MUNGKIN KAMU
SEDANG (TIDAK) DUDUK DI SAMPINGKU
mungkin
kamu sedang tidak duduk di sampingku,
ketika
jemari musim menyalakan kenangan
ada sepasang
bayangbayang berbincang
di temaram lampu
tepian sebuah ruang
barangkali
membicarakan ihwal kejenuhan
yang terus
dipertahankan
:hidup
atau
mungkin sebenarnya kamu sedang duduk di sampingku,
di
bangku yang separuh nyata dan aku tidak menyadarinya
setelah
ingatan disulap menjadi kabut
yang
menyamarkan pandangan & pikiran
sepasang
bayangbayang lamatlamat, lantas menghilang
namun sepasang
perbincangan kekal sebagai perbincangan
yang terus
dikumandangkan ketiadaan
2011
INTERUPSI
“kita
perlu sekelumit interupsi”
itulah
yang mesti kamu katakan pada kesedihan
ketika
di luar kamar hanya angin fana
dan
napas yang berhembus tak bisa kembali lagi
“hanya
sekelumit interupsi ?”
sebab
yang berlebihan lebih sering tidak menyenangkan, bukan?
cukup
sekelumit, lalu hari bersalin melahirkan varian kesedihan lain.
dan
kamu kembali mengatupkan jendela kamar
dengan
pikiran menyerupai adegan dalam sirkus
yang
menakjubkan sekaligus menjemukan
“bagaimana
dengan pertanyaan semacam ini
:
kapan usai, kapan selesai ”
tentu
saja segalanya akan usai (mungkin) juga selesai
tatkala
nyawa berbatasan dengan muara cahaya, ketika
napas
mencapai akhir kuota
lantaran
tuhan, dan konon hanya tuhan yang tak mengenal
kata
usai & selesai
2011
SESUATU TENGAH
MERANGKUL MATAMU
sesuatu
tengah merangkul matamu yang sejernih gerimis
ia
barangkali hanya duka selintas, atau dosa yang ditemukan eva
ketika
khuldi melewati rongga tenggorokannya
entah
duka selintas entah dosa yang melewati tenggorokan eva
namun
sesuatu itu telah melemparkanmu dalam deretan fiksi
tentang
cinta dan perasaanperasaan yang menciptakan riwayatnya sendiri
dinding kamar
melulu putih dan kosong
begitupun plafon
yang menahan deras angan
sedangkan
tingkap seperti depresi yang enggan dibuka
“cepat
jabarkan apa sesuatu itu, agar aku tentram dalam kepurapuraan!”
sesuatu
itu (barangkali) duka, mungkin saja dosa, atau bisa jadi
perpaduan
keduanya, dosa+duka
:ihwal
omong kosong belaka
ia
adalah kemungkinan yang terus menerus dilahirkan
utuk
menjadi siasia
ranjang tidak
lagi dingin
udara mengertap
dari balik ventilasi
dan lantai
memantulkan parasmu yang kembali purba
“hey,
tetapi aku belum tentram dan masih …”
memang
demikian adanya, ketentraman hanya fatamorgana
yang
dijatuhkan dari langit entah oleh siapa
2011
CERITA BUAT
MAULIDYA
segalanya
mengingatkanku pada setiap hal yang tidak lagi ada
ketika
kamu berkata: “ini hari aku menangis tiga kali”
mulanya
biasa saja, udara masih lentur dan gembur,
kemudian
kamu pun berkata lagi :
“esok mungkin aku akan menangis, tapi tidak
tiga kali”
mengapa
mesti, kekasih, mengapa mesti wanita
menyelesaikan
segalanya dengan sepasang mata
yang
seakan sangat memahami tabiat hujan
“seseorang
dari radius yang asing lunas mengucapkan sayang,
seseorang
lagi dari jarak yang tidak begitu jauh sedang menyalakan
pitam,
dan seseorang yang lain…”
jadi
memang segalanya membutuhkan dalih yang terkadang lirih
terkadang
setengah pedih. udara lekas redup menghisap percakapan.
ruangan
ini akan sampai pada tahap di mana tidak ada lagi gerak dan suara
(begitupun
kita)
pada
pukul 22:00 percakapan kita mencapai kata “selesai”
lantaran
kepulangan telah ditetapkan
dan
waktu yang menyerupai kelewang itu seakan terus mengintai
seluruhnya
: kalimatkalimat letih, tatapan yang sekilas namun membekas,
senyum
yang pucat dan percakapan yang sarat isyarat
begitu
lekas melambai pada batas, pada usia, pada waktu, dan pada
apapun
yang menyebabkan kita seolaholah nyata
“waktunya
tiba, aku pulang menyongsong kekosongan lain, melankoli lain”
menyongsong
apa saja yang mengandung kenangan?
“mengandung
kehilangan”
maka
malam tergelincir ke dalam lubuk gaib jaman, kota menjadi lelap
dan
tak ada sedikitpun ucapan selamat tinggal yang dramatis kecuali gelap
2011
KE ARAH SELATAN
ke
arah selatan kamu akan berpulang
menujum
kemungkinankemungkinan lain, mencecap variasi
atas
tragedi yang menjelma sirkel api
dan
malam semakin memancarkan warna merah karat
tatkla
terngiang kembali percakapan yang hanya sesaat
(pada
sebuah ruang gaduh yang tentu saja jauh dari utuh) :
“di rumah hanya ada jenuh yang berat, sangat
berat”
tapi
kamu memiliki fantasi, dan bukubuku yang membangun ilusi
“akankah
kita terus beriman pada ilusi, terhadap fantasi”
terkadang
kita harus percaya pada sesuatu yang diaggap tidak pasti,
seperti
pahala & dosa misalnya, dan surga, dan neraka, dan cinta
“ah..”
ke
arah selatan kamu akan menghilang
menyambut
pergantian musim dengan mata senantiasa berair
seperti
karanghantu yang dahulu merekam riuh suara pasasir
“di
selatan hanya ada jejak riuh..”
juga
manik matamu yang seakan runtuh
2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar