Jumat, 02 Desember 2011

INGIN PULANG

Cerpen Mauliediyaa Hastuti

Malam ini aku ingin pulang. Pulang ke tempat yang pernah dia janjikan. Di selaksa rimbun hati yang selalu dia ceritakan, dia khayalkan. Aku ingin pulang ! ingin pulang !
Dia, laki-laki yang selalu mengulurkan tangannya ketika aku butuh. Laki-laki yang selalu ingin membawakan aku sekuntum mawar merah, meski harus kembali ke kebun dengan telapak tangan yang luka-luka terkena duri mawar. Dia selalu merapikan lengan bajuku yang kusut, yang sedikit demi sedikit menanjak mendekati hampir ke ketiakku yang selalu ingin dia endus, bagai harum mawar di kebunnya. Aku merindukannya malam ini, hingga perasaanku tak henti inginkan pulang. Pulang menjemput semua yang pernah dikhayalkannya. Aku rindu semua yang dia lontarkan, yang ia simpan dalam angan dan kenangan. Mungkin saat ini, aku mulai memutar otakku lebih ke arah yang dulu ia tunjukkan. Tuhan, bantu aku menyelesaikan semua. Semua !
***
Di tempat ini aku merindukan tentang dia, tentang sebagian hidupku yang hampir ia miliki. Di sini, aku pernah menjamunya dengan sepotong senyum. Seplastik alat make-up yang baru saja aku beli di toko swalayan samping tempat ini. Di sini ia pernah menggoda wanita berbaju merah—sama dengan warna baju yang ia kenakan sore itu. Ia menggodanya dengan amat lihai, membuat aku mengerutkan sedikit keningku. Mencibirnya, memukulnya dengan kertas kado yang baru saja aku beli bersama alat make-up ku. Ia tersenyum, menggoda aku yang mulai terbakar cemburu.
“Liat tuh, diketawain abang becak, tau! Jelek banget sih kalau lagi jealous gitu. Hahaha”
“Siapa yang jealous? GR!”, bantahku yang jelas-jelas memang cemburu dengan wanita di sampingku.
Setelahnya, ia menggandengku menyusuri jalan menuju Kota Baru. Tempatnya merebahkan lelah dan impiannya. Tempat ia menemukan semua yang harusnya ia miliki sejak kecil, tempat ia dipisahkan dari darah-darah yang selalu merindukannya. Tempat ia mencoba mengadukan segala resah yang ia rasa. Tempat ia dan aku dipertemukan pertama kali, melalui darah yang menyayanginya. Tempat ia menyaksikan kekagumanku akan suaranya yang menenangkan aku, tempat ia memberikan janji-janji padaku lewat liriknya, lewat syair-syair yang sempat ia tulis untukku.
Perjalanan itu menyenangkan buatku. Aku belajar ketegaran yang ia tunjukkan. Aku belajar mengerti keadaan yang kapan saja dapat aku rasakan. Aku mengerti, bahwa ia sanggup menjadikan waktu musamku menjadi serupa surga yang tak pernah punya cacat. Di hari itu, aku lakukan semua kesalahan yang membuatku rindu ingin pulang, yang menguatkan aku ingin kembali ke Kota Baru.
Sebelum kami tiba di rumahnya, aku menemaninya makan di warung tenda, di depan pos Indonesia samping bank BRI Serang, depan kantor Gubernur yang selalu saja ramai ketika pemilu akan tiba. Kantor Gubernur, yang selalu menjadi pusat tarik suara mahasiswa dan simpatisan lainnya menyuarakan gelap yang diderita selama bertahun-tahun.
Seperti tak ingin percaya, itulah terakhir kalinya aku menemani ia makan. Terakhir kalinya aku merasakan bahwa ia benar-benar mencintaiku. Bahwa ia sungguh suatu hari nanti akan menepati janji-janjinya yang selalu aku tunggu. Mungkinkah semua itu karena salahku? Aku tak pernah tahu apa kesalahan besar yang telah aku buat padanya. Tapi sungguh, aku teramat menyayanginya, teramat mengagumi semua yang ia beri untukku. Aku menyayanginya, aku ingin pulang !
***
Selesai menemaninya makan, perjalanan kami lanjutkan. Aku menggenggam lengannya yang putih bersih, yang sempat melingkar di pundakku. Aku menengadahkan mukaku, menyusuri kedalaman matanya yang tak pernah hilang di hatiku. Matanya, yang memancarkan segenap keoptimisan tentang hidup. Dari matanya, aku mampu mencintai kekanak-kanakkannya, dari matanya, aku sanggup merindu hingga kini. Setelah berminggu-minggu ia tinggalkan aku dalam kebingungan yang teramat besar. Aku sungguh ingin kembali. Menyusuri gelap yang ia cipta, menerangkan segala isi syair yang membuatku sedikit berarti. Oh Tuhan, sampaikan padanya aku ingin kembali, aku ingin pulang segera, menjamunya dengan sepotong senyuman yang sama, yang pernah ia terima sore itu.
Laki-laki yang kini selalu menjelma bagai pemain horror itu, membuat aku gelisah sepanjang September, sepanjang hari-hari di bulan Oktober pun mungkin masih akan aku rasakan. Aku gelisah, berjalan bukan dengan kehendakku. Mengitari kota-kota lain bukan dengan kerianganku. Aku hanya mengikuti arus yang sengaja orang lain ciptakan untukku, untuk kesenanganku, tanpa melihat apakah aku sudah sanggup meninggalkan dermaga yang lama atau aku masih terseok di tempat yang selalu mengingatkan aku pada kedalaman matanya yang tangguh, yang memiliki banyak pusaran untuk menjebakku lebih dalam lagi mencintainya, mencintai kecintaannya pada berbatang-batang rokok yang pernah ia sodorkan padaku.
Bahuku tak lagi sekuat dulu, tak setegar ketika aku harus menampar banyak gedung yang menghalangi pertemuan kami. Aku bagai lepas landas tanpa arena yang baik. Aku lengleng dibuatnya, aku hampir menumbukkan sebagian isi kepalaku pada ratusan semut yang mengejek. Aku ingin pulang, berhenti di depan matanya, memagutkan segala yang ia kisahkan. Aku ingin kembali ke Kota itu. Ke Kota yang mengenali aku tentang lak-laki kuat yang mampu meyakinkan dirinya bahwa ia adalah orang pilihan. Laki-laki yang ingin mendengar suaraku ketika berpuisi, ketika mengisahkan tentang matanya yang tak berhenti membenturkan keinginanku untuk selalu bersamanya. Aku sungguh teramat menyayanginya, menyayangi kelemahannya, seperti juga ibu yang selalu mencintai kelemahanku ketika aku lemah ditinggalkan laki-laki yang sungguh menyita akalku, menenggelamkan bahuku yang dulu kokoh melepaskan setiap beling-beling yang menancap di ketinggian asa. Aku ingin pulang ! Ingin kembali ke Kota Baru.
***
Dan malam pun memang menyuruhku pulang. Bintang semakin menampakkan sinarnya. Perlahan, langit pun kembali cerah, setelah gerimis membuat awan menutupi indahnya. Aku tahu aku harus pulang malam ini, gerimis sudah tak lagi bisa menjadi alasan untuk aku tetap duduk di tempat itu. Mengingatkan kerinduanku yang hampir membusuk. Aku pulang, satu angkutan dengan rombongan yang baru saja selesai meneriakkan kerinduannya pada damai, pada harga-harga beras yang semakin meninggi, pada ketidakwajaran kerja pemerintah di Serang ini. Pada perhitungan-perhitungan mereka tentang tahunan yang dipakai tameng untuk tetap menegakkan dinasti yang carut marut. Aku pulang dengan kegelisahan yang bertambah, yang membuatku semakin gelap, tanpa sinar bintang yang sama aku rasa malam ini.

-S e l e s a i-

Serang, September sembab












Tidak ada komentar: