Malam ini
aku ingin pulang. Pulang ke tempat yang pernah dia janjikan. Di selaksa rimbun
hati yang selalu dia ceritakan, dia khayalkan. Aku ingin pulang ! ingin pulang
!
Dia,
laki-laki yang selalu mengulurkan tangannya ketika aku butuh. Laki-laki yang
selalu ingin membawakan aku sekuntum mawar merah, meski harus kembali ke kebun
dengan telapak tangan yang luka-luka terkena duri mawar. Dia selalu merapikan
lengan bajuku yang kusut, yang sedikit demi sedikit menanjak mendekati hampir
ke ketiakku yang selalu ingin dia endus, bagai harum mawar di kebunnya. Aku
merindukannya malam ini, hingga perasaanku tak henti inginkan pulang. Pulang
menjemput semua yang pernah dikhayalkannya. Aku rindu semua yang dia lontarkan,
yang ia simpan dalam angan dan kenangan. Mungkin saat ini, aku mulai memutar
otakku lebih ke arah yang dulu ia tunjukkan. Tuhan, bantu aku menyelesaikan
semua. Semua !
***
Di tempat
ini aku merindukan tentang dia, tentang sebagian hidupku yang hampir ia miliki.
Di sini, aku pernah menjamunya dengan sepotong senyum. Seplastik alat make-up yang baru saja aku beli di toko
swalayan samping tempat ini. Di sini ia pernah menggoda wanita berbaju
merah—sama dengan warna baju yang ia kenakan sore itu. Ia menggodanya dengan
amat lihai, membuat aku mengerutkan sedikit keningku. Mencibirnya, memukulnya
dengan kertas kado yang baru saja aku beli bersama alat make-up ku. Ia tersenyum, menggoda aku yang mulai terbakar cemburu.
“Liat tuh,
diketawain abang becak, tau! Jelek banget sih kalau lagi jealous gitu. Hahaha”
“Siapa yang
jealous? GR!”, bantahku yang
jelas-jelas memang cemburu dengan wanita di sampingku.
Setelahnya,
ia menggandengku menyusuri jalan menuju Kota Baru. Tempatnya merebahkan lelah
dan impiannya. Tempat ia menemukan semua yang harusnya ia miliki sejak kecil,
tempat ia dipisahkan dari darah-darah yang selalu merindukannya. Tempat ia
mencoba mengadukan segala resah yang ia rasa. Tempat ia dan aku dipertemukan
pertama kali, melalui darah yang menyayanginya. Tempat ia menyaksikan
kekagumanku akan suaranya yang menenangkan aku, tempat ia memberikan
janji-janji padaku lewat liriknya, lewat syair-syair yang sempat ia tulis
untukku.
Perjalanan
itu menyenangkan buatku. Aku belajar ketegaran yang ia tunjukkan. Aku belajar
mengerti keadaan yang kapan saja dapat aku rasakan. Aku mengerti, bahwa ia
sanggup menjadikan waktu musamku menjadi serupa surga yang tak pernah punya
cacat. Di hari itu, aku lakukan semua kesalahan yang membuatku rindu ingin
pulang, yang menguatkan aku ingin kembali ke Kota Baru.
Sebelum kami
tiba di rumahnya, aku menemaninya makan di warung tenda, di depan pos Indonesia
samping bank BRI Serang, depan kantor Gubernur yang
selalu saja ramai ketika pemilu akan tiba. Kantor Gubernur, yang selalu menjadi pusat tarik suara mahasiswa dan
simpatisan lainnya menyuarakan gelap yang diderita selama bertahun-tahun.
Seperti tak
ingin percaya, itulah terakhir kalinya aku menemani ia makan. Terakhir kalinya
aku merasakan bahwa ia benar-benar mencintaiku. Bahwa ia sungguh suatu hari
nanti akan menepati janji-janjinya yang selalu aku tunggu. Mungkinkah semua itu
karena salahku? Aku tak pernah tahu apa kesalahan besar yang telah aku buat
padanya. Tapi sungguh, aku teramat menyayanginya, teramat mengagumi semua yang
ia beri untukku. Aku menyayanginya, aku ingin pulang !
***
Selesai
menemaninya makan, perjalanan kami lanjutkan. Aku menggenggam lengannya yang
putih bersih, yang sempat melingkar di pundakku. Aku menengadahkan mukaku,
menyusuri kedalaman matanya yang tak pernah hilang di hatiku. Matanya, yang
memancarkan segenap keoptimisan tentang hidup. Dari matanya, aku mampu
mencintai kekanak-kanakkannya, dari matanya, aku sanggup merindu hingga kini.
Setelah berminggu-minggu ia tinggalkan aku dalam kebingungan yang teramat besar.
Aku sungguh ingin kembali. Menyusuri gelap yang ia cipta, menerangkan segala
isi syair yang membuatku sedikit berarti. Oh Tuhan, sampaikan padanya aku ingin
kembali, aku ingin pulang segera, menjamunya dengan sepotong senyuman yang
sama, yang pernah ia terima sore itu.
Laki-laki
yang kini selalu menjelma bagai pemain horror itu, membuat aku gelisah
sepanjang September, sepanjang hari-hari di bulan Oktober pun mungkin masih
akan aku rasakan. Aku gelisah, berjalan bukan dengan kehendakku. Mengitari
kota-kota lain bukan dengan kerianganku. Aku hanya mengikuti arus yang sengaja
orang lain ciptakan untukku, untuk kesenanganku, tanpa melihat apakah aku sudah
sanggup meninggalkan dermaga yang lama atau aku masih terseok di tempat yang
selalu mengingatkan aku pada kedalaman matanya yang tangguh, yang memiliki
banyak pusaran untuk menjebakku lebih dalam lagi mencintainya, mencintai
kecintaannya pada berbatang-batang rokok yang pernah ia sodorkan padaku.
Bahuku tak
lagi sekuat dulu, tak setegar ketika aku harus menampar banyak gedung yang
menghalangi pertemuan kami. Aku bagai lepas landas tanpa arena yang baik. Aku lengleng dibuatnya, aku hampir
menumbukkan sebagian isi kepalaku pada ratusan semut yang mengejek. Aku ingin
pulang, berhenti di depan matanya, memagutkan segala yang ia kisahkan. Aku
ingin kembali ke Kota itu. Ke Kota yang mengenali aku tentang lak-laki kuat
yang mampu meyakinkan dirinya bahwa ia adalah orang pilihan. Laki-laki yang
ingin mendengar suaraku ketika berpuisi, ketika mengisahkan tentang matanya
yang tak berhenti membenturkan keinginanku untuk selalu bersamanya. Aku sungguh
teramat menyayanginya, menyayangi kelemahannya, seperti juga ibu yang selalu
mencintai kelemahanku ketika aku lemah ditinggalkan laki-laki yang sungguh
menyita akalku, menenggelamkan bahuku yang dulu kokoh melepaskan setiap
beling-beling yang menancap di ketinggian asa. Aku ingin pulang ! Ingin kembali
ke Kota Baru.
***
Dan malam
pun memang menyuruhku pulang. Bintang semakin menampakkan sinarnya. Perlahan,
langit pun kembali cerah, setelah gerimis membuat awan menutupi indahnya. Aku
tahu aku harus pulang malam ini, gerimis sudah tak lagi bisa menjadi alasan
untuk aku tetap duduk di tempat itu. Mengingatkan kerinduanku yang hampir
membusuk. Aku pulang, satu angkutan dengan rombongan yang baru saja selesai
meneriakkan kerinduannya pada damai, pada harga-harga beras yang semakin
meninggi, pada ketidakwajaran kerja pemerintah di Serang ini. Pada
perhitungan-perhitungan mereka tentang tahunan yang dipakai tameng untuk tetap
menegakkan dinasti yang carut marut. Aku pulang dengan kegelisahan yang
bertambah, yang membuatku semakin gelap, tanpa sinar bintang yang sama aku rasa
malam ini.
-S e l e s a i-
Serang, September sembab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar