tiga kali”

mengapa mesti, kekasih, mengapa mesti wanita
menyelesaikan segalanya dengan sepasang mata
yang seakan sangat memahami tabiat hujan

“seseorang dari radius yang asing lunas mengucapkan sayang,
seseorang lagi dari jarak yang tidak begitu jauh sedang menyalakan
pitam, dan seseorang yang lain…”

jadi memang segalanya membutuhkan dalih yang terkadang lirih
terkadang setengah pedih. udara lekas redup menghisap percakapan.
ruangan ini akan sampai pada tahap di mana tidak ada lagi gerak dan suara
(begitupun kita)

pada pukul 22:00 percakapan kita mencapai kata “selesai”
lantaran kepulangan telah ditetapkan
dan waktu yang menyerupai kelewang itu seakan terus mengintai

seluruhnya : kalimatkalimat letih, tatapan yang sekilas namun membekas,
senyum yang pucat dan percakapan yang sarat isyarat

begitu lekas melambai pada batas, pada usia, pada waktu, dan pada
apapun yang menyebabkan kita seolaholah nyata

“waktunya tiba, aku pulang menyongsong kekosongan lain, melankoli lain”

menyongsong apa saja yang mengandung kenangan?

“mengandung kehilangan”

maka malam tergelincir ke dalam lubuk gaib jaman, kota menjadi lelap
dan tak ada sedikitpun ucapan selamat tinggal yang dramatis kecuali gelap

2011

KE ARAH SELATAN

ke arah selatan kamu akan berpulang
menujum kemungkinankemungkinan lain, mencecap variasi
atas tragedi yang menjelma sirkel api

dan malam semakin memancarkan warna merah karat
tatkla terngiang kembali percakapan yang hanya sesaat

(pada sebuah ruang gaduh yang tentu saja jauh dari utuh) :

 “di rumah hanya ada jenuh yang berat, sangat berat”

tapi kamu memiliki fantasi, dan bukubuku yang membangun ilusi

“akankah kita terus beriman pada ilusi, terhadap fantasi”

terkadang kita harus percaya pada sesuatu yang diaggap tidak pasti,
seperti pahala & dosa misalnya, dan surga, dan neraka, dan cinta

“ah..”

ke arah selatan kamu akan menghilang
menyambut pergantian musim dengan mata senantiasa berair
seperti karanghantu yang dahulu merekam riuh suara pasasir

“di selatan hanya ada jejak riuh..”

juga manik matamu yang seakan runtuh


2011






Tidak ada komentar: