Kamis, 29 Desember 2011

Mengenang Wajah Nangroe Atjeh Darussalam

Suratku untuk Aceh..

Hari ini ku sampikan selendang hitam, tepat di tepi kasur tempat aku memendam semua yang kurasa, semua yang kunikmati. Hari ini juga aku memakai selendang hitamku—tanda turut mengenang kegelisahan yang teramat jelas di wajah Ibu Pertiwi.

Hidup, yaa menikmati hidupku sebagai pembaca kehidupan yang tak mengenal keberadaanku. Sepertinya akan tetap mengajariku menjadi pribadi tangguh yang belajar pada puing-puing yang tak pernah aku jamah.

Hari ini aku mengitari kota dengan ringkih haluan yang semakin aku rasa kusut. Tiba-tiba mampu mencatat kembali peringatan  tragedi Tsunami Aceh 2004. 7 tahun silam, Indonesia mengalami cacat alam yang serius. Air bandang mengurung kota Serambi Mekkah dengan titik-titik rawan ketinggian gelombang di sana sini. Hancur, turut larut bersama nyawa-nyawa yang tak kuasa menolak bencana. Kematian menikam setiap yang berjalan di garis-garis hamparan laut yang tak lagi bersahabat. Indonesia, ku persembahkan setengah tiang untuk Pertiwi-ku :’(
Ya, 7 tahun silam, dunia dikejutkan dengan berubahnya Kota Aceh menjadi Kota hening, sehening kematian. Aku pun turut menyusuri kabar itu di berita koran lokal, nasional, bahkan televisi yang tak henti-hentinya menayangkan luka baru bagi Ibu Pertiwi. Separuh raga Indonesia bagai cacat kala itu. Meronta, mengamini setiap do’a yang terbaik untuk bangkitnya Kota Serambi Mekkah.
Aku ingat, waktu itu kutuliskan satu puisi yang kemudian kuterbangkan dari ketinggian di kotaku, berharap, ‘Indonesia’ membacanya. Yaa, selalu berharap Indonesia merasa tak sendiri memikul Banda yang hancur tak terselamatkan. Bahkan mungkin, banyak kenangan yang terselip dari mereka-mereka yang menampakkan dirinya pada bencana besar itu.

Siang ini, aku mengenang tragedi Tsunami dengan menyaksikan kembali video amukan gelombang yang memecahkan Banda Aceh. Malamnya, aku pergi ke bioskop (Twenty One Cilegon City) seorang diri untuk menikmati film besutan Sony Goakhak, “Hafalan Shalat Delisa”. Cukup khusyu memperingati tragedi kelam itu di tahun ini, tidak seperti tahun-tahun yang lalu.
Film berdurasi kurang lebih 2 jam itu banyak mengajarkan aku tentang semangat yang tak kunjung selesai, tentang bagaimana kita dengan bijak menerima kehendak ALLAH SWT, bagaimana kita harus bertahan dengan keadaan yang berubah-ubah, bagaimana kita menjalani kehidupan yang mungkin saja secara cepat atau lambat akan menjadi beda atas apa yang telah lama kita lewati, dari film itu aku mengerti bahwa ikhlas mengubah sesuatu adalah kehendak Tuhan, dan aku yakin, Tuhan selalu ada untuk orang-orang yang selalu menghargai hidup dan keberadaan orang lain di sekitarnya.

Berbicara tentang Aceh..
Lepas dari bencana nasional itu, aku menempatkan Aceh khusus di hatiku akhir-akhir ini. Setelah bangkitnya kembali Ibu Pertiwi dengan senyuman yang semakin elok, kali ini aku dikejutkan dengan keterkaitan-keterkaitanku mengenai kota itu.

Jadi teringat ketika aku mengunjungi toko buku di Kotaku. Saat itu aku memegang dua buku yang sama bagusnya, dari cover, isi, pesan, dan keasyikan bahasanya. Buku satu bercerita tentang bagaimana dampak tragedi tsunami Aceh untuk mental korbannya yang juga anak-anak. Bahwa anak-anak adalah regenerasi yang harus ditata kembali mental dan kepercayaannya pada kuasa Tuhan, bahwa di buku itu terselip makna-makna hidup yang harus dijalani, bukan lagi untuk dihindari. Buku kedua berjudul I Don’t Know How She Does it (Sibuk Berat) karangan Allison Pearson. Buku itu bercerita tentang seorang ibu yang bekerja di abad ke-21 yang semuanya dianggap serba harus dan harus meski ia pada akhirnya tidak peduli dengan keadaan psikologis anak dan suaminya. Ketertarikanku akhirnya jatuh pada buku yang kedua, karena tiba-tiba aku mengingat seseorang yang pernah mengeluh segala kesahnya pada keadaan rumah yang tak begitu nyaman untuknya, meski limpahan harta banyak ia rasakan. Kata-kata ini yang akhirnya membuat aku ingin menyelami buku ‘Sibuk Berat’ itu,
”Ka, dede benci mamah ! dia itu selalu sibuk. Apa gk ada waktu sikit buat dede? Aku juga benci kaka kalau kaka udah sibuk kuliah, terus gak ngasih kabar ke dede. Kenapa sih, semua senang sekali sibuk macem itu?”
Ya, karena ketertarikanku memelajari psikologis orang lain pula yang akhirnya meninggalkan aku untuk membeli buku yang pertama. Tapi rasanya aku puas malam ini, tanpa buku itu, dengan menonton dan menikmati narasi film besutan Sony tersebut mampu membuat aku menyelami bermil-mil kedalaman psikologis di mata Nangroe Atjeh Darussalam. Terlebih, seseorang yang mengeluh padaku itu adalah gadis cilik yang meminta aku untuk menjadi kaka angkatnya, ia berasal dari Aceh. Dari sinilah, awal aku mematri Aceh pada sendi-sendi ketidaknormalanku.

Yaa, pada akhirnya, di tahun ini aku banyak mendengar tentang Aceh, aku merasa peka tentang tanggal 26, inisial ‘A’ pada mimpi di malam-malamku..entah, itu nama siapa, tentang keberadaan orang lain yang seolah mendesak aku untuk mau menjadi dirinya, meski aku tak pernah kenal siapa wanita itu. Dia seperti datang di setiap malam-malam yang membuat sekujur tubuhku dingin, merasa ada hal lain yang menyelimutiku, entah, bagaimana Tuhan menunjukkan segalanya untukku. Tapi aku yakin, ini bukan karena kebetulan semata, tapi ini adalah takdir Tuhan yang membuatnya serupa dramatisasi hidup yang harus aku jalani. Yaah, aku peka terhadap apa-apa yang aku rasa itu milikku ! Seperti yang pernah aku catat, aku ini SENSITIF, terlalu peka pada hal-hal yang sekalipun belum pernah aku tahu. Waktulah yang akan membuka semuanya, tanpa aku meminta sedikit pada Tuhan apa yang sebenarnya menyeretku pada kotak-kotak keterkaitan yang membawa aku semakin lama semakin mengerti tentang kehilangan dan pengharapan yang besar untuk kembalinya sesuatu.

Teringat kata dosen, yang juga seniorku di Komunitas menulis,”Jadi penulis itu harus siap jadi setengah nabi. Harus siap peduli dengan orang-orang di sekitarmu. Jadi penulis itu harus menjadi orang yang berjiwa sentimentiil terhadap apa yang sudah kamu lewati, yang sedang kamu jalani, dan yang akan kamu hadapi. Jadi penulis itu nikmat! Menulislah, maka kamu akan bisa menjadi SIAPAPUN dan menyelami banyak moment di hari-harimu”.

Ingin mencatat ini (dari orang-orang terdekat: psikolog pun butuh dianalisis jiwanya haha)
: ulie itu pribadi yang unik, mandiri, selalu punya solusi untuk orang lain
: bersahabat dengan air mata, tapi kuat usahanya untuk tidak mengeluarkan air mata di depan orang-orang yang menyayanginya
: ulie itu manja, bawel, suka nyanyi di mana pun, pribadi yang ceria, sensitif abis, plin plan
: kalau jalan, sukanya sendirian, ribet katanya kalau ngajak orang
: perempuan yang kadang cuek bebek, kadang juga merhatiin dirinya banget

Kesimpulan dari gue: Gue ini aneh ! hahhahahaha thanks my hero’s :))


RUANG SEPI, 26-27 Desember 2011

Tidak ada komentar: