Suratku untuk Aceh..
Hari ini ku sampikan selendang hitam, tepat di tepi
kasur tempat aku memendam semua yang kurasa, semua yang kunikmati. Hari ini
juga aku memakai selendang hitamku—tanda turut mengenang kegelisahan yang
teramat jelas di wajah Ibu Pertiwi.
Hidup, yaa menikmati hidupku sebagai pembaca kehidupan
yang tak mengenal keberadaanku. Sepertinya akan tetap mengajariku menjadi
pribadi tangguh yang belajar pada puing-puing yang tak pernah aku jamah.
Hari ini aku mengitari kota dengan ringkih haluan
yang semakin aku rasa kusut. Tiba-tiba mampu mencatat kembali peringatan tragedi Tsunami Aceh 2004. 7 tahun silam,
Indonesia mengalami cacat alam yang serius. Air bandang mengurung kota Serambi
Mekkah dengan titik-titik rawan ketinggian gelombang di sana sini. Hancur,
turut larut bersama nyawa-nyawa yang tak kuasa menolak bencana. Kematian
menikam setiap yang berjalan di garis-garis hamparan laut yang tak lagi
bersahabat. Indonesia, ku persembahkan setengah tiang untuk Pertiwi-ku :’(
Ya, 7 tahun silam, dunia dikejutkan dengan berubahnya
Kota Aceh menjadi Kota hening, sehening kematian. Aku pun turut menyusuri kabar
itu di berita koran lokal, nasional, bahkan televisi yang tak henti-hentinya
menayangkan luka baru bagi Ibu Pertiwi. Separuh raga Indonesia bagai cacat kala
itu. Meronta, mengamini setiap do’a yang terbaik untuk bangkitnya Kota Serambi
Mekkah.
Aku ingat, waktu itu kutuliskan satu puisi yang
kemudian kuterbangkan dari ketinggian di kotaku, berharap, ‘Indonesia’
membacanya. Yaa, selalu berharap Indonesia merasa tak sendiri memikul Banda
yang hancur tak terselamatkan. Bahkan mungkin, banyak kenangan yang terselip
dari mereka-mereka yang menampakkan dirinya pada bencana besar itu.
Siang ini, aku mengenang tragedi Tsunami dengan
menyaksikan kembali video amukan gelombang yang memecahkan Banda Aceh.
Malamnya, aku pergi ke bioskop (Twenty One Cilegon City) seorang diri untuk
menikmati film besutan Sony Goakhak, “Hafalan Shalat Delisa”. Cukup khusyu memperingati
tragedi kelam itu di tahun ini, tidak seperti tahun-tahun yang lalu.
Film berdurasi kurang lebih 2 jam itu banyak
mengajarkan aku tentang semangat yang tak kunjung selesai, tentang bagaimana
kita dengan bijak menerima kehendak ALLAH SWT, bagaimana kita harus bertahan
dengan keadaan yang berubah-ubah, bagaimana kita menjalani kehidupan yang
mungkin saja secara cepat atau lambat akan menjadi beda atas apa yang telah
lama kita lewati, dari film itu aku mengerti bahwa ikhlas mengubah sesuatu adalah
kehendak Tuhan, dan aku yakin, Tuhan selalu ada untuk orang-orang yang selalu
menghargai hidup dan keberadaan orang lain di sekitarnya.
Berbicara tentang Aceh..
Lepas dari bencana nasional itu, aku menempatkan Aceh
khusus di hatiku akhir-akhir ini. Setelah bangkitnya kembali Ibu Pertiwi dengan
senyuman yang semakin elok, kali ini aku dikejutkan dengan
keterkaitan-keterkaitanku mengenai kota itu.
Jadi teringat
ketika aku mengunjungi toko buku di Kotaku. Saat itu aku memegang dua buku yang
sama bagusnya, dari cover, isi, pesan, dan keasyikan bahasanya. Buku satu
bercerita tentang bagaimana dampak tragedi tsunami Aceh untuk mental korbannya
yang juga anak-anak. Bahwa anak-anak adalah regenerasi yang harus ditata
kembali mental dan kepercayaannya pada kuasa Tuhan, bahwa di buku itu terselip
makna-makna hidup yang harus dijalani, bukan lagi untuk dihindari. Buku kedua
berjudul I Don’t Know How She Does it
(Sibuk Berat) karangan Allison Pearson. Buku itu bercerita tentang seorang
ibu yang bekerja di abad ke-21 yang semuanya dianggap serba harus dan harus
meski ia pada akhirnya tidak peduli dengan keadaan psikologis anak dan suaminya.
Ketertarikanku akhirnya jatuh pada buku yang kedua, karena tiba-tiba aku
mengingat seseorang yang pernah mengeluh segala kesahnya pada keadaan rumah
yang tak begitu nyaman untuknya, meski limpahan harta banyak ia rasakan.
Kata-kata ini yang akhirnya membuat aku ingin menyelami buku ‘Sibuk Berat’ itu,
”Ka, dede benci mamah ! dia itu selalu sibuk. Apa gk
ada waktu sikit buat dede? Aku juga benci kaka kalau kaka udah sibuk kuliah, terus
gak ngasih kabar ke dede. Kenapa sih, semua senang sekali sibuk macem itu?”
Ya, karena ketertarikanku memelajari psikologis orang
lain pula yang akhirnya meninggalkan aku untuk membeli buku yang pertama. Tapi
rasanya aku puas malam ini, tanpa buku itu, dengan menonton dan menikmati
narasi film besutan Sony tersebut mampu membuat aku menyelami bermil-mil
kedalaman psikologis di mata Nangroe Atjeh Darussalam. Terlebih, seseorang yang
mengeluh padaku itu adalah gadis cilik yang meminta aku untuk menjadi kaka
angkatnya, ia berasal dari Aceh. Dari sinilah, awal aku mematri Aceh pada
sendi-sendi ketidaknormalanku.
Yaa, pada akhirnya, di tahun ini aku banyak mendengar
tentang Aceh, aku merasa peka tentang tanggal 26, inisial ‘A’ pada mimpi di
malam-malamku..entah, itu nama siapa, tentang keberadaan orang lain yang seolah
mendesak aku untuk mau menjadi dirinya, meski aku tak pernah kenal siapa wanita
itu. Dia seperti datang di setiap malam-malam yang membuat sekujur tubuhku
dingin, merasa ada hal lain yang menyelimutiku, entah, bagaimana Tuhan
menunjukkan segalanya untukku. Tapi aku yakin, ini bukan karena kebetulan
semata, tapi ini adalah takdir Tuhan yang membuatnya serupa dramatisasi hidup
yang harus aku jalani. Yaah, aku peka terhadap apa-apa yang aku rasa itu
milikku ! Seperti yang pernah aku catat, aku ini SENSITIF, terlalu peka pada
hal-hal yang sekalipun belum pernah aku tahu. Waktulah yang akan membuka
semuanya, tanpa aku meminta sedikit pada Tuhan apa yang sebenarnya menyeretku
pada kotak-kotak keterkaitan yang membawa aku semakin lama semakin mengerti
tentang kehilangan dan pengharapan yang besar untuk kembalinya sesuatu.
Teringat kata dosen, yang juga seniorku di Komunitas
menulis,”Jadi penulis itu harus siap jadi setengah nabi. Harus siap peduli
dengan orang-orang di sekitarmu. Jadi penulis itu harus menjadi orang yang
berjiwa sentimentiil terhadap apa yang sudah kamu lewati, yang sedang kamu
jalani, dan yang akan kamu hadapi. Jadi penulis itu nikmat! Menulislah, maka
kamu akan bisa menjadi SIAPAPUN dan menyelami banyak moment di hari-harimu”.
Ingin mencatat ini (dari orang-orang terdekat:
psikolog pun butuh dianalisis jiwanya haha)
: ulie itu pribadi yang unik, mandiri, selalu punya
solusi untuk orang lain
: bersahabat dengan air mata, tapi kuat usahanya
untuk tidak mengeluarkan air mata di depan orang-orang yang menyayanginya
: ulie itu manja, bawel, suka nyanyi di mana pun,
pribadi yang ceria, sensitif abis, plin plan
: kalau jalan, sukanya sendirian, ribet katanya kalau
ngajak orang
: perempuan yang kadang cuek bebek, kadang juga
merhatiin dirinya banget
Kesimpulan dari gue: Gue ini aneh ! hahhahahaha
thanks my hero’s :))
RUANG SEPI, 26-27 Desember 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar