Rabu, 04 April 2012

Cerpen masih mentah :|


M A L I B U T A

Aku banyak mencintai laki-laki. Setelah melihat kebobrokan prilaku ayahku sendiri. Orang yang selama ini aku kagumi, tenyata memiliki hati yang busuk, bahkan untuk membahagiakan istri dan anaknya saja tak pernah bisa. Sampai akhirnya, aku memilih untuk mencintai laki-laki seumuran dengannya di luar sana. Meski sesungguhnya aku begini hanya untuk memenuhi kebahagiaanku dan mencukupi kebutuhanku serta ibu. Aku benar-benar mengerti, bahwa apa yang mestinya dipenuhi, memanglah harus terpenuhi.
Sudah hampir 30 tahun usia pernikahan ayah dan ibuku. Semuanya nampak baik-baik saja. Keduanya sangat harmonis. Mereka bahu-membahu merawat dan membesarkan aku. Bagiku, merekalah pelajaran hidup yang sesungguhnya. Namun kini semuanya telah berubah. Aku semakin mengenali banyak wanita di rumahku. Surti, perempuan yang tinggal di samping rumah,  yang hanya beda 2 tahun denganku, sekarang jadi sering duduk-duduk di teras rumah. Bercengkrama manja dengan ayahku. Dia tak malu-malu menggelendoti lengan ayahku, persis kelakuanku ketika berusia 5-6 tahun. Ada lagi Mirna, perempuan salon pasar yang hampir setiap pagi menemani ayah minum kopi sambil sesekali mencabuti rambut putih ayahku. Dia juga Nampak genit terhadap ayah. Begitu pun dengan ayah, dia tidak malu-malu menyentuh pipi bahkan kadang payudara Mirna di hadapanku. Aku terkejut, dan mencoba menegur ayah. Namun ia tetap begitu, seakan menganggap aku tiada di antara mereka, begitu juga dengan Mirna. Ia juga pernah mencibir-cibirkan bibirnya yang merah merona ke arahku. Seperti berbisik, tapi terdengar jelas olehku. Katanya,”Dasar pemalas. Maunya diumpani terus dengan om-om dari kota. Sok suci melarang-larang ayahnya berbuat begini denganku, tapi dia sendiri? najis!”
Hatiku terasa rapuh seketika. Bahkan ayah yang selama ini aku percaya mampu menjagaku dengan bijak, kini ia berubah bagai monster. Hidupku berantakan karenanya. Rumah ini terasa neraka. Hampir setiap hari aku menyaksikan ibu menangis di kamarnya. Ia nampak tak berdaya, tubuhnya yang kuyu, ia lipat membentur tembok. Dibungkam mulutnya dengan kain yang jarang sekali dia ganti—mungkin hanya satu bulan sekali. Ia merapatkan tubuhnya di sisi pojok ranjangnya yang sudah reot, agar suara tangisnya tak terdengar sampai ke luar kamar. Aku mengerti, betapa sesaknya menangis seperti itu, tapi ibu melakukannya hampir setiap hari.
“Bu, aku mau ibu tabah. Sudah dari dulu aku beri pilihan pada ibu, mau tetap seperti ini atau ceraikan ayah dan kita memulai hidup baru di luar sana, bu”
“Uta, ibu sudah tua. Apa lagi yang harus ibu lakukan? Ibu sadar, nak. Ayahmu membutuhkan kebahagiaan yang tak pernah didapatkannya lagi semenjak ibu lumpuh dan hanya bisa terbaring di ranjang tua ini”
“Tapi bu. Ayah sudah keterlaluan. Membiarkan banyak wanita memasuki rumah kita. Hampir setiap hari ayah bergonta-ganti membawa pasangannya ke rumah ini. Aku gerah bu, aku muak! Ayah benar-benar sudah buta, ia tak punya hati. Bu, aku mohon, ceraikan ayah, dan kita hidup di tempat lain ya, bu?”
“Tidak bisa, Ta. Ibu sangat mencintai ayahmu. Hampir 30 tahun kami hidup bersama. Banyak sudah kenangan yang terukir di rumah ini. Ibu ikhlas nak, membiarkan ayahmu melakukan apapun sesukanya di rumah ini, asal dia bahagia.”
Ibu membalikkan lagi tubuh rapuhnya. Aku tahu dia menangis. Berat beban yang ditanggungnya saat ini. Tapi apa yang bisa aku lakukan? Bahkan ibu tak pernah mau menuruti saranku untuk pindah rumah dan menceraikan ayah. Sebagai anak, aku harus menuruti kemauan ibu. Kadang hal itu membuat konsetrasiku pecah tak menentu.
***
Keluargaku hidup sebatang kara sejak dulu. Ayah selalu membangkang pada orang tuanya, dan ia pernah berbuat kesalahan ketika dia remaja. Ia hampir menghabisi nyawa adiknya sendiri, karena ia merasa cemburu terhadap adik bungsunya itu. Yang seharusnya menjadi bibiku itu, sempat koma beberapa bulan. Karena kejadian itulah, ayahnya—kakekku, mengusir ayah dari rumah. Hingga akhirnya ia memilih bekerja serabutan. Mulai dari pembersih jalanan, Office Boy di sebuah perusahan tekstil, sampai menjadi kondektur bus mini pernah ia lakukan. Sampai akhirnya ayah bertemu dengan ibu di rumah makan depan gang perbatasan antara kota dan desa. Ibuku terlahir dari keluarga pensiunan pegawai negeri. Semua adik dan kakaknya menempati ruangan khusus di Kantor Wali Kota. Ayahnya, yang juga kakekku adalah seorang Perwira Negara, dan nenekku mantan Gubernur kota kelahiran ibu, ketika ibu berusia remaja.
Waktu itu, di rumah nenekku sedang berlangsung acara keluarga, dan ibu disuruh oleh nenekku untuk membeli makanan pelengkap di tempat makan yang biasa ayah sambangi. Akhirnya, mereka bertemu dan saling jatuh hati pada pandangan pertama. Semakin hari, semakin penasaranlah ayahku pada ibu. Ia mengikuti dan kadang menemani ibu kursus menjahit di Kota sampai sore hari. Dari situlah percintaan mereka dimulai. Sadar akan keluarga orang yang dicintainya, maka ayah pun mati-matian mencari pekerjaan yang layak demi mendapatkan restu dari keluarga ibu. Namun, sekeras apapun usaha ayah, tetap saja, kakekku menginginkan ibu untuk menikah dengan perwira Negara juga, paling tidak seorang polisi. Akhirnya, dengan tekad yang bulat dan tentu perasaan cinta yang mendalam terhadap ayah, ibu memilih meninggalkan rumah dan menikah dengan ayah di waktu senja, sebelum maghrib tiba. Mereka menikah seadanya, tanpa kakekku sebagai wali. Tanpa nenekku yang menyimpan kain putih nan sakral di kepala ayah dan ibuku. Tanpa bunga sedap malam atau melati yang menggantung di rambut ibu yang kumel bercampur debu. Mereka bersatu di rumah tetangga kontrakan ayah—dulu kontrakan, sebelum rumah itu dibayar dan jadi hak milik ayah dan ibuku sekarang.
Usia awal-awal pernikahan mereka agak canggung melewati hidup tanpa siapapun, terlebih ibuku yang baru saat itu memilih pergi dari sisi keluarganya. Namun ayah bisa meyakinkan ibu bahwa tanpa sesiapa, mereka bisa hidup bahagia. Bertahun-tahun mereka hidup berdua di rumah kontrakan yang sempit dan apak. Tuhan belum mempercayai mereka untuk memiliki keturunan. Ayah dan ibu tidak pernah memikirkan hal itu, bagi mereka, dapat hidup bersandingan sampai ajal memisahkan itu sudah menjadi anugerah terindah sepanjang usia mereka. Hari demi hari ayah menawarkan dirinya untuk bekerja di mana saja. Sampai akhirnya, dia menemukan pekerjaan tetapnya sebagai supir pribadi seorang proyektor asal Cina. 4 tahun ayah mengabdi kepadanya. Sementara ibu menerima jasa jahit di rumah. Hari-hari beruntungnya adalah ketika hari perayaan agama sudah mendekati tanggalnya. Apalagi jika Idul Fitri dan Idul Adha menjelang, ibu bisa meraup untung besar dari pekerjaannya itu. Ia juga mencoba menjajakan kue-kue kering yang dibuatnya sendiri.
Lima tahun sudah usia pernikahan mereka, barulah Tuhan membiarkan aku tumbuh merangsak dalam rahim ibu. Aku mengepulkan jari-jariku pada dinding rahim ibu. Setiap hari disenandungkannya lagu-lagu syahdu dari mulut ibu. Ayat-ayat suci selalu ibu perdengarkan padaku. Aku girang bukan main. Kutendang lagi perut ibuku, aku berputar hingga ibu merasa sesak dalam perutnya, saat itulah ayah datang memanjakannya dan memarahi aku dengan lembut.
“Hayoo, kasihan ibumu, nak. Sekarang dengar ayah bernyanyi saja”.
Naa naa naa naa laa syaa laa laaaa..
Suara ayah tak semerdu suara ibu, tapi dia mampu membuatku terdiam dan membiarkan ibu bernafas lega, tidak lagi merasakan sakit. Hampir setiap hari mereka memanjakan aku. Hingga saatnya aku tiba menyaksikan tubuhku sendiri dalam terang cahaya yang bisa membuat mataku terpejam karena silau. Kata ayah, hari itu adalah hari yang paling mendebarkan baginya. Ia melihat ibu menangis menahan sakit karenaku, ia menyaksikan istri tercintanya itu menyebut-nyebutkan namanya dan nama kedua orang tuanya yang mungkin sudah melupakannya pada saat itu. Ayah benar-benar melihat antara hidup dan matinya seorang ibu melahirkan anaknya. Tanpa berbuat apa-apa, ayah hanya bisa mengintip ibu dari tepian kain gorden bertuliskan merk kopi hitam yang sering ada di iklan-iklan televisi. Ayah hampir menjatuhkan dirinya di lantai karena lemas, namun dia tetap membaca-bacakan do’a untuk ibu. Tak lama, tangisanku pun terdengar. Ayah mengadzani aku dan ia sesekali erat memeluk ibu karena bersyukur.
***
Selain Surti dan Mirna, ada lagi Gladis. Perempuan kota yang tampangnya sedikit urakan. Kadang memakai rok pendek dan gaun mini sepinggang yang sangat transparan. Ia bergandengan tangan dengan ayah di larutnya malam yang semakin dingin. Sedingin langkah berat kakiku yang sudah muak melihat tingkah ayah dan wanita-wanitanya yang selalu tak sopan terhadapku, bahkan ibuku. Perempuan kota itulah yang paling aku benci. Kedatangannya hampir di setiap malam. Ia pun tak jarang menemani ayah tidur dan melakukan perbuatan suami istri di depan ibuku sendiri. Namun, semenjak aku meradang dan mengancamnya akan meloparkan ia ke polisi, nyalinya agak sedikit menurun menghadapi aku. Kadang mereka tidur di ruangan belakang yang tak berjendela dan sangat sempit, setelah kejadian itu. Tapi tetap saja, aku pernah menyaksikan air mata ibu karenanya. Dan aku berjanji, suatu saat nanti aku akan membalas semua perbuatan mereka terhadap ibuku.
Aku bekerja di klub malam, di perbatasan kota. Hampir setiap malam, selepas isya aku berangkat ke tempat itu. Aku bekerja sebagai pelayan makanan, dan kerjaku hanya sampai jam 1 dini hari. Meski aku bekerja sebagai pelayan makanan, tetap saja mereka—tetangga-tetanggaku, menganggap aku sama dengan wanita-wanita murahan yang sering ayah bawa ke rumah. Padahal, selama aku bekerja di Klub, belum pernah sekalipun aku melakukan hal keji seperti mereka. Meskipun memang, mereka kadang mengajakkku melakukan hal di luar agama, tapi aku masih punya moral. Tujuanku adalah untuk bekerja, menafkahi ibu dan mencukupi kebutuhanku dan ibu. Walaupun tidak dapat dipungkiri, setelah hari-hari yang kelam aku lalui, aku banyak mencintai laki-laki seusia ayah, itu hanya karena mereka peduli tehadapku, dan aku selalu dianggapnya sebagai anak. Ya, aku mencintai mereka untuk kebahagiaanku, karena ternyata mereka tulus menyayangiku, tidak seperti ayah yang busuk, dan hanya ingin menikmati tubuh wanita-wanita simpanannya itu. Walaupun di luar sana banyak yang mencibirku, tapi aku tidak pernah peduli, karena bagiku, segala kehidupanku adalah aku yang menjalaninya, bukan orang lain.
***
Aku hidup bahagia sejak kecil. Ibu merawatku, membelikan ini itu untukku. Saat aku berusia 5 tahun, ayah sudah berhenti menjadi supir  pribadi, dan ia bekerja di sebuah dealer motor sebagai operasionil kantor. Sedikit demi sedikit, penghasilan keluargaku meningkat. Mereka bisa membangun rumah, membiayai sekolahku, dan kini terlihat lebih bahagia, tentunya tanpa sesiapa. Aku selalu dimanja oleh kedua orang tuaku, hingga aku dewasa menginjak usia 17 tahun. Menjelang kelulusan Sekolah Menengah Atas, aku berhenti sekolah karena ayah juga keluar dari kantornya. Untuk mencukupi kebutuhan kami, akhirnya kami hanya mengandalkan pekerjaan ibu. Aku membantu ibu menjajakan kue-kue keringnya. Di sekolah-sekolah, pasar, bahkan kantor-kantor kota yang tutup hingga sore hari. Aku selalu habis menjajakan dagangan ibu, tak tersisa sedikit pun. Ibu senang melihat itu. Selain itu, aku juga mencari pekerjaan lain. Aku bekerja di sebuah pabrik cokelat rumahan, dan juga di pembuatan bahan perca. Dari hasil kerjaku itu, aku bisa membeli baju, sepatu, dan kebutuhanku yang lain.
Ketika usiaku beranjak semakin dewasa, ibu semakin membatasi pekerjaanku. Ia takut kalau aku terpengaruh oleh teman-temanku dari kota. Hingga pada suatu hari, ibu ikut menemaniku ke kota. Tanpa sengaja, dari arah belakang, mobil mini bus yang melaju sangat kencang menabrak ibu dan membuat tubuh ibu terpental hingga 2 kilometer lebih. Ibu sempat tak sadarkan diri selama 2 minggu. Tulang kakinya patah dan harus diamputasi. Supir mini bus itu kebetulan kenal dengan ayahku, dan ia berjanji akan bertanggung jawab atas segala urusan biaya Rumah Sakit. Ayah membiarkan orang itu bebas, dan tidak memilih jalur hukum karena ayah percaya dia akan sungguh-sungguh bertanggung jawab sepenuhnya atas ibu. Namun, semakin hari, supir mini bus itu tidak menunjukkan niat baiknya. Pasca operasi amputasi kaki ibu, ia tak datang untuk memberikan uang pengobatan rawat inap ibu. Akhirnya, ayah memilih membawa ibu pulang ke rumah, dan dirawat seadanya.
Semakin hari kondisi ibu melemah. Sampai ia pun tidak bisa lagi menggerakkan kedua pahanya. Ibu hanya bisa terbaring, menggeser-geserkan tubuhnya di atas kasur tipis yang sebagian kapuknya sudah keluar dan beterbangan membebaskan dirinya dari pengap dunia yang mengkungkungnya bersama tangisan ibu. Dari sanalah, perpecahan keluargaku dimulai.  
***
Saban hari, aku menenangkan ibu yang menangis di pojokan kasurnya. Kadang tak tenang, jika harus mendapatkan lembur dari klub dan membiarkan ibu seorang diri di rumah. Tapi bagaimana, toh ibu sendiri yang memillih hal itu. Aku tidak dapat lagi membujuknya untuk pergi dari rumah. Kenangannya-lah yang membuat ibu merasa enggan untuk pergi. Mungkin yang menjadi pengharapannya kini adalah keajaiban Tuhan. Tapi sampai kapan? Ah, rasanya aku mau teriak di hadapan ibu, menyadarkannya, bahwa ia tidak pantas diperlakukan seperti itu oleh ayah.
Tuhan, usaikanlah semua ini’
Pada malam yang begitu dingin. Bintang pun tak nampak di langit-langit sana. Hanya mega yang beriringan berat menerpa malam di batas waktu. Aku pulang seperti biasa, tepat jam 1 dini hari sampai di depan pintu rumah. Aku melihat ayah duduk sendiri di halaman rumah, tanpa satu wanitanya pun yang menemani.
“Siapa tadi yang mengantarmu? Terlihat tua, sepertinya dia lelaki kaya. Dibayar, untuk menemaninya satu malam?”
Banyak tanya. Apa pedulimu? Busuk!”, kataku dalam hati. Aku malas berurusan dengan ayah, apalagi jika sudah membahas tentang laki-laki yang mengantarkan aku pulang. Akan seperti berbicara pada tembok-tembok sejarah yang kekar, namun runtuh setelah ada kepongahan dalam kisahnya. Aku pun berlalu menuju kamar ibu, memastikannya bahwa dia sudah terlelap dengan segala pengharapannya yang tak pernah luntur, dan aku pun lekas tidur.
***
Tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki yang berat menuju kamarku. Karena lelah, aku abaikan suara itu, kemudian terlelap kembali. Tak lama, aku merasakan sentuhan-sentuhan hangat di ujung jari-jari kakiku. Semakin lama, sentuhan itu terus menggerayangi tubuhku. Aku bangun dengan hentakkan tubuh yang luar biasa dari laki-laki itu. Terjatuh kembali ke kasur dan aku lemas tak berdaya.
“Ayaaah..”, lirihku menahan tangis
“Diam kau anak angkuh! Hari ini tidak ada siapapun yang menemani aku. Kau harus menggantikan ibumu, menggantikan wanita-wanita keparat yang telah mengkhianatiku”
“Tapi yah, aku ini Malibuta, anakmu! Mana mungkin kau bisa melakukan ini padaku?”
Air mata pun tak henti mengalir, gemetar seluruh tubuhku. Berkeringat sepanjang adegan konyol itu. Sorot lampu seolah redup tiba-tiba. Ayah tidak acuhkan perkataanku. Sementara bayangan ibu dan ketegarannya selama ini menguras pandanganku yang juga tak jelas lagi memandang wajah ayah. Aku tak mampu melepaskan pegangan ayah. Ia bernafsu memburu kemaluanku, tapi aku selalu berhasil menghindarinya. Namun ia tetap menjamah setiap apa yang bisa disentuhnya. Sedang aku sibuk memerhatikan sekelilingku—mencari apapun yang bisa melepaskan aku dari cengkraman ayah.
Tuhan, aku mohon jangan biarkan dia merenggut keperawananku’
Aku terus menoleh ke kanan kiriku. Sesekali lelaki biadab itu menampar ku yang tidak mau diam. Dia membekap mulutku dengan tenaganya yang lebih besar berkali-kali lipat dari tenagaku. Aku hanya bisa menangis. Lagi-lagi wajah ibu melintas di sela ketakutanku. Aku semakin tak berdaya, tak kuasa menghadapi apa yang sedang aku alami. Kemudian, aku lihat vas bunga kaca yang berdiri tegak di meja hias dekat ranjangku. Benda itu seolah memberikan kekuatan untukku.
Ayo, raih aku, Ta. Pecahkan aku tepat di kepala lelaki bejat itu. aku rela tersakiti demi kau”
‘Seakan-akan ia mengerti apa yang harus aku lakukan, atau jangan-jangan itu hanya imajinasiku saja. Ah, lelaki tua ini harus mati, apapun caranya!’
Dengan sigap, aku meraih vas bunga itu dan…
Praaaaaaak !
Tepat kupecahkan benda itu di ubun-ubun ayah. Darahnya menetes mengenai wajahku yang berada di bawah ayah. Berkali-kali aku arahkan pukulan itu di tempat yang sama, hingga akhirnya ia lemas terkulai dan jatuh ke lantai. Aku bisa bernafas lega dan masih menggenggam sisa vas bunga di tanganku. Karena bayangan ibu masih saja mengikutiku, air mata ibu juga masih terlihat jelas di pandanganku, aku merasa salah terhadapnya. Aku merasa mengkhianati cinta suci ibu untuk ayah.
Dengan sekejap, aku turun menapaki lantai. Melihat kondisi ayah yang terkulai. Tapi ia masih bergerak dan mencoba menarik lenganku. Karena ketakutan yang berlebihan, aku menghujamkan sisa vas itu tepat di dadanya yang sudah telanjang.
“Aaargh, benar-benar anak angkuh kau Uta! Kau coba membunuh ayahmu sendiri!”
“Ini bukan salahku! Ini salahmu yang memaksa aku melakukannya!”, teriakku di hadapan ayah.
Darah mengalir lebih deras. Jarum jam seakan tertawa mengikuti arahku yang semakin menjauhi posisi ayah. Aku panik dan tersadar atas apa yang sudah kulakukan. Kemudian aku berlari menuju kamar ibu. Ia meringkuk, merapatkan tubuhnya pada tembok yang kaku dan lembab. Ia mendengar semua yang telah terjadi di kamarku. Mata lelahnya membuat aku semakin bersalah. Entah dari mana aku harus menjelaskannya. Tapi ini bukan kesalahanku.
“Bu, aku…”, belum lagi utuh kalimatku, ibu memotongnya dengan suara yang bergetar dan air mata yang terus merembas di pipinya.
“Kenapa tidak kau iyakan saja maunya? Kenapa harus kau bunuh dia, orang yang selama ini ibu cinta. Malibuta..dia itu ayahmu, laki-laki hebat yang telah membesarkanmu. 30 tahun sudah ibu hidup bersamanya. Aku mengerti kesakitannya selama ini. Tapi kau buat dia tidak ada lagi untuk ibu, nak!”
Aku tidak mengerti apa yang ada dipikiran ibu. Tentang waktu yang semakin mengajari ketegaran dalam hidupnya, tentang masa lalu yang terlewati begitu saja, tentang pertalian darah yang mestinya tidak harus diselesaikan seperti ini. Aku semakin tidak mengerti. Apa salahku. Apa yang telah membuatku melukai ibu?
Seperti ada jutaan iblis dalam diriku, tiba-tiba aku membenci perkataan ibu. Tidak ada lagi bayangan ibu yang membuatku kuyu. Kesalahan yang tak masuk akal itu ia limpahkan kepadaku. Aku tidak terima. Lantas aku memaksa ibu untuk membalikkan tubuhnya yang mengurus dimakan angin dan kesengsaraan batinnya. Ibu berteriak, ketika sisa vas bunga yang masih aku genggam itu menusuk perut kecilnya. Ia lemas, menjatuhkan segala harapannya pada kecemasanku tentang ketiadaan yang selalu menyita keadaanku. Detaknya pun berhenti. Matanya memejam perlahan. Pasi. Aku teriak sejadi-jadinya. Menyadarkan lamunan panjangku yang entah akan berlabuh di tepian yang mana.
Tangisanku semakin kencang, seluruh darahku seolah ikut berhenti mengalir dari arusnya. Kuperhatikan wajahku di cermin, pucat pasi tak berbentuk. Wajahku dingin, sedingin pagi yang sebentar lagi menyapa langit-langit daun kering di halaman rumah. Aku terus memeluk ibu yang berlumuran darah, sementara ayah aku biarkan tergeletak di kamarku. Entah apa yang harus aku lakukan. Aku tidak mengerti pada waktu. Aku tidak memahami jalan yang telah Tuhan tunjukkan padaku. Aku seolah-olah terhempas di padang sabana yang kemudian mengerat kebahagiaan yang lain. Aku berada di tapal batas yang entah sampai kapan ‘kan berhenti. Aku tak punya sesiapa. Aku ingin hilang dari putaran bumi yang semakin mengerucutkan aku. Aku…
“Taa, utaa! Belikan ibu bubur. Ayah ingin menyuapinya di pagi yang cerah ini”
Ayah membangunkan aku yang terlelap di kursi panjang ruang tamu. Aku terdiam cukup lama. Memerhatikan wajah ayah. Ada yang kembali di wajah itu, tapi entah, aku samar melihatnya. Tubuhku berkeringat dengan deras. Membayangkan wajahku yang kemudian tiba-tiba pasi di antara nyata dan tidak. Kualihkan lagi pandanganku. Dengan tersipu, ibu duduk di samping ayah. Ku tatap perlahan wajah keduanya. Ku lihat ada garis-garis yang menua di sela tawa kecil mereka yang selama ini aku rindukan. Mereka kembali, kembali pada ejaan masa yang kian menyeluruh utuh. Seketika itu, aku bangun dan memeluk erat keduanya. Air mataku merembas deras di pundak ayah dan ibuku.

~ S E L E S A I ~



Serang, April 2012


Tidak ada komentar: