Kamis, 29 Desember 2011

Sebelum Meninggalkan Dunia dan Mereka :')

Tuhan yang baik, aku harus mencatat ini sebelum kau menyuruhku benar-benar hilang.
Dengar yaa, dan mohon rahasiakan ini !

...
"Pagi cantik!"
"Paagi, dok. Aku kenapa lagi?hhuu payah!"
"Siapa yang payah, hah?Kamu itu kuat. Cuma abis tidur panjang aja selama 4 setengah jam. Abis mimpi apaan sih?lama banget"
hahaa..dokter Agus nyapa aku kya biasanya, ramah dan penuh kejutan :)

Ternyata, apa yang selama ini aku takutkan sekarang benar-benar menimpaku. Virus sialan itu, kya y makin suka bersarang di otakku. Semakin lama, ia semakin sok menjadi dewa di sana. Dia ingin membunuhku? Dia ingin menghapus sebagian ingatanku yang lalu. Sebelum itu benar-benar terjadi, aku harus melawan itu. Aku harus sanggup membunuh mereka terlebih dahulu. Virus banci, sialan, tak punya hati kalian menyerangku, aku benci keadaan yang seperti ini !!

"Pernah diingatkan kan, tidak boleh memikirkan hal-hal berat. Kasian otak kamu. Hayoo, masa kejadian yang lalu mau kamu rasakan lagi".
"Gk dok, aku gk mau!"
"Ya sembuh dong kalau gk mau. Masih beruntung ini baru gejala, dan kawan-kawanmu kemarin cekatan sekali membawamu kemari. Baik ya mereka? Kamu sayang mereka gk?"
"Sayang, dokter..Aku janji aku sembuh, aku gk mau jadi pemikir berat. Aku janji gk mau ketemu dokter lagi di sini!"
"Hahaha kalau ketemu di tempat makan gitu, mau?"
"Mauuuuuuu dok!!"

yaah, tidak pernah ada yang tahu seorang pun tentang ini, kecuali aku dan Tuhan, dan masa laluku yang sekarang sudah bahagia dengan wanita lain. Kejadiannya sama persis di bulan-bulan yang lalu di tempat yang berbeda. Namun ini ternyata lebih hebat dari apa yang pernah kualami. Aku belum bisa menerima kabar itu, aku belum sanggup kalau REYVAN ANGGARA meninggalkan aku. Memilih menanggung penyakitnya seorang diri. Padahal aku lebih kuat jika menjalani semuanya bersama dengan dia, dan aku yakin, dia pun begitu. Tapi Tuhan menginginkan lain. Tuhan memilihkan jalan ini untuk kami, Tuhan ingin aku berusaha untuk melupakannya.  

Susah payah aku untuk meng'iya-kan itu, tapi aku lupa, kalau aku pun si penderita. Aku lupa, kalau aku pun ternyata tak sehat. Kembali lagi gejala itu, karena aku terlalu menghakimi diriku sendiri. Aku lupa dengan itu, dengan kepalaku yang sering sakit tak tertahankan, yang sering mual muntah jika terlalu turun lemah otakku, yang sering tak bisa berbuat apapun jika bangun tidur dalam keadaan yang menekan pikiranku, aku lupa kalau aku SAKIT !
ya Tuhan..gejala itu datang lagi. Aku drop hebat kemarin, aku teriak-teriak tak jelas teringat dia, aku menjerit, menangis di dalam kamar mandi, aku tak sadarkan diri selama 4 jam setengah, aku berada di ruangan ini. Ruangan yang selalu membuat aku makin pening !

"Sebelum semuanya tambah parah, mau dengerin kata dokter ganteng ini?"
"Iya dok"
"Oke, ini obatnya. Minum susu yang rutin, banyak makan sayur dan buah, sering-sering dateng ke tempat sejuk dan menyenangkan, bernyanyilah sepuas kamu, suka nyanyi kan, calon artis Indonesian Idol?"
"Ah dokter, rese!"

...
Hari ini aku pulang, kembali di keramaian yang menjagaku, tapi aku tak suka ! Hatiku tetap saja sepi, pikiranku tetap saja seorang diri. Tapi, sebelum aku meninggalkan dunia dan mereka, aku harus berusaha utuk BISA ! Aku harus bisa menjadi yang berarti untuk orang-orang yang menyayangiku, untuk mereka yang aku sayangi. Aku gk mau terlihat lemah di hadappan mereka, aku harus tetap menjadi aku yang CERIA dan Banyak TAWA, aku gk boleh lemah, Tuhan !

Ini cuma gejala, dan aku yakin, aku bisa melewatinya, aku akan kembali seperti hari-hari kemarin. Aku cuma butuh tenang. Aku akan kembali menjadi diriku yang utuh, yang utuh !! 

NB: Bakal cerpen

Mengenang Wajah Nangroe Atjeh Darussalam

Suratku untuk Aceh..

Hari ini ku sampikan selendang hitam, tepat di tepi kasur tempat aku memendam semua yang kurasa, semua yang kunikmati. Hari ini juga aku memakai selendang hitamku—tanda turut mengenang kegelisahan yang teramat jelas di wajah Ibu Pertiwi.

Hidup, yaa menikmati hidupku sebagai pembaca kehidupan yang tak mengenal keberadaanku. Sepertinya akan tetap mengajariku menjadi pribadi tangguh yang belajar pada puing-puing yang tak pernah aku jamah.

Hari ini aku mengitari kota dengan ringkih haluan yang semakin aku rasa kusut. Tiba-tiba mampu mencatat kembali peringatan  tragedi Tsunami Aceh 2004. 7 tahun silam, Indonesia mengalami cacat alam yang serius. Air bandang mengurung kota Serambi Mekkah dengan titik-titik rawan ketinggian gelombang di sana sini. Hancur, turut larut bersama nyawa-nyawa yang tak kuasa menolak bencana. Kematian menikam setiap yang berjalan di garis-garis hamparan laut yang tak lagi bersahabat. Indonesia, ku persembahkan setengah tiang untuk Pertiwi-ku :’(
Ya, 7 tahun silam, dunia dikejutkan dengan berubahnya Kota Aceh menjadi Kota hening, sehening kematian. Aku pun turut menyusuri kabar itu di berita koran lokal, nasional, bahkan televisi yang tak henti-hentinya menayangkan luka baru bagi Ibu Pertiwi. Separuh raga Indonesia bagai cacat kala itu. Meronta, mengamini setiap do’a yang terbaik untuk bangkitnya Kota Serambi Mekkah.
Aku ingat, waktu itu kutuliskan satu puisi yang kemudian kuterbangkan dari ketinggian di kotaku, berharap, ‘Indonesia’ membacanya. Yaa, selalu berharap Indonesia merasa tak sendiri memikul Banda yang hancur tak terselamatkan. Bahkan mungkin, banyak kenangan yang terselip dari mereka-mereka yang menampakkan dirinya pada bencana besar itu.

Siang ini, aku mengenang tragedi Tsunami dengan menyaksikan kembali video amukan gelombang yang memecahkan Banda Aceh. Malamnya, aku pergi ke bioskop (Twenty One Cilegon City) seorang diri untuk menikmati film besutan Sony Goakhak, “Hafalan Shalat Delisa”. Cukup khusyu memperingati tragedi kelam itu di tahun ini, tidak seperti tahun-tahun yang lalu.
Film berdurasi kurang lebih 2 jam itu banyak mengajarkan aku tentang semangat yang tak kunjung selesai, tentang bagaimana kita dengan bijak menerima kehendak ALLAH SWT, bagaimana kita harus bertahan dengan keadaan yang berubah-ubah, bagaimana kita menjalani kehidupan yang mungkin saja secara cepat atau lambat akan menjadi beda atas apa yang telah lama kita lewati, dari film itu aku mengerti bahwa ikhlas mengubah sesuatu adalah kehendak Tuhan, dan aku yakin, Tuhan selalu ada untuk orang-orang yang selalu menghargai hidup dan keberadaan orang lain di sekitarnya.

Berbicara tentang Aceh..
Lepas dari bencana nasional itu, aku menempatkan Aceh khusus di hatiku akhir-akhir ini. Setelah bangkitnya kembali Ibu Pertiwi dengan senyuman yang semakin elok, kali ini aku dikejutkan dengan keterkaitan-keterkaitanku mengenai kota itu.

Jadi teringat ketika aku mengunjungi toko buku di Kotaku. Saat itu aku memegang dua buku yang sama bagusnya, dari cover, isi, pesan, dan keasyikan bahasanya. Buku satu bercerita tentang bagaimana dampak tragedi tsunami Aceh untuk mental korbannya yang juga anak-anak. Bahwa anak-anak adalah regenerasi yang harus ditata kembali mental dan kepercayaannya pada kuasa Tuhan, bahwa di buku itu terselip makna-makna hidup yang harus dijalani, bukan lagi untuk dihindari. Buku kedua berjudul I Don’t Know How She Does it (Sibuk Berat) karangan Allison Pearson. Buku itu bercerita tentang seorang ibu yang bekerja di abad ke-21 yang semuanya dianggap serba harus dan harus meski ia pada akhirnya tidak peduli dengan keadaan psikologis anak dan suaminya. Ketertarikanku akhirnya jatuh pada buku yang kedua, karena tiba-tiba aku mengingat seseorang yang pernah mengeluh segala kesahnya pada keadaan rumah yang tak begitu nyaman untuknya, meski limpahan harta banyak ia rasakan. Kata-kata ini yang akhirnya membuat aku ingin menyelami buku ‘Sibuk Berat’ itu,
”Ka, dede benci mamah ! dia itu selalu sibuk. Apa gk ada waktu sikit buat dede? Aku juga benci kaka kalau kaka udah sibuk kuliah, terus gak ngasih kabar ke dede. Kenapa sih, semua senang sekali sibuk macem itu?”
Ya, karena ketertarikanku memelajari psikologis orang lain pula yang akhirnya meninggalkan aku untuk membeli buku yang pertama. Tapi rasanya aku puas malam ini, tanpa buku itu, dengan menonton dan menikmati narasi film besutan Sony tersebut mampu membuat aku menyelami bermil-mil kedalaman psikologis di mata Nangroe Atjeh Darussalam. Terlebih, seseorang yang mengeluh padaku itu adalah gadis cilik yang meminta aku untuk menjadi kaka angkatnya, ia berasal dari Aceh. Dari sinilah, awal aku mematri Aceh pada sendi-sendi ketidaknormalanku.

Yaa, pada akhirnya, di tahun ini aku banyak mendengar tentang Aceh, aku merasa peka tentang tanggal 26, inisial ‘A’ pada mimpi di malam-malamku..entah, itu nama siapa, tentang keberadaan orang lain yang seolah mendesak aku untuk mau menjadi dirinya, meski aku tak pernah kenal siapa wanita itu. Dia seperti datang di setiap malam-malam yang membuat sekujur tubuhku dingin, merasa ada hal lain yang menyelimutiku, entah, bagaimana Tuhan menunjukkan segalanya untukku. Tapi aku yakin, ini bukan karena kebetulan semata, tapi ini adalah takdir Tuhan yang membuatnya serupa dramatisasi hidup yang harus aku jalani. Yaah, aku peka terhadap apa-apa yang aku rasa itu milikku ! Seperti yang pernah aku catat, aku ini SENSITIF, terlalu peka pada hal-hal yang sekalipun belum pernah aku tahu. Waktulah yang akan membuka semuanya, tanpa aku meminta sedikit pada Tuhan apa yang sebenarnya menyeretku pada kotak-kotak keterkaitan yang membawa aku semakin lama semakin mengerti tentang kehilangan dan pengharapan yang besar untuk kembalinya sesuatu.

Teringat kata dosen, yang juga seniorku di Komunitas menulis,”Jadi penulis itu harus siap jadi setengah nabi. Harus siap peduli dengan orang-orang di sekitarmu. Jadi penulis itu harus menjadi orang yang berjiwa sentimentiil terhadap apa yang sudah kamu lewati, yang sedang kamu jalani, dan yang akan kamu hadapi. Jadi penulis itu nikmat! Menulislah, maka kamu akan bisa menjadi SIAPAPUN dan menyelami banyak moment di hari-harimu”.

Ingin mencatat ini (dari orang-orang terdekat: psikolog pun butuh dianalisis jiwanya haha)
: ulie itu pribadi yang unik, mandiri, selalu punya solusi untuk orang lain
: bersahabat dengan air mata, tapi kuat usahanya untuk tidak mengeluarkan air mata di depan orang-orang yang menyayanginya
: ulie itu manja, bawel, suka nyanyi di mana pun, pribadi yang ceria, sensitif abis, plin plan
: kalau jalan, sukanya sendirian, ribet katanya kalau ngajak orang
: perempuan yang kadang cuek bebek, kadang juga merhatiin dirinya banget

Kesimpulan dari gue: Gue ini aneh ! hahhahahaha thanks my hero’s :))


RUANG SEPI, 26-27 Desember 2011

Senin, 26 Desember 2011

Yakinlah, Tuhan Selalu Baik :))

suratku hari ini, Tuhan..
dengar yaa :)

...
hari ini aku baik, Tuhan. tidak melakukan hal-hal keji seperti yang sering aku lakukan; menyiksa diriku sendiri dalam sepi, duduk manis di tepian kasur yang selalu menjadi saksi ketertegunanku, atau tiba-tiba berjalan seorang diri di tempat makan semisal KFC, kemudian duduk merenung menunggu satu paket nasi atau sepotong Chicken Fillet dan segelas Mocha Float, membawa notebook-ku yang setia menemani hari-hari gelapku, kemudian memutar lagu itu dan itu yang membuatku merasa menjadi pahlawan kesiangan untuk seseorang. 

hari ini aku baik, Tuhan. menemani si kecil bermain di Fun Games, memutar otakku untuk tidak mengikuti perasaanku yang selalu tidak baik jika hari-hari sedih mulai menyelimutinya, menyelimuti kekasih hatiku yang selalu aku cinta.
aku lelah Tuhan menerima ini (yang banyak orang katakan adalah kelebihanku), perasaan peka terhadap hal-hal yang terlanjur aku patri dalam hati. aku lelah memikul perasaan yang seperti kian mengikuti perasaan orang lain. aku merasa selalu terhubung dengan orang-orang yang aku cintai, aku merasa, apa yang aku rasa adalah sama dengan apa yang dia atau mereka rasakan meski tak pernah dia katakan.

hari ini aku baik, Tuhan. tidak menangis, meski ada perasaan berlebihan mengkhawatirkan seseorang di belahan pulau yang lain. aku merindunya setiap hari, mengkhawatirkannya setiap menit, bahkan ingin rasanya aku menemani hari-harinya untuk sekadar mendengar ceritanya, keluh kesahnya, rasa lelahnya yang berkepanjangan, atau mendengar tawanya yang mampu memecahkan panas matahari di ubun-ubun kepalaku yang selalu rapuh. meski sampai saat ini, aku tidak pernah tahu apa yang dia rasakan padaku, pada harapan-harapan yang selalu menjelma serupa penghangat untuk tubuhnya yang rentan terkena angin malam yang ganas. aku ingin menjadi yang terbaik untuknya, Tuhan.

hampir setiap hari aku mengingat kata-katanya di tanggal 22 November tempo lalu, katanya,"tolong aku. aku yakin cuma kamu yang bisa membantuku".

aku selalu senang membantunya, bahkan saat ini, aku mulai menyayanginya, mencintainya, mengasihi setiap kata yang ia lontarkan, tak peduli apapun yang orang lain katakan padaku. banyak hal-hal lain yang menguatkan aku; keluarga, sahabat-sahabat terkasih yang mengerti setiap sendi yang aku punya, adikku yang selalu menaruh rasa percayanya padaku- Cut Anggi Rhara, dan janji Tuhan yang selalu menguatkan aku*INDAH PADA WAKTUNYA :))

...aku teringat hari-hari lain yang pernah terlewati...
mengingat kelebihanku itu, jadi teringat kata banyak orang. kata mereka, aku terlahir sebagai anak ajaib. kepekaanku terhadap hal-hal sensitif membuat aku kadang menjadi pribadi yang mewarnai hidupku sendiri. bagaimana tidak, ketika orang lain tertawa keras tak memperdulikan astral di sekelilingnya, aku sibuk meminta maaf atas perbuatan mereka yang tak pernah peka terhadap kawan di dunia yang lain yang memang perlu juga dihargai. kadang juga aku sibuk mengibas-ngibas jilbabku yang ditarik astral cilik yang tak pernah terlihat dengan orang-orang di sekelilingku. maka mereka kontan lari meninggalkan aku dan beberapa menit kemudian merapat mendekat di ketiakku dan berkata,"Neng, apa tadi yang lo liat?bikin ngeri deeh..bilang-bilang sih kalau liat yang aneh, jangan ngomong sendiri aja!"
hahahahahaa...lucuuu ! :))

tapi ya begitu, dari lahir keanehan itu sudah aku alami. mulai dari banyak darah yang menganggu rahim ibuku, tangan-tangan kecil yang menemani masa kecilku, wanita-wanita separuh cantik dengan wangi-wangian yang menyengat, dan serba keterbetulanku menyelamatkan banyak orang. hingga sampai saat ini, banyak sahabat-sahabat yang mencap,"Itu yang membuat lo akhirnya menjadi peka dengan hal apapun, sekalipun itu tentang CINTA dan perasaan yang lo punya!"

yaah, mungkin semua itu benar. dan aku menikmati itu :))



 
 

 

Jumat, 23 Desember 2011

Aku Bersama Tuhan :')

Sudah kubilang, Tuhan. jangan beri aku galau malam ini, ataupun di malam-malam yang akan datang.

Yaah, seperti malam-malam biasanya, aku selalu terhampar pada pasti yang menunggu, pada debur ombak yang selalu melingkarkan segala bising di kehidupanku. aku selalu hilang sebelum bayang tertelan matahari yang mengerut. aku..ah !
seperti juga ragu yang menggelayuti hari-hariku, menengadahkan jumpa pada setiap waktu yang mempertemukan. selalu menyakitkan, selalu menerima kesakitan yang luar biasa. aku selalu tak hentak pada keadaan. aku...ah !
 ...
BOLA BOLA YANG TAK LAGI MAMPU BERGULIR

sudah aku pastikan, bahwa hubungan bukan hanya ada aku, tapi KITA ! mana mungkin hubungan akan sehat, kalau yang menggerakkannya saja sakit tak kunjung sembuh memikirkan hal-hal lain yang tak perlu dipikirkan. memang benar apa kata pendahulu-pendahuluku, tidak boleh mencintai seseorang dengan cara yang berlebihan. kalau sudah begini, lebih baik aku menyiapkan segala amunisi untuk mencairkan hati dan pikiranku, ketimbang memulu harus meratapi apa yang mestinya aku buat senang. dan waktu serupa bom atom yang kapan saja siap meledak ketika masanya menentukan untuk itu.

di lain suasana, ketika ramai lalu lalang orang mengantri pesan makan siang, ketika aku menangis tak menentu di sudut kantin kampus yang selalu menyenangkan, mereka dengan tawa menemani setiap derai yang menuruni satu demi satu pori-pori pipiku yang selalu sembab. mereka menguatkanku dengan cara yang sama sewaktu aku sakit, atau bahagia yang terlalu berlebihan. mereka selalu menyulap kata bak matahari yang tak pernah habis bersinar. 
katanya,"Kamu selalu bisa terlihat hebat. bahkan kita pun kalah memperjuangkan hati selama ini. dari dulu, sejak aku kenal kamu, kamu selalu begitu, tak pernah berubah, Lie..selalu mampu untuk menjadi wanita kuat. wanita yang tak pernah setengah hati mencintai lelaki yang menurutmu memang pantas dicintai dengan cintamu yang selalu tulus. kamu tau, aku iri melihat kekuatan hati yang Tuhan beri untukmu. tunjukkan pada lelakimu, kamu itu hebat, dan dia akan rugi jika sejengkal saja memilih enyah dari hidupmu !"

yaah, seperti pelajaran-pelajaran Tuhan di bab-bab sebelumnya. aku mengenal perjumpaan, dan aku akan lekas pula mengenal perpisahan. seperti juga Hawa pada Adam, tunas pada gugur yang mengering, dan matahari pada ketaklukan senja yang pasrah menenggelamkan asa dan sinarnya. seperti itulah aku. memendam beribu jarum pada yang tak pernah ingin aku pendam. 

Tuhan memintaku untuk selalu tersenyum :))

saat seperti apapun, katanya, aku harus selalu tersenyum. karena dengan begitu, aku akan merasa ringan dan tak pernah membayangkan segala kehidupanku runtuh berkeping-keping tanpa makna. terlanjur sudah Tuhan memberikan nikmat air mata yang seolah menjadi kawan terdekat bagi wanita semacam aku, wanita yang kerap kali mengurungkan diri dalam kamar tanpa sinar lampu yang menyilaukan mata, wanita yang tak pernah bosan menenggelamkan dirinya dalam kamar mandi yang sembab ketika merasa hidupnya hampir habis tertelan waktu dan derit-derit kota yang menghakiminya, wanita yang selalu bermeditasi pada lilin-lilin beraroma terapi di pojokan kamar yang tak begitu luas tapi nyaman untuk sekadar merebahkan pikiran yang carut marut sebab kesibukan menikamnya dengan segera. yaah, aku wanita yang selalu merasa dingin pada waktu, yang mudah mencintai siapapun yang aku anggap pantas mendapatkan cintaku yang tak pernah berpura-pura, wanita yang selalu berkawan dengan malam dan hujan, wanita yang selalu senang mengenakan pakaian serba hitam seperti kepiluanku yang magis di waktu-waktu yang lain.
di lain hari, seseorang berkata demikian,"Kau itu cantik. manis sekali. pipimu merah merona, tawamu selalu tak pernah habis sepanjang hari, gelak tenggorokanmu selalu terdengar ritmis, Lie. indah sekali. tapi kenapa kau senang menangis di waktu-waktu lain yang menyedihkan bahkan di waktu bahagia yang terlampau banyak untuk kau rasakan?matamu juga penuh dengan nada yang menghangatkan, jemarimu selalu tak henti mencoret selembar demi selembar kertas yang selalu kamu bawa. apa itu? diary? semua kisah pilumu-kah? kami menyayangimu. hapus semua yang membuatmu sedih, kembalilah pada diri yang mengerti hatimu sendiri, Lie"

yaah, terlalu banyak yang memujiku. tapi mereka tak pernah tau, apa yang selama ini aku pendam di balik candaku yang memecahkan matahari. aku selalu yakin, bahwa Tuhanlah yang mestinya mengerti aku. bukan dia, atau bahkan mereka yang jumlahnya terlalu banyak. aku mengerti, mengapa Tuhan selalu ingin mengajari aku tentang ikhlas yang berkepanjangan tak pernah usai. aku mengerti, bahwa hidup bukan lahir dari banyaknya pujian atau rasa iba dari siapa saja yang menggenggam kita, tapi hidup adalah dari kehidupan yang segera membawa kita pada bahagia yang tak pernah menyudahi setiap lengkingnya yang membahana.
aku selalu mampu mempertahankan setiap apa-apa yang kusebut CINTA tapi jika itu semua adalah MIMPI baiklah, aku akan menyudahi mimpi-mimpi itu. aku akan kembali pada diri yang menenggelamkan sebagian tubuhku pada deras air yang sengaja tak ingin aku hentikan, aku akan kembali mengurungkan sebagian nafasku pada deru-deru yang lain yang membuatku sepi dan kehilangan. baiklah, kasih..aku akan menuruti semua keinginan waktu jika memang kita benar-benar harus berhenti di waktu yang belum lama mengenali aku pada berbatang-batang air mata yang timbul tenggelam di hari-hariku.

percayalah, aku teramat menyayangimu, mencintaimu, bahwa semua yang kutulis sejak itu adalah KAMU ! tapi jika semuanya justru membuatmu berkata ENTAHLAH, maka aku akan siap dengan segala yang memang harusnya aku terima. mungkin Tuhan belum menginginkan kita ada di satu titik yang sama, tapi aku yakin, semua akan kembali pada yang sewajarnya diajarkan Tuhan.  

sayang, yakinlah..kita selalu kuat untuk menghadapi semua yang datang dan pergi dalam hidup kita. aku butuh setiap ucapmu yang memberikan aku hidup. aku butuh tawamu yang selalu memenuhi ruang di hatiku. sayang, kita tidak boleh berhenti pada persimpangan yang mudah seperti ini. kita masih sanggup membuktikan pada mereka, bahkan dunia kalau kita mampu menyatukan biji-biji mata kita yang sama menaruh harap pada satu waktu yang membahagiakan kita. aku butuh kamu, aku tak sanggup jika harus mempertahankan segalanya seorang diri. tapi aku juga tak inginkan gelisah menyelimutimu, kasih. jika kau inginkan semua berakhir, putuskanlah segala apa yang telah menjeratku lebih lama dari perjumpaan kita tempo hari. aku akan tetap menata kepingan itu dengan senyum. jika kegagalan itu kita temukan nanti, baiklah sayang, aku akan kembali menyusun apa yang telah kau hancurkan seorang diri. aku akan berusaha tetap berada digaris yang sama seperti dulu, sebelum aku mengenalmu dalam ruang-ruang yang semu dan penuh tanya yang tak pernah kamu jawab. yaaah, Tuhan selalu ingin tawa dariku, begitupun mereka yang selalu menguatkanku dengan cara-cara mereka yang tak sama.


AKU HARUS MAMPU MELUPAKAN WAKTU, JIKA BENAR SEMUANYA HARUS BERAKHIR..







NB: catatan sebelum tiba bulan Januari

Jumat, 02 Desember 2011

APRESIASI PROSA FIKSI- 2010

Perbandingan Novel dan Film LASKAR PELANGI

Tulisan Maulidiyah Hastuti


Novel Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata berhasil menghipnotis pembacanya hingga pada titik penjualan yang memuaskan bagi pengarangnya sendiri. Novel ini memberikan banyak pembelajaran bagi pembacanya, termasuk saya. Novel yang berlatar belakang di Pulau Belitong ini, menceritakan keharuan yang mendetail disetiap ceritanya.
Novel ini menceritakan tentang dunia pendidikan dan kegigihan anggota Laskar Pelangi untuk terus belajar meskipun mereka menghadapi situasi yang agaknya kurang bersahabat. Dengan karakter tokoh-tokohnya yang jujur, apa adanya, bersemangat, sabar dan gigih Andrea Hirata bisa membangun cerita pada novel ini dengan nilai estetika dan edukasi yang tinggi.

Sinopsis

Cerita pada novel ini berawal dari penantian seorang kepala sekolah bernama Bapak K.A. Harfan Efendy Noor dan guru satu-satunya di sekolah SD Muhammadiyah, yaitu Ibu N.A. Muslimah Hafsari atau yang biasa disebut Bu Mus pada penerimaan murid baru di sekolah yang paling miskin di Belitong. Sekolah tersebut akan ditutup jika muridnya untuk tahun ajaran itu tidak berjumlah sepuluh orang. Dengan kekhawatiran yang teramat, mereka menunggu satu orang lagi yang bersedia untuk menuntut ilmu di sekolah yang keadaannya sudah sangat miris tersebut. Kemudian, setelah menunggu dengan cukup lama, akhirnya sepuluh murid sudah terdaftar. Harunlah yang menjadi pahlawan pada saat itu.
Di dalam novel Laskar Pelangi, diceritakan satu tokoh yang amat sederhana dan akhirnya tokoh tersebutlah yang mampu memberi inspirasi bagi pembacanya. Tokoh tersebut ialah Lintang. Seorang anak dari pedalaman pulau Belitong yang gigih mengayuh sepedanya dengan jarak 80 kilometer menuju ke sekolah SD Muhammadiyah. Lintang memiliki kecerdasan yang luar biasa. Hingga ia bisa menjadi pahlawan di acara cerdas cermat. Berkat kejeniusannya itulah Lintang dan sekolah Muhammadiyah mampu memenangkan cerdas cermat tersebut, meski pun dengan perjuangan yang tidak mudah.
Selain Lintang, di novel ini diceritakan anggota Laskar Pelangi lainnya, seperti Mahar, seorang anak yang ceria dan tampan. Ia adalah pesuruh tukang parut kelapa dan di antara teman-temannya yang lain, Mahar memiliki karakter yang unik, ia suka menyanyi dan ia mengidolakan raja dangdut, yaitu Rhoma Irama. Dalam karnaval 17 Agustus, Mahar jugalah yang memberikan ide-ide kreatif sehingga ia mampu mengembalikan nama sekolahnya dan tidak dipandang remeh lagi oleh sekolah-sekolah lain yang bonafit.
Kemudian ada tokoh Sahara yang merupakan anggota Laskar Pelangi satu-satu yang berkelamin wanita. Ia memiliki karakter yang keras kepala. Dan masih ada lagi anggota Laskar Pelangi lainnya yang dengan kegigihan yang sama, mereka mampu menunjukan bahwa pendidikan adalah suatu kebutuhan, bukan lagi suatu keharusan. Di akhir cerita, diceritakan bahwa pada tahun 1991 perguruan Muhammadiyah ditutup setelah meninggalnya Bapak kepala sekolah.

Apresiasi terhadap novel
           
Akhirnya, setelah saya membaca novel Laskar Pelangi ini, saya mendapatkan pembelajaran yang luar biasa, bahwa pendidikan teramat penting bagi semua orang, bukan lagi orang per orang. Dan, dengan kegigihan yang besar, pastilah seseorang tersebut akan mencapai apa yang diinginkannya. Novel ini memberikan asupan pengetahuan yang sangat penting bagi kita semua.
Dengan penceritaan yang ringan, penokohan yang detail dan adanya campuran cerita dari pengalaman dan imajinasi sang pengarangnya, Laskar Pelangi mampu menyabet gelar “Indonesia’s most powerful book” dan novel ini pun karena kesuksesannya, difilmkan oleh sutradara ternama, yaitu Riri Riza.
Dalam novelnya kali ini, Andrea Hirata dengan kecerdasannya mampu membuat pendeskripsian-pendeskripsian yang matang. Ia membuat tokoh-tokoh dalam novelnya dengan sangat teliti. Ada semacam pemberitahuan yang mutlak dan akhirnya dapat menjadi simbol tersendiri. Misalnya, pada tokoh A Kiong, Andrea Hirata menyebutnya dengan “anak hokian”, hal tersebut menunjukkan bahwa A Kiong ialah keturunan Tionghoa. Dan masih banyak lagi pendeskripsian yang matang yang ditulis oleh Andrea Hirata dalam novel tetraloginya tersebut.
 Dari segi bahasa, terlihat novel ini begitu luwes dan ringan. Meski pun terdapat istilah-istilah yang cukup membingungkan dan adanya kata-kata baru menurut saya, tetapi novel ini berhasil menyampaikan pesan atau amanat yang dikandungkan. Andrea Hirata, yang bisa dikatakan sebagai sastrawan baru dalam dunia kepenulisan, dengan karya populernya ini mampu mengurangi kejenuhan pembaca yang sudah banyak disuguhkan dengan cerita-cerita yang kurang memberikan inspirasi atau nilai edukasi yang begitu kental semacam ini.

Apresiasi terhadap film Laskar Pelangi

Film garapan Riri Riza itu begitu menarik khalayak ramai, termasuk saya sebagai penggemar film. Kesuksesan filmnya pun tercapai, mengikuti kesuksesan yang telah diraih novelnya terdahulu. Secara keseluruhan atau dilihat dari segi amanat yang ingin disampaikan oleh pengarang novelnya, dalam filmnya pun sudah tersampaikan dengan baik.
Riri Riza mampu mengemas inti dari ceritanya tersebut sesuai dengan harapan pengarang novel Laskar Pelangi, Andrea Hirata. Namun, pada bagian-bagian tertentu terlihat adanya penambahan dan pengurangan cerita. Misalnya, pada novel diceritakan ketika penerimaan murid baru, Lintang datang bersama ayahnya yang dideskripsikan secara mendetail oleh Andrea Hirata, sedangkan dalam film, Lintang datang seorang diri dengan mengayuh sepedanya selama 80 kilometer.

Dan tentang soal cerdas cermat, dalam filmnya Riri Riza melalui soal hitung-hitungan membuat emosial penontonnya menegang dengan pembantahan-pembantahan yang menarik, sedangkan dalam novelnya soal itu bukan hitung-hitungan melainkan soal teori warna ( ilmu fisika ), dan masih banyak perbedaan yang sangat terlihat antara pendeskripsian di novel dan film.
Unsur emosial yang saya dapatkan adalah ketika Lintang memilih berhenti sekolah karena ia ingin menjaga adik-adiknya dan membantu ayahnya melaut. Sebagai anak lelaki tertua, ia merasa harus membantu ayahnya. Dengan berat hati dan perenungan yang mengharukan, Lintang pun berhenti dengan ditangisi oleh teman-teman seperjuangannya di sekolah Muhammadiyah.
Bu Mus pun dengan derai air mata yang teramat, mau tidak mau harus melepaskan kepergian Lintang dan menerima keputusan murid terhebatnya itu. Menurut saya, bagian cerita itulah yang sangat-sangat menguras emosi kesedihan.
Kemudian ketika Bapak kepala sekolah meninggal dunia, itu pun salah satu cerita yang membuat saya merasa ada di dalam cerita, baik di novel maupun di film. Menurut saya, kedua media itu sudah dengan baik memberikan amanat yang luar biasa.
Keduanya dapat dinikmati, memberikan pembelajaran yang inspiratif dan memberikan wawasan baru tentang perjuangan segelintir orang yang masih peduli dengan keadaan pendidikan di daerah yang terpencil. Dengan kesederhanaan dan kegigihan yang amat besar, maka cita-cita setinggi apa pun akan dapat diraih dengan kesempurnaan yang indah, mungkin itulah amanat yang saya dapatkan setelah saya membaca novel dan menonton film Laskar Pelangi.


APRESIASI PROSA FIKSI KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER


“SEKALI PERISTIWA DI BANTEN SELATAN”
Tulisan Maulidiyah Hastuti

Pramoedya Ananta Toer dalam tulisannya kali ini menceritakan suatu peristiwa yang terjadi di Banten Selatan, kira-kira pada tahun 1957. Sebuah karya sastra pasti memiliki amanat atau pesan yang ingin disampaikan oleh penulisnya, begitu pun pada tulisan Pram kali ini. Saya sangat tertarik untuk mengapresiasi Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer ini menggunakan pendekatan didaktis, terlepas novel ini merupakan cerita nyata atau fiktif belaka yang sengaja Pram tulis di masa itu.
Novel ini menggambarkan betapa sikap kerja sama atau solidaritas itu sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan sesuatu yang akan dicapai. Bentuk perjuangan dan kerja sama para tokohnya di novel ini sebanding dengan apa yang akan didapatkan. Semuanya itu terletak pada solidaritas yang dibentuk dengan keringat keras oleh Ranta. Ranta, “maling” yang akhirnya dapat melepaskan dirinya dari jeratan sang juragan yang selalu berkhianat. Juragan yang ternyata anggota Darul Islam, yang senang melakukan penindasan dan kesewenang-wenangan, dan kemiskinanlah yang menjadi salah satu faktor mengapa kekerasan itu bisa terjadi.
Darul Islam disebut-sebut sebagai kelompok pemberontak yang kejam, yang siap kapan saja untuk menghancurkan orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka. Pada tulisannya kali ini, Pramoedya Ananta Toer melakukan kunjungannya di beberapa daerah, bukan hanya di Banten tetapi juga di luar Banten. Yang menarik dalam Sekali Peristiwa di Banten Selatan ini adalah jalan cerita yang cukup menegangkan dan pesan mendalam yang ingin disampaikan oleh Pram.
Di dalam novel ini, Pram menyinggung tentang kerja sama yang saat ini lebih dikenal dengan gotong-royong. Pram menggambarkan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan manusia satu dengan manusia yang lainnya, dan dengan bergotong-royonglah suatu perjuangan akan membuahkan hasil. Pesan ini terlihat sangat mudah diucapkan, tetapi saya yakin pada realitanya sikap kerja sama semacam ini cukup sulit dilakukan. Terbukti, untuk saat ini masih banyak manusia yang tidak acuh dengan manusia yang lainnya. Masih banyak kekerasan yang terjadi.
Dalam novel ini, Pram membentuk tokohnya, Ranta, menjadi manusia yang berani dan tangguh. Berawal dari ketakutannya pada ancaman seorang juragan yang bersikap semena-mena pada dirinya. Juragan tersebut bernama jurangan Musa. Sosoknya sangat disegani oleh orang-orang kampung sekitar, khususnya rakyat kecil seperti Ranta dan istrinya, Ireng yang selalu diancam jika tidak memenuhi apa yang diinginkan oleh juragan Musa, maka kehidupan mereka akan lebih sengsara. Kearogansian dan sikap semena-mena juragan Musa terlihat ketika ia menyuruh Ranta untuk menjadi maling dengan mengambil bibit karet yang bukan haknya, dan juragan licik itu tidak ingin namanya menjadi jelek.
Musa merogoh kantungnya dan menyerahkan uang seringgit pada Ranta. Sebelum berangkat ia berpesan:
Kalau ada apa-apa, jangan sebut-sebut namaku. Mengerti?
Dengan tajam ia menentang mata Ranta, kemudian berangkat sambil mengayun-ayunkan tongkatnya. (hal. 18)
Dalam novel ini, banyak sekali pesan yang ingin disampaikan oleh Pram. Selain sikap gotong-royong yang harus tetap dilestarikan, terdapat pula sebuah pesan optimis terhadap hidup jika ingin mendapatkan kebahagiaan. Sebagaimana Ranta yang meyakinkan istrinya untuk selalu optimis menghadapi hidup dengan keberanian dan kebosanan mereka terhadap keputusasaan yang justru terus-menerus mengasah sikap berani diri Ranta.
Ada waktunya, Reng, kita akan hidup baik dan senang. Nanti. (hal. 19)
            Kita sudah bosan putusasa. Kita takkan putusasa lagi. Kita akan perbaiki keadaan kita. Bukan, Ireng? (hal. 31)
            Dalam cerita ini pun, terkandung pesan bahwa seorang istri turut andil dalam mencapai keberhasilan dan keoptimisan yang sedang dilakukan oleh sang suami. Seorang istri harusnya mampu menyemangati apa pun yang dilakukan suaminya, selama itu masih wajar dan hal yang positif.
Pram, mampu menyihir kata-katanya menjadi alur cerita yang cukup menegangkan. Kekerasan yang menimpa rakyat kecil di daerah tersebut, nyatanya bisa menumbuhkan semangat baru. Melalui tokoh Ranta, mereka secara perlahan menumbuhkan keberaniannya itu untuk melawan juragan Musa dan anggota Darul Islam lainnya yang sudah mengganggu ketentraman daerah mereka. Ranta dan warga lainnya, perlahan membongkar kelakuan juragan Musa yang licik itu. Dengan suasana penangkapan yang tegang, Ranta dan pihak berwajib bisa memboyong juragan Musa dan pak lurah, yang juga termasuk anggota DI ke dalam penjara. Kemudian Ranta diangkat menjadi lurah sementara, selama pemilihan lurah belum dilaksanakan. Ranta menempati rumah juragan Musa. Inilah hasil akhir dari sikap optimis yang digambarkan oleh Pram melalui tokoh Ranta. Dari penceritaan yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer ini pun, kita sebagai generasi bangsa, harusnya mampu lebih bersemangat lagi untuk mengembalikan tradisi kerja sama yang kuat itu, yakni kesatuan atau sikap gotong royong yang hampir pudar untuk dewasa ini. Amanat yang terkandung di dalam novel ini semoga dapat mengembalikan citra bangsa yang memang sudah ada sejak jaman dahulu.
  
 


 

Foklor Tim Diksatrasia Region Kota Serang- April 2011

KISAH GUNUNG ANAK-ANAKAN


Keberangkatan kami, tim observasi foklor ke daerah Padarincang pada hari sabtu, tanggal 23 April 2011 bertujuan untuk menggali kisah Gunung Anak-anakan yang berada di Kampung Pasir Eurih, Desa Hunyur, Kecamatan Padarincang. Kami mendatangi bapak Atun Lesmana S.pd yang dikenal sebagai Pemandu Wisata Umum Kab. Serang. Sudah banyak orang yang mendatangi beliau untuk menanyakan kisah-kisah yang berada di wilayah tersebut. Bahkan, turis mancanegara pun ada yang mendatangi beliau dalam rangka penelitian tertentu atau hanya sekadar ingin mengetahui kisah-kisah yang berada di Banten. Kemudian, kami juga mendatangi bapak Lesmana Indra Prayoga S.Pd sebagai nara sumber kedua kami. Beliau adalah seorang guru honor di SMP 1 Padarincang. Dari kedua nara sumber itulah kami dapat menelusuri kisah Gunung Anak-anakan yang selama ini banyak menyimpan misteri dan belum terlalu luas dikenal banyak orang. Sebelum menggali tentang Gunung Anak-anakan, kami sempat mengunjungi Banten Lama dan meminta referensi foklor yang akan kami angkat ke dalam tulisan kami. Selain itu, kami juga sudah mengunjungi Gunung Pinang yang terletak di Kampung Giripada, Kecamatan Kramat Watu. Namun, di sana justru kami mendapatkan kekesalan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, yang seenaknya dia membohongi kami. Memberikan alamat palsu tentang kuncen Gunung Pinang tersebut. Maka dari itu, kami memutuskan untuk ke Padarincang dan menggali tentang kisah Gunung Anak-anakan.
***
Kisah Gunung Anak-anakan ini berawal ketika Syekh Mahidin dan 40 muridnya mengembara dan singgah di suatu hutan. Ditengah perjalanan, Syekh Mahidin dan santri-santrinya mendirikan sebuah masjid. Mereka memiliki suatu kebiasaan yang lain dari kebanyakan orang, yaitu buang air kecil di atas tempurung kelapa. Setelah selesai, barulah mereka membuang air seni dari tempurung kelapa ke tanah. Mereka melakukan hal tersebut karena aturanlah yang tidak membolehkan mereka membuang air kecil secara langsung ke tanah. Namun pada suatu hari, Syekh yang ketika itu baru selesai buang air kecil, lupa membuang air seninya dari tempurung kelapa. Beliau tidak sengaja membiarkan air seninya tetap berada di tempurung kelapa. Kemudian, air seni Syekh tersebut diminum oleh seekor babi hutan.
***
Suatu hari, Syekh Mahidin mendengar suara tangisan bayi. Setelah beliau menyusuri hutan, beliau menemukan bayi yang sedang ditunggui oleh seekor babi hutan. Ternyata, air seni Syekh yang diminum oleh babi hutan tersebut sudah menjadi benih yang kemudian tumbuh menjadi janin di dalam perut babi hutan itu, dan kemudian lahirlah menjadi sosok anak manusia. Tak pelak, Syekh dan rombongan yang masih mengembara di hutan itu pun tercengang. Syekh dan para santrinya bertanya-tanya mengapa seekor babi dapat melahirkan anak manusia. Kemudian, untuk meyakinkan siapakah ayah dari bayi itu, Syekh dan rombongan membuat semacam ritual, yaitu Syekh dan para santrinya masing-masing membuat makanan yang terbuat dari beras ketan dan menandainya sebagai simbol agar tidak tertukar, kemudian makanan tersebut disimpan berjajar di tanah. Barang siapa yang makanannya dimakan oleh bayi tersebut, maka dialah ayah dari bayi yang dilahirkan oleh babi hutan itu. Tanpa diduga, bayi itu mengambil makanan yang dibuat oleh Syekh Mahidin. Maka terungkaplah siapa yang menjadi ayah dari bayi tersebut. Syekh Mahidin pun lalu merawat bayi itu hingga ia tumbuh besar.
Karena Syekh Mahidin merasa malu, karena ternyata bayi itu adalah hasil dari air seninya, maka akhirnya Syekh Mahidin bersama bayinya meninggalkan hutan dan ke-40 santrinya. Kemudian, beliau menuju ke suatu gunung yang letaknya di Kampung Pasir Eurih, Desa Hunyur, Kecamatan Padarincang.


***
Bayi  itu pun tumbuh menjadi anak yang cantik dan diberi nama Hartati. Hartati mendapatkan kasih sayang yang luar biasa dari Syekh Mahidin. Setelah anaknya tumbuh semakin dewasa, Syekh mengajak Hartati ke hutan dan kembali ke tempat para santrinya. Namun, sekembalinya Syekh, ternyata di sana sedang ada berita yang mengejutnya, yaitu di dalam masjid yang mereka dirikan,  tepatnya di tempat pengimaman, tumbuh tanaman semacam jamur raksasa. Semua santri yang berada di situ termasuk Syekh Mahidin sendiri tidak dapat mencabut jamur yang sudah hampir menjungkir balikan bangunan masjid itu—karena akarnya terus menjalar. Semuanya panik dan tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Kemudian, dengan keberanian yang besar, Hartati pun ikut mencoba untuk mencabut tanaman itu, karena sebelumnya ia mendapatkan mimpi bahwa dialah yang bisa mencabut tanaman tersebut dan dalam mimpi itu dia memdapatkan petunjuk untuk membuat sampan. Setelah adanya mimpi tersebut, maka Hartati pun membuat sampan. Tanpa diduga, ia bisa mencabutnya. Namun yang terjadi, muncullah mata air yang amat deras. Seluruh santri dan Syekh Mahidin tenggelam ke dalam kubangan air bah tersebut. Sementara Hartati masih selamat, karena ia menaiki sampan yang telah ia buat sebelumnya. Menurut cerita, Syekh Mahidin berubah menjadi buaya putih dan ke-40 santrinya berubah menjadi buaya di rawa danau yang terletak di Cagar Alam di Kampung Suka maju, Desa Citasung, Kecamatan Padarincang.
***
Karena Hartati kemudian hidup sendiri, maka ia pun memutuskan untuk kembali ke gunung, tempat ia dibesarkan. Hartati pun senang menyulam, untuk mengisi hari-harinya. Pada saat dia menyulam, tiba-tiba benang sulamannya terjatuh. Benang sulamanannya itu jatuh terlalu jauh dari tempat Hartati, maka dari itu ia pun berujar demikian,“Barang siapa yang mengembalikan benang itu, bila ia seorang wanita maka akan kujadikan saudara perempuanku, namun jika dia seorang laki-laki maka ia akan kujadikan suami”.
Tanpa ia duga, benang itu ditemukan oleh seekor anjing jantan. Maka akhirnya, mau tak mau Hartati pun menikahi anjing tersebut. Menurut cerita, anjing itu adalah jelmaan dari pangeran yang tengah dikutuk untuk beberapa waktu lamanya. Setelah beberapa bulan, Hartati pun melahirkan anak manusia dan memberinya nama Sangkuriang, yang memiliki arti “tempat harta” (Sangku berarti wadah, dan Riang berarti harta).
Setiap hari, Hartati merawat anaknya dengan penuh kasih sayang—seperti yang dilakukan ayahnya dahulu. Hartati selalu menitah (mengajari anaknya menapak dan berjalan) dengan kesenangan hati yang luar biasa. Anehnya lagi, yang kemudian menjadi misteri hingga saat ini adalah adanya telapak kaki bayi dan kaki orang dewasa yang terpatri di sebuah jajaran batu yang amat besar, yang tidak mungkin ada seorang manusia pun yang dapat memindahkan batu tersebut. Jejak-jejak kaki itu begitu jelas terukir di batu itu. Jejak-jejak kaki itu diduga sebagai jejak kaki Hartati dan Sangkuriang. Batu itu terletak di dekat patung dengan wujud perempuan yang diduga pada zaman dahulu dipakai sebagai sesembahan manusia kepada roh-roh halus. Karena keanehan tersebut, maka oleh warga setempat gunung itu dinamai Gunung Anak-anakan. Namun, untuk saat ini patung dengan wujud perempuan tersebut sudah tidak bisa dijumpai lagi. Diduga patung tersebut sudah dipindahkan oleh pihak-pihak tertentu.

INGIN PULANG

Cerpen Mauliediyaa Hastuti

Malam ini aku ingin pulang. Pulang ke tempat yang pernah dia janjikan. Di selaksa rimbun hati yang selalu dia ceritakan, dia khayalkan. Aku ingin pulang ! ingin pulang !
Dia, laki-laki yang selalu mengulurkan tangannya ketika aku butuh. Laki-laki yang selalu ingin membawakan aku sekuntum mawar merah, meski harus kembali ke kebun dengan telapak tangan yang luka-luka terkena duri mawar. Dia selalu merapikan lengan bajuku yang kusut, yang sedikit demi sedikit menanjak mendekati hampir ke ketiakku yang selalu ingin dia endus, bagai harum mawar di kebunnya. Aku merindukannya malam ini, hingga perasaanku tak henti inginkan pulang. Pulang menjemput semua yang pernah dikhayalkannya. Aku rindu semua yang dia lontarkan, yang ia simpan dalam angan dan kenangan. Mungkin saat ini, aku mulai memutar otakku lebih ke arah yang dulu ia tunjukkan. Tuhan, bantu aku menyelesaikan semua. Semua !
***
Di tempat ini aku merindukan tentang dia, tentang sebagian hidupku yang hampir ia miliki. Di sini, aku pernah menjamunya dengan sepotong senyum. Seplastik alat make-up yang baru saja aku beli di toko swalayan samping tempat ini. Di sini ia pernah menggoda wanita berbaju merah—sama dengan warna baju yang ia kenakan sore itu. Ia menggodanya dengan amat lihai, membuat aku mengerutkan sedikit keningku. Mencibirnya, memukulnya dengan kertas kado yang baru saja aku beli bersama alat make-up ku. Ia tersenyum, menggoda aku yang mulai terbakar cemburu.
“Liat tuh, diketawain abang becak, tau! Jelek banget sih kalau lagi jealous gitu. Hahaha”
“Siapa yang jealous? GR!”, bantahku yang jelas-jelas memang cemburu dengan wanita di sampingku.
Setelahnya, ia menggandengku menyusuri jalan menuju Kota Baru. Tempatnya merebahkan lelah dan impiannya. Tempat ia menemukan semua yang harusnya ia miliki sejak kecil, tempat ia dipisahkan dari darah-darah yang selalu merindukannya. Tempat ia mencoba mengadukan segala resah yang ia rasa. Tempat ia dan aku dipertemukan pertama kali, melalui darah yang menyayanginya. Tempat ia menyaksikan kekagumanku akan suaranya yang menenangkan aku, tempat ia memberikan janji-janji padaku lewat liriknya, lewat syair-syair yang sempat ia tulis untukku.
Perjalanan itu menyenangkan buatku. Aku belajar ketegaran yang ia tunjukkan. Aku belajar mengerti keadaan yang kapan saja dapat aku rasakan. Aku mengerti, bahwa ia sanggup menjadikan waktu musamku menjadi serupa surga yang tak pernah punya cacat. Di hari itu, aku lakukan semua kesalahan yang membuatku rindu ingin pulang, yang menguatkan aku ingin kembali ke Kota Baru.
Sebelum kami tiba di rumahnya, aku menemaninya makan di warung tenda, di depan pos Indonesia samping bank BRI Serang, depan kantor Gubernur yang selalu saja ramai ketika pemilu akan tiba. Kantor Gubernur, yang selalu menjadi pusat tarik suara mahasiswa dan simpatisan lainnya menyuarakan gelap yang diderita selama bertahun-tahun.
Seperti tak ingin percaya, itulah terakhir kalinya aku menemani ia makan. Terakhir kalinya aku merasakan bahwa ia benar-benar mencintaiku. Bahwa ia sungguh suatu hari nanti akan menepati janji-janjinya yang selalu aku tunggu. Mungkinkah semua itu karena salahku? Aku tak pernah tahu apa kesalahan besar yang telah aku buat padanya. Tapi sungguh, aku teramat menyayanginya, teramat mengagumi semua yang ia beri untukku. Aku menyayanginya, aku ingin pulang !
***
Selesai menemaninya makan, perjalanan kami lanjutkan. Aku menggenggam lengannya yang putih bersih, yang sempat melingkar di pundakku. Aku menengadahkan mukaku, menyusuri kedalaman matanya yang tak pernah hilang di hatiku. Matanya, yang memancarkan segenap keoptimisan tentang hidup. Dari matanya, aku mampu mencintai kekanak-kanakkannya, dari matanya, aku sanggup merindu hingga kini. Setelah berminggu-minggu ia tinggalkan aku dalam kebingungan yang teramat besar. Aku sungguh ingin kembali. Menyusuri gelap yang ia cipta, menerangkan segala isi syair yang membuatku sedikit berarti. Oh Tuhan, sampaikan padanya aku ingin kembali, aku ingin pulang segera, menjamunya dengan sepotong senyuman yang sama, yang pernah ia terima sore itu.
Laki-laki yang kini selalu menjelma bagai pemain horror itu, membuat aku gelisah sepanjang September, sepanjang hari-hari di bulan Oktober pun mungkin masih akan aku rasakan. Aku gelisah, berjalan bukan dengan kehendakku. Mengitari kota-kota lain bukan dengan kerianganku. Aku hanya mengikuti arus yang sengaja orang lain ciptakan untukku, untuk kesenanganku, tanpa melihat apakah aku sudah sanggup meninggalkan dermaga yang lama atau aku masih terseok di tempat yang selalu mengingatkan aku pada kedalaman matanya yang tangguh, yang memiliki banyak pusaran untuk menjebakku lebih dalam lagi mencintainya, mencintai kecintaannya pada berbatang-batang rokok yang pernah ia sodorkan padaku.
Bahuku tak lagi sekuat dulu, tak setegar ketika aku harus menampar banyak gedung yang menghalangi pertemuan kami. Aku bagai lepas landas tanpa arena yang baik. Aku lengleng dibuatnya, aku hampir menumbukkan sebagian isi kepalaku pada ratusan semut yang mengejek. Aku ingin pulang, berhenti di depan matanya, memagutkan segala yang ia kisahkan. Aku ingin kembali ke Kota itu. Ke Kota yang mengenali aku tentang lak-laki kuat yang mampu meyakinkan dirinya bahwa ia adalah orang pilihan. Laki-laki yang ingin mendengar suaraku ketika berpuisi, ketika mengisahkan tentang matanya yang tak berhenti membenturkan keinginanku untuk selalu bersamanya. Aku sungguh teramat menyayanginya, menyayangi kelemahannya, seperti juga ibu yang selalu mencintai kelemahanku ketika aku lemah ditinggalkan laki-laki yang sungguh menyita akalku, menenggelamkan bahuku yang dulu kokoh melepaskan setiap beling-beling yang menancap di ketinggian asa. Aku ingin pulang ! Ingin kembali ke Kota Baru.
***
Dan malam pun memang menyuruhku pulang. Bintang semakin menampakkan sinarnya. Perlahan, langit pun kembali cerah, setelah gerimis membuat awan menutupi indahnya. Aku tahu aku harus pulang malam ini, gerimis sudah tak lagi bisa menjadi alasan untuk aku tetap duduk di tempat itu. Mengingatkan kerinduanku yang hampir membusuk. Aku pulang, satu angkutan dengan rombongan yang baru saja selesai meneriakkan kerinduannya pada damai, pada harga-harga beras yang semakin meninggi, pada ketidakwajaran kerja pemerintah di Serang ini. Pada perhitungan-perhitungan mereka tentang tahunan yang dipakai tameng untuk tetap menegakkan dinasti yang carut marut. Aku pulang dengan kegelisahan yang bertambah, yang membuatku semakin gelap, tanpa sinar bintang yang sama aku rasa malam ini.

-S e l e s a i-

Serang, September sembab