Jumat, 25 Mei 2012

Cerpen Sore


K O I !

“Ini memang sudah jalan takdir kita, Koi!”, sergah pak Mura waktu kami berkumpul dalam suatu tempat. Aku rasa tempat itu seluruhnya berwarna hijau cerah, dan kami berhimpitan satu dan yang lainnya. Oh, tidak hanya kami ternyata, berbagai macam pita warna-warni berasa juga turut berdesakkan di tempat itu. Lantas, aku menghayati setiap kata yang dilontarkan pak Mura sore itu. Mengeja satu persatu kata-katanya, mencoba menemukan takdir yang mana yang dia maksud. Tapi aku tidak menemukan apa-apa. Toh aku tetap menjadi seperti ini, entah menjadi takdir yang seperti apa.
Aku terus melamun, sementara tubuhku terasa berguncang. Ada yang mengais-ngaisku tanpa ampun. Kami jadi saling tumbuk. Tapi tak ada pertengkaran hebat di antara kami, seakan kami paham, bahwa kami terlahir seperti ini. Aku dan yang lainnya tidak bisa berbuat apa-apa, seolah-olah mulut kami tertutup rapat. Entahlah, ingin menyuarakan apa, kami tidak pernah tahu. Semakin lama, semakin dahsyat guncangan yang aku rasakan di tempat itu. Kepalaku menjadi pusing lebih dari tujuh keliling. Perutku mual, sangat mual dan hampir memuntahkan segala keluh kesahku yang tak pernah terdengar oleh siapapun. Aku rasa mukamu sudah sepasi awan yang hampir hilang tersapu angin siang hari. Kami semua berteriak-teriak dalam tempat itu, tapi mereka seakan tidak pernah mengerti apa yang sedang kami rasakan. Ada yang menangis, ada yang merasa kecewa dengan perlakuan orang-orang berakal budi tinggi itu. Sementara aku dan pak Mura terus berhimpit tak ingin lepas. Di sela-sela guncangan itu, pak Mura berbisik lirih,”Koi, aku sudah berkali-kali merasakan hal seperti ini. Aku bisa menebaknya, setelah ini tubuh kita akan terpental jauh. Kau akan jatuh ke tanah, kemudian tanpa ampun diinjak oleh pembesar-pembesar itu, sedangkan aku akan bertemu dengan malaikat yang baik hati. Dia akan menyergapku, kemudian mengusap-usap tubuh kotorku, dan aku akan diajaknya berkeliling entah ke negeri mana”, diam sejenak, kemudian melanjutkan perkataannya,”Oh tidak, tidak. Jangan-jangan aku yang akan terinjak, dan kau yang selamat. Bagaimana ini Koi?”
“Ah, selamat atau tidak, bagiku sama saja. Kita akan tetap keliling dunia, bertemu dengan pembesar-pembesar yang banyak tingkahnya. Kita akan jatuh ke tangan yang membutuhkan kita, atau yang mengabaikan kita dan membuang kita kapan saja. Semua itu hanya soal waktu, Pak! Lah wong aku pernah mengalami hal ini berkali-kali juga kok Pak. He he…”
Dalam hitungan detik, kami semua dihempaskan ke udara secara bergantian. Aku dan pak Mura tetap bergenggaman tangan namun terpisah ketika tubuh kami terhempas semakin tinggi dan sempat menghirup udara beberapa detik.
“Aaaah, sakit”, aku terbentur kursi besi yang sedari tadi mengamati jatuhnya kami satu persatu. Tubuhku sempat berguling-guling hingga akhirnya seseorang menolongku. Ia mengusap-usap tubuh kotorku, menyimpanku bersama kawan-kawan yang lain, namun kali ini tanpa hadirnya pak Mura.
“Bagaimana nasib pak Mura?”, tanyaku dalam hati.
Tiba-tiba, “Koi!”
Aku mencari arah suara itu, dan aku melihat seseorang yang pernah aku kenal di beberapa tempat, dulu, sebelum aku lihat ada yang berubah dari orang itu. Aku menghampirinya.
“Eh, pak Oto. Untunglah aku bertemu denganmu di sini. Bagaimana kabarmu? Sudah berapa abad kita tidak berjumpa ya?”
“Iya Koi. Terakhir kita bertemu di kereta waktu itu. Kau masih nampak segar sore itu, aku juga sama.”
“Ha ha ha iyalah, apalagi bapak, baru keluar dari brankas raksasa kan sore itu? wah, aku masih ingat benar, kau nampak segar dan muda, tidak seperti sekarang ini.”
“Biasalah Koi. Aku sudah hidup di jalanan beberapa tahun ini. Jadi, tak heranlah, kalau tubuhku selusuh ini.”
Di sela-sela obrolan kami, pak Oto tiba-tiba melayang. Tubuhnya perlahan meninggalkan aku. Aku memanggil-manggil namanya, dia pun terus melihat ke arahku sambil berkata,”Koi, ini sudah menjadi takdir kita. Bertemu dan berpisah. Dibutuhkan dan diabaikan. Sebentar lagi juga tubuhku akan semakin lusuh, Koi. Berbeda denganmu, kau tetap tegar, kecuali ada yang tega membuatmu gepeng, dan menyelipkannya di tali hitam, kemudian menggantungmu hidup-hidup di jakunnya. Koi, kita akan keliling lagi!” senyumnya masih tetap berkembang, walau tubuhnya terlihat sangat kumel, kemudian dia menghilang entah ke mana.
Lagi-lagi aku seorang diri. Merenung, menyelami kembali kata-kata yang pak Oto lontarkan tadi. Masih tentang hal yang sama. Tentang takdir. Bertemu untuk kemudian dipisahkan. Keliling ke suatu negeri yang tidak pernah kami kenali. Kadang ada yang membuang kami, kadang ada yang dengan gelisahnya mencari-cari kami di tempat-tempat yang biasa kami kunjungi, ups, maksudnya di tempat yang biasa orang-orang itu sediakan untuk kami.
Pernah suatu waktu, kalau tidak salah menjelang senja waktu itu. Aku sedang berada di sebuah kamar yang besar. Temboknya penuh dengan gambar-gambar yang menyeramkan. Ada yang berjaring hitam dengan bajunya yang berwarna merah, ada yang mengenakan topeng hitam dan berpakaian serba hitam, dan lain-lain. Saat itu aku berada bersama anak kecil, kira-kira usianya 7 tahun. Di sampingku adalah mereka-mereka yang memiliki nilai jual lebih tinggi dariku. Mungkin, mereka bisa membahagiakan anak kecil itu dengan menyulap dirinya menjadi mainan mobil yang super canggih, atau bisa berubah menjadi sepotong keju yang kemudian dilahapnya bersama selembar roti yang mereknya mungkin lebih bagus dari roti yang bisa aku tukar dengan nasibku.
Di ruangan yang cukup bersih itu, si anak melempar tubuhku hingga terpental jauh. Dia bergumam kecut sebelumnya
“Sepuluh ribu, dua puluh ribu, lima puluh ribu, dua ratus ribu..ih, gope? Kapan aku menyimpannya di celengan ini? Hmmm…”, dia terlihat berpikir keras sambil menatapku dalam-dalam, kemudian dengan entengnya dia melemparku sampai aku berguling berputar memposisikan diriku senyaman mungkin, tapi ah, tetap saja sakit tubuhku.
Aku menepi di kolong meja belajarnya yang pengap. Sarang laba-laba yang tipis menghiasi tempat itu. Gelap sekali. Tak lama, pintu geser itu berbunyi.
“Radit, kamu punya gopean gk? Kasih pengemis di depan tuh, kakak lagi gk megang duit kecil”
“Yah, gopenya udah Radit buang kak”
“Ih, kenapa dibuang sih? Yaudah, kamu sana yang usir pengemis itu, kakak gk mau!”
“Aku juga! Malas”
Sementara dua adik kakak itu gonjang-ganjing di ruang kamar, dari arah pintu depan aku mendengar suara nenek tua bergumam entah berbicara apa, hanya samar-samar aku dengar dia meminta sesuatu dari orang-orang yang berada di rumah itu, tapi tidak ada yang peduli. Ah, rasanya aku ingin berlari menuju nenek itu. Menyelipkan tubuhku di antara kawan-kawan yang ada di genggamannya. Mungkin aku akan lebih baik jika bersama dengan nenek itu. Aku ingin berlari, tapi bagaimana? Benar kata pak Mura dan pak Oto, ini semua sudah menjadi takdir kami. Dibutuhkan dan diabaikan. Renunganku selama ini akhirnya terjawab sudah. Dan sekarang, aku tinggal menunggu nasibku selanjutnya. Adakah seseorang yang menyapaku, mengusap tubuhku kemudian menyimpanku dengan baik, mempergunakanku dengan baik? Ah, rasanya aku tidak bisa menebak takdirku sendiri. Berapa lama lagi aku akan terkungkung di tempat gelap seperti ini, pengap dan debu-debu menyiksaku dengan amat senang. Jaring-jaring tipis itu kian hari kian membelit tubuhku yang memang tetap tegar, tapi batinku? Uh, batinku sudah menyusut lebih dari beberapa tahun yang lalu. Sementara di tempat lain, ada yang benar-benar membutuhkanku, bukan?
Kalau saja tuhan menugaskan aku menjadi sesuatu yang lain, mungkin aku akan lebih bahagia sekarang. Oh tidak, tidak, mungkin saja dengan menjadi yang lain, aku justru akan berada di kegelapan yang lebih gelap dari ini, atau mungkin aku tidak akan pernah merasakan keliling ke negeri antah berantah, ke dunia yang seakan-akan menjadikan aku hanya sekadar pegangannya saja. Dicari jika aku memang dalam keadaan yang sangat dibutuhkan, tetapi aku akan dibuang begitu saja jika keberadaanku membuat kelebihan yang serba tanggung bagi mereka. Yah, aku ini hanya Koi ! Koin tepatnya, hanya recehan sampah yang gaduh, yang hanya bisa bersuara “Kencring, kencring, kencring” di kantong saku anda.



S E L E S A I

                                                                                                            Banten, 14 Mei 2012  

Tidak ada komentar: