Sudah kubilang, Tuhan. jangan beri aku galau malam ini, ataupun di malam-malam yang akan datang.
Yaah, seperti malam-malam biasanya, aku selalu terhampar pada pasti yang menunggu, pada debur ombak yang selalu melingkarkan segala bising di kehidupanku. aku selalu hilang sebelum bayang tertelan matahari yang mengerut. aku..ah !
seperti juga ragu yang menggelayuti hari-hariku, menengadahkan jumpa pada setiap waktu yang mempertemukan. selalu menyakitkan, selalu menerima kesakitan yang luar biasa. aku selalu tak hentak pada keadaan. aku...ah !
...
BOLA BOLA YANG TAK LAGI MAMPU BERGULIR
sudah aku pastikan, bahwa hubungan bukan hanya ada aku, tapi KITA ! mana mungkin hubungan akan sehat, kalau yang menggerakkannya saja sakit tak kunjung sembuh memikirkan hal-hal lain yang tak perlu dipikirkan. memang benar apa kata pendahulu-pendahuluku, tidak boleh mencintai seseorang dengan cara yang berlebihan. kalau sudah begini, lebih baik aku menyiapkan segala amunisi untuk mencairkan hati dan pikiranku, ketimbang memulu harus meratapi apa yang mestinya aku buat senang. dan waktu serupa bom atom yang kapan saja siap meledak ketika masanya menentukan untuk itu.
di lain suasana, ketika ramai lalu lalang orang mengantri pesan makan siang, ketika aku menangis tak menentu di sudut kantin kampus yang selalu menyenangkan, mereka dengan tawa menemani setiap derai yang menuruni satu demi satu pori-pori pipiku yang selalu sembab. mereka menguatkanku dengan cara yang sama sewaktu aku sakit, atau bahagia yang terlalu berlebihan. mereka selalu menyulap kata bak matahari yang tak pernah habis bersinar.
katanya,"Kamu selalu bisa terlihat hebat. bahkan kita pun kalah memperjuangkan hati selama ini. dari dulu, sejak aku kenal kamu, kamu selalu begitu, tak pernah berubah, Lie..selalu mampu untuk menjadi wanita kuat. wanita yang tak pernah setengah hati mencintai lelaki yang menurutmu memang pantas dicintai dengan cintamu yang selalu tulus. kamu tau, aku iri melihat kekuatan hati yang Tuhan beri untukmu. tunjukkan pada lelakimu, kamu itu hebat, dan dia akan rugi jika sejengkal saja memilih enyah dari hidupmu !"
katanya,"Kamu selalu bisa terlihat hebat. bahkan kita pun kalah memperjuangkan hati selama ini. dari dulu, sejak aku kenal kamu, kamu selalu begitu, tak pernah berubah, Lie..selalu mampu untuk menjadi wanita kuat. wanita yang tak pernah setengah hati mencintai lelaki yang menurutmu memang pantas dicintai dengan cintamu yang selalu tulus. kamu tau, aku iri melihat kekuatan hati yang Tuhan beri untukmu. tunjukkan pada lelakimu, kamu itu hebat, dan dia akan rugi jika sejengkal saja memilih enyah dari hidupmu !"
yaah, seperti pelajaran-pelajaran Tuhan di bab-bab sebelumnya. aku mengenal perjumpaan, dan aku akan lekas pula mengenal perpisahan. seperti juga Hawa pada Adam, tunas pada gugur yang mengering, dan matahari pada ketaklukan senja yang pasrah menenggelamkan asa dan sinarnya. seperti itulah aku. memendam beribu jarum pada yang tak pernah ingin aku pendam.
Tuhan memintaku untuk selalu tersenyum :))
saat seperti apapun, katanya, aku harus selalu tersenyum. karena dengan begitu, aku akan merasa ringan dan tak pernah membayangkan segala kehidupanku runtuh berkeping-keping tanpa makna. terlanjur sudah Tuhan memberikan nikmat air mata yang seolah menjadi kawan terdekat bagi wanita semacam aku, wanita yang kerap kali mengurungkan diri dalam kamar tanpa sinar lampu yang menyilaukan mata, wanita yang tak pernah bosan menenggelamkan dirinya dalam kamar mandi yang sembab ketika merasa hidupnya hampir habis tertelan waktu dan derit-derit kota yang menghakiminya, wanita yang selalu bermeditasi pada lilin-lilin beraroma terapi di pojokan kamar yang tak begitu luas tapi nyaman untuk sekadar merebahkan pikiran yang carut marut sebab kesibukan menikamnya dengan segera. yaah, aku wanita yang selalu merasa dingin pada waktu, yang mudah mencintai siapapun yang aku anggap pantas mendapatkan cintaku yang tak pernah berpura-pura, wanita yang selalu berkawan dengan malam dan hujan, wanita yang selalu senang mengenakan pakaian serba hitam seperti kepiluanku yang magis di waktu-waktu yang lain.
di lain hari, seseorang berkata demikian,"Kau itu cantik. manis sekali. pipimu merah merona, tawamu selalu tak pernah habis sepanjang hari, gelak tenggorokanmu selalu terdengar ritmis, Lie. indah sekali. tapi kenapa kau senang menangis di waktu-waktu lain yang menyedihkan bahkan di waktu bahagia yang terlampau banyak untuk kau rasakan?matamu juga penuh dengan nada yang menghangatkan, jemarimu selalu tak henti mencoret selembar demi selembar kertas yang selalu kamu bawa. apa itu? diary? semua kisah pilumu-kah? kami menyayangimu. hapus semua yang membuatmu sedih, kembalilah pada diri yang mengerti hatimu sendiri, Lie"
yaah, terlalu banyak yang memujiku. tapi mereka tak pernah tau, apa yang selama ini aku pendam di balik candaku yang memecahkan matahari. aku selalu yakin, bahwa Tuhanlah yang mestinya mengerti aku. bukan dia, atau bahkan mereka yang jumlahnya terlalu banyak. aku mengerti, mengapa Tuhan selalu ingin mengajari aku tentang ikhlas yang berkepanjangan tak pernah usai. aku mengerti, bahwa hidup bukan lahir dari banyaknya pujian atau rasa iba dari siapa saja yang menggenggam kita, tapi hidup adalah dari kehidupan yang segera membawa kita pada bahagia yang tak pernah menyudahi setiap lengkingnya yang membahana.
aku selalu mampu mempertahankan setiap apa-apa yang kusebut CINTA tapi jika itu semua adalah MIMPI baiklah, aku akan menyudahi mimpi-mimpi itu. aku akan kembali pada diri yang menenggelamkan sebagian tubuhku pada deras air yang sengaja tak ingin aku hentikan, aku akan kembali mengurungkan sebagian nafasku pada deru-deru yang lain yang membuatku sepi dan kehilangan. baiklah, kasih..aku akan menuruti semua keinginan waktu jika memang kita benar-benar harus berhenti di waktu yang belum lama mengenali aku pada berbatang-batang air mata yang timbul tenggelam di hari-hariku.
percayalah, aku teramat menyayangimu, mencintaimu, bahwa semua yang kutulis sejak itu adalah KAMU ! tapi jika semuanya justru membuatmu berkata ENTAHLAH, maka aku akan siap dengan segala yang memang harusnya aku terima. mungkin Tuhan belum menginginkan kita ada di satu titik yang sama, tapi aku yakin, semua akan kembali pada yang sewajarnya diajarkan Tuhan.
sayang, yakinlah..kita selalu kuat untuk menghadapi semua yang datang dan pergi dalam hidup kita. aku butuh setiap ucapmu yang memberikan aku hidup. aku butuh tawamu yang selalu memenuhi ruang di hatiku. sayang, kita tidak boleh berhenti pada persimpangan yang mudah seperti ini. kita masih sanggup membuktikan pada mereka, bahkan dunia kalau kita mampu menyatukan biji-biji mata kita yang sama menaruh harap pada satu waktu yang membahagiakan kita. aku butuh kamu, aku tak sanggup jika harus mempertahankan segalanya seorang diri. tapi aku juga tak inginkan gelisah menyelimutimu, kasih. jika kau inginkan semua berakhir, putuskanlah segala apa yang telah menjeratku lebih lama dari perjumpaan kita tempo hari. aku akan tetap menata kepingan itu dengan senyum. jika kegagalan itu kita temukan nanti, baiklah sayang, aku akan kembali menyusun apa yang telah kau hancurkan seorang diri. aku akan berusaha tetap berada digaris yang sama seperti dulu, sebelum aku mengenalmu dalam ruang-ruang yang semu dan penuh tanya yang tak pernah kamu jawab. yaaah, Tuhan selalu ingin tawa dariku, begitupun mereka yang selalu menguatkanku dengan cara-cara mereka yang tak sama.
AKU HARUS MAMPU MELUPAKAN WAKTU, JIKA BENAR SEMUANYA HARUS BERAKHIR..
NB: catatan sebelum tiba bulan Januari
AKU HARUS MAMPU MELUPAKAN WAKTU, JIKA BENAR SEMUANYA HARUS BERAKHIR..
NB: catatan sebelum tiba bulan Januari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar