Rabu, 08 Februari 2012

Puisi Seleksi untuk Antologi "Puisi Perempuan" Kubah Budaya- 2012


Perjalanan Menuju Peron

Carut. Tudungku carut marut. Diacak angin ditampar tanpa henti
Merahlah segala wajahku
Ah, pagi yang sial !

Memang nyata biru pagi ini,
Tanpa rintik atau sekadar mega mendung
Tapi aku digelitik, dibuat sendu semendung rindu
Ah, rindu yang terlalu beku !

Ini kali perjalananku menuju peron
Lambai bertemu berharap mengatup mata,
Mata yang kukenal
Alis yang selalu mengundang tanya
“Adakah sendu yang sama dari pemiliknya?”

Oh angin angin yang menculik gadis di pagi buta
Hari ini aku jumpa
Pada yang lama aku simpan
dalam peron yang tak berangan

Desember 2011

Tepi Stasiun Gambir

Stasiun Gambir, Kamis, Desember.
Bising. Legam. Jakarta hampir menumpahkan semua air matanya
Berjalan meneduh gigil. Mencari mata yang sama di hilir lalu lalang banyak mata
Menangis. Merangkai beku.
Meneriakkan kerinduan di tengah hujan badai yang menyeka
Mereka-reka, menanduk kepucatan yang sama luka

Stasiun Gambir, Kamis, Desember.
Bertemu. Pergi. Meninggalkan air mata serata peron.
Bising. Jakarta hampir menenggelamkan isakku.

Desember 2011

Aku dan Temaram April Lalu

ada semacam ikatan saling menyilang
antara aku dan temaram april lalu
suaranya mengingatkan aku
pada mendung yang tak kunjung hujan
aku,
merasai gelisah yang cemas mencemaskan
kekhawatiran awan pada petir yang menyambar bougenville
lantas, menyusun kembali apa-apa yang kusebut sakit
aku masih terpenjara, kasih
masih menjadi pesakitan yang abadi
yang hanya berdiri jika pecut itu menyetubuhi punggungku

Serang, 14 Desember 2010

Di Garis yang Sama

lain setahun, lain pula satu windu
adakah yang lain,
yang menggariskan tinta itu di sini
di tempat kita yang semakin mengisahkan rindu

bukankah suaka tidak lagi mengenal waktu?
baginya, hanya cahaya dan redup mentari yang membuatnya bertahan
lalu apa yang menjelma resah di hari-hari kita?
Ingatlah, bumi mengajarkan kita tetap tegak di garis yang sama

An,
lihatlah jelas kelenjar merah di dadaku
kerinduan yang tak sempat mengeja waktu
bahkan hanya untuk satu tahun
An,
dengarlah jelas parau suaraku
yang telah menipis meneriakkan namamu di setiap waktu
di setiap langit-langit yang mulai berkaca
membenturkan air mata yang kian mencemaskan

bayangkanlah mata tuhan
di setiap malam yang memucatkan sanubari
aku ada, dan kita tegak di garis yang sama

Januari 2012

Kehilangan yang Teramat

seperti kehilangan bola mata saat ini
tak mampu lagi melihat
rasanya gelap apa-apa yang aku genggam
adakah kesialan lain yang akan menimpaku?
mungkin hari ini, atau bahkan detik ini aku akan merasakannya

bukankah Tuhan tahu apa yang seharusnya aku telan?
bersama mendung mega, atau bahkan hujan deras yang membunuh khayalanku
aku benar-benar kehilangan bola mata
tidak lagi sanggup memerhatikan duniamu
tidak lagi sanggup menyusuri matamu yang sesak
yang kerap menjebakku, memaksa aku untuk mengguratkan rindu di mata yang sama

Januari 2012 

Hanya Aku !

seperti tertelan masa lalu, aku berada di pusaran yang semakin kencang
menghempaskan tubuhku, menggetarkan potongan-potongan tragedi
yang sudah aku tanam lebih dalam dari tiang-tiang lalu lintas di perbatasan selat sunda
aku memusatkan ingatanku

nyatanya,
tak ada yang menguatkan
ketika hampir sebagian tubuhku tenggelam di pelataran asa yang sempat kami rajut
lempang rasanya,
tak ada yang menggelayuti hati
tak ada yang berujar,”Sayang, sampai maut itu tiba, aku akan tetap menjadi sang untukmu. Percayalah, aku mampu mencintaimu, sampai akar rinduku habis membelit waktu kita!”

hanya aku satu-satunya wanita yang mampu menghentikan air matanya
ketika menuruni setiap jengkal rasa cemas yang dia punya
hanya aku yang mampu menimang gelisahnya,
menidurkannya dengan sehelai senyum yang mampu menghangatkan raganya yang gigil
hanya aku
ya,
hanya aku yang mampu percaya, ketika dia bercerita ingin menjadi sang
dari segala sang yang pernah dia temui
hanya aku yang mampu, yang sanggup, yang kuasa untuk membuat dia merindukan
nyaman di setiap pijakannya
hanya aku, tempat dia kembali !

Agustus 2011

Bangkai!

aku luluh kali ini, di hadapan pasang mata yang menghakimiku
tak pernah meminta bahkan mengharapkan ini ada
namun tuhan,
meneriakkannya tepat di gendang telingaku yang hancur sudah
ya,
hancur bersama bom waktu yang diledakkan dewa semayam
aku tetap kaku, meluluhkan diri di sekian pasang mata yang merantai
aku akan menjadi bangkai!
membusuk, tak tahu apa-apa.
tapi bangkai tetap saja bangkai
meski tak salah, tetap saja menjadi pidana
ya,
pidana dalam hidupnya sendiri
berteriak, menjadi yang gila dari apapun yang pernah menjadi gila
aku tetap bangkai, bangkai !

Januari 2012

Sajak untuk Ibu

ketika keringat bukan lagi apak dan asam
ketika tenaga bukan lagi lelah dan keluh
kau tetap mengayuh nasib ke ujung lapak
ke singgasana yang termanis
menyenandungkan kidung di setiap tidurku
menelan duri hidup di belakangku
tanpa aku tahu, kau meringis perih, Ibu
kau menumpahkan segenap kepedihan di liang bola matamu
kau habiskan seluruh budimu untuk kami
untuk kami, yang kau anggap mutiaramu

Serang, 05 Mei 2011

Sajak Mei

bahasa Mei adalah bahasa ibu menyanyi
menyunting kata dengan alunan irama suci
berdendang,
mengeja syair dengan cinta

bahasa Mei adalah bahasa darah
bahasa nadi yang terukir di tubuhku
sajak ini sajakmu, surgaku
yang tiada henti bernyanyi untukku
yang memberikan segenap surya untukku
aku sanggup bertaruh dengan apapun
untuk menjaga bahasamu agar tetap penuh cinta
aku mencintai bahasamu, Ibu

Serang, 05 Mei 2011





Mencintaimu seperti…

aku mencintaimu,
seperti kau mencintai batang rokok yang kau sulut,
lalu kau hisap dalam-dalam
di antara bibirmu yang hitam legam

lama sudah tak terhitung
aku bersua dalam cengkram api yang menyulut
lalu asapmu ku hentikan
bersama awan mendung di ujung bolamataku,
di ujung lengkung bibirmu yang mencari rindu kehilangan

tatap ratap tentang sungaiku
yang terus mengalir di pelipisku
bersama awan yang menghitam
tiada bergumpal, namun terus mengalir deras

14 Februari 2010