Perjalanan Menuju Peron
Carut. Tudungku
carut marut. Diacak angin ditampar tanpa henti
Merahlah segala
wajahku
Ah, pagi yang
sial !
Memang nyata
biru pagi ini,
Tanpa rintik
atau sekadar mega mendung
Tapi aku
digelitik, dibuat sendu semendung rindu
Ah, rindu yang
terlalu beku !
Ini kali
perjalananku menuju peron
Lambai bertemu
berharap mengatup mata,
Mata yang
kukenal
Alis yang selalu
mengundang tanya
“Adakah sendu
yang sama dari pemiliknya?”
Oh angin angin
yang menculik gadis di pagi buta
Hari ini aku jumpa
Pada yang lama
aku simpan
dalam peron yang
tak berangan
Desember 2011
Tepi Stasiun Gambir
Stasiun Gambir,
Kamis, Desember.
Bising. Legam.
Jakarta hampir menumpahkan semua air matanya
Berjalan meneduh
gigil. Mencari mata yang sama di hilir lalu lalang banyak mata
Menangis.
Merangkai beku.
Meneriakkan
kerinduan di tengah hujan badai yang menyeka
Mereka-reka,
menanduk kepucatan yang sama luka
Stasiun Gambir,
Kamis, Desember.
Bertemu. Pergi.
Meninggalkan air mata serata peron.
Bising. Jakarta
hampir menenggelamkan isakku.
Desember 2011
Aku dan Temaram April Lalu
ada semacam
ikatan saling menyilang
antara aku dan
temaram april lalu
suaranya
mengingatkan aku
pada mendung
yang tak kunjung hujan
aku,
merasai gelisah
yang cemas mencemaskan
kekhawatiran
awan pada petir yang menyambar bougenville
lantas, menyusun
kembali apa-apa yang kusebut sakit
aku masih
terpenjara, kasih
masih menjadi
pesakitan yang abadi
yang hanya
berdiri jika pecut itu menyetubuhi punggungku
Serang, 14 Desember 2010
Di Garis yang Sama
lain setahun,
lain pula satu windu
adakah yang lain,
yang
menggariskan tinta itu di sini
di tempat kita
yang semakin mengisahkan rindu
bukankah suaka
tidak lagi mengenal waktu?
baginya, hanya
cahaya dan redup mentari yang membuatnya bertahan
lalu apa yang
menjelma resah di hari-hari kita?
Ingatlah, bumi
mengajarkan kita tetap tegak di garis yang sama
An,
lihatlah jelas
kelenjar merah di dadaku
kerinduan yang
tak sempat mengeja waktu
bahkan hanya
untuk satu tahun
An,
dengarlah jelas
parau suaraku
yang telah
menipis meneriakkan namamu di setiap waktu
di setiap
langit-langit yang mulai berkaca
membenturkan air
mata yang kian mencemaskan
bayangkanlah
mata tuhan
di setiap malam
yang memucatkan sanubari
aku ada, dan
kita tegak di garis yang sama
Januari 2012
Kehilangan yang Teramat
seperti
kehilangan bola mata saat ini
tak mampu lagi
melihat
rasanya gelap
apa-apa yang aku genggam
adakah kesialan
lain yang akan menimpaku?
mungkin hari
ini, atau bahkan detik ini aku akan merasakannya
bukankah Tuhan tahu
apa yang seharusnya aku telan?
bersama mendung
mega, atau bahkan hujan deras yang membunuh khayalanku
aku benar-benar
kehilangan bola mata
tidak lagi
sanggup memerhatikan duniamu
tidak lagi
sanggup menyusuri matamu yang sesak
yang kerap
menjebakku, memaksa aku untuk mengguratkan rindu di mata yang sama
Januari 2012
Hanya Aku !
seperti tertelan
masa lalu, aku berada di pusaran yang semakin kencang
menghempaskan
tubuhku, menggetarkan potongan-potongan tragedi
yang sudah aku
tanam lebih dalam dari tiang-tiang lalu lintas di perbatasan selat sunda
aku memusatkan
ingatanku
nyatanya,
tak ada yang
menguatkan
ketika hampir
sebagian tubuhku tenggelam di pelataran asa yang sempat kami rajut
lempang rasanya,
tak ada yang
menggelayuti hati
tak ada yang
berujar,”Sayang, sampai maut itu tiba, aku akan tetap menjadi sang untukmu.
Percayalah, aku mampu mencintaimu, sampai akar rinduku habis membelit waktu
kita!”
hanya aku
satu-satunya wanita yang mampu menghentikan air matanya
ketika menuruni
setiap jengkal rasa cemas yang dia punya
hanya aku yang
mampu menimang gelisahnya,
menidurkannya
dengan sehelai senyum yang mampu menghangatkan raganya yang gigil
hanya aku
ya,
hanya aku yang
mampu percaya, ketika dia bercerita ingin menjadi sang
dari segala sang
yang pernah dia temui
hanya aku yang
mampu, yang sanggup, yang kuasa untuk membuat dia merindukan
nyaman di setiap
pijakannya
hanya aku,
tempat dia kembali !
Agustus 2011
Bangkai!
aku luluh kali
ini, di hadapan pasang mata yang menghakimiku
tak pernah
meminta bahkan mengharapkan ini ada
namun tuhan,
meneriakkannya
tepat di gendang telingaku yang hancur sudah
ya,
hancur bersama
bom waktu yang diledakkan dewa semayam
aku tetap kaku,
meluluhkan diri di sekian pasang mata yang merantai
aku akan menjadi
bangkai!
membusuk, tak
tahu apa-apa.
tapi bangkai
tetap saja bangkai
meski tak salah,
tetap saja menjadi pidana
ya,
pidana dalam
hidupnya sendiri
berteriak,
menjadi yang gila dari apapun yang pernah menjadi gila
aku tetap
bangkai, bangkai !
Januari 2012
Sajak untuk
Ibu
ketika keringat
bukan lagi apak dan asam
ketika tenaga
bukan lagi lelah dan keluh
kau tetap
mengayuh nasib ke ujung lapak
ke singgasana
yang termanis
menyenandungkan
kidung di setiap tidurku
menelan duri
hidup di belakangku
tanpa aku tahu,
kau meringis perih, Ibu
kau menumpahkan
segenap kepedihan di liang bola matamu
kau habiskan
seluruh budimu untuk kami
untuk kami, yang
kau anggap mutiaramu
Serang, 05
Mei 2011
Sajak Mei
bahasa Mei
adalah bahasa ibu menyanyi
menyunting kata
dengan alunan irama suci
berdendang,
mengeja syair
dengan cinta
bahasa Mei
adalah bahasa darah
bahasa nadi yang
terukir di tubuhku
sajak ini
sajakmu, surgaku
yang tiada henti
bernyanyi untukku
yang memberikan
segenap surya untukku
aku sanggup
bertaruh dengan apapun
untuk menjaga
bahasamu agar tetap penuh cinta
aku mencintai
bahasamu, Ibu
Serang, 05
Mei 2011
Mencintaimu
seperti…
aku mencintaimu,
seperti kau
mencintai batang rokok yang kau sulut,
lalu kau hisap
dalam-dalam
di antara
bibirmu yang hitam legam
lama sudah tak
terhitung
aku bersua dalam
cengkram api yang menyulut
lalu asapmu ku
hentikan
bersama awan
mendung di ujung bolamataku,
di ujung
lengkung bibirmu yang mencari rindu kehilangan
tatap ratap
tentang sungaiku
yang terus
mengalir di pelipisku
bersama awan
yang menghitam
tiada bergumpal,
namun terus mengalir deras
14 Februari
2010
1 komentar:
nice ..
Posting Komentar